alexametrics

Massa Pro-Kontra Bupati Pekalongan Nyaris Bentrok

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kajen – Kantor Bupati Pekalongan kembali digeruduk ratusan massa, Kamis (22/9). Bukan mahasiswa, kali ini oleh gabungan LSM dan ormas. Massa pro bupati juga hadir, tak jauh dari lokasi. Kedua kubu nyaris bentrok saat demonstrasi berakhir.

Gabungan LSM dan ormas menggelar aksi untuk mempertanyakan kinerja Bupati Pekalongan sejauh ini. Sejumlah isu yang mereka angkat di antaranya, persoalan aset Pemkab di Sapugarut yang dikuasai pihak ketiga, mangkraknya pembangunan tribun timur Stadion Widya Manggala Krida, dan dugaan jual beli kios Pasar Kedungwuni.

Tak hanya itu, dugaan diwajibkannya perangkat desa dan kades membeli seragam batik kuning juga dikemukakan. Massa juga menyoroti politisasi zakat oleh Baznas hingga persoalan Pasar Wiradesa.

Baca juga:  Jalan Banyak yang Retak, Warga Poncorejo Geruduk Balai Desa

“Banyak isu di Kabupaten Pekalongan. Ini hanya segelintir,” kata salah seorang orator.

Ia juga mengatakan ada politisasi zakat. Zakat yang dikelola Baznas, kata dia, yang dapat malah tim sukses bupati. “Itu menyalahi wewenang, hak fakir miskin dipolitisasi,” ucapnya.

Yohandi, salah seorang massa aksi mengatakan aset Pemkab di Sapugarut berupa tanah seluas 4.170 meter persegi. Kontrak perjanjiannya untuk tempat jemur mori tapi dibangun ruko.

“Statusnya lahan pertanian, tapi malah dibangun ruko. Kami minta itu dibongkar untuk menyelamatkan aset agar tak ada lagi oknum-oknum yang menguasai aset daerah,” katanya.

Massa aksi berharap ditemui oleh Bupati Fadia Arafiq. Namun Fadia berhalangan menemui. Berdasarkan informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Semarang, Fadia saat itu tengah menghadiri sebuah acara di Polda Jateng. Akhirnya massa hanya ditemui Sekda Yulian Akbar yang naik ke mobil orasi.

Baca juga:  Pasar Hewan Kebonagung Tutup, Pedagang Penuhi Terminal Kajen

Akbar menjawab satu per satu pertanyaan massa. Soal proyek tribun timur Stadion Widya Manggala Krida, kata dia, memang belum selesai. Pemkab akan menganggarkan untuk itu di tahun 2023.

“Soal isu jual beli kios Pasar Kedungwuni, kami sudah perintahkan dinas terkait untuk tidak ada permainan di ranah itu. Kami sudah kunci data pedagang, dan itu kami prioritaskan pedagang lama,” ujarnya.

Persoalan aset di Sapugarut, lanjut Akbar, Pemkab masih minta pendapat hukum dari Kejaksaan. “Mohon bersabar. Agar kami tidak salah langkah terkait aset di Sapugarut itu,” ucapnya.

Massa aksi berseru akan mengawal jawaban-jawaban Pemkab Pekalongan yang Akbar sampaikan itu. Mereka lantas berangsur membubarkan diri. Massa pro bupati yang bertahan di sekitar lokasi selama aksi berlangsung, tiba-tiba bergerak. Mereka bergeser ke arah jalan pulang demonstran. Suasana memanas. Namun Polres Pekalongan berhasil mengantisipasi gesekan dua kubu tersebut.

Baca juga:  Cuaca Buruk, Jalur Doro-Petungkriyono Longsor Parah

Kapolres Pekalongan AKBP Arief Fajar Satria mengatakan, kedua kubu sudah bertemu di taman sebelah masjid Al Muhtarom Kajen. Di sana, kata dia, kedua kubu sudah bersalaman dan saling berpelukan.

“Sudah terkendali. Aman. Berakhir salaman dan berpelukan,” katanya. (nra/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya