alexametrics


Bangkrut di Perantauan, Bangkit dengan Budidaya Lobster

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kajen – Bayu Firmansyah, 28, hanyalah satu dari sekian banyak orang yang ekonominya terdampak pandemi. Usaha dagang sembako di Jakarta yang ia geluti bertahun-tahun tiba-tiba bangkrut. Ia akhirnya memutuskan pulang kampung dan bangkit dengan merintis budidaya lobster.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Bayu tengah sibuk mengecek kotak eram lobster. Di kotak itulah induk lobster yang tengah mengerami telur disimpan. Bayu tampak serius dan hati-hati. Ia tak ingin induk-induk lobster itu terganggu. “Sekarang saya baru sebatas jual benih, bukan induk lobster,” kata pemuda asal Desa Kedungjaran, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan itu.

Meski begitu, usaha jual benih lobster jenis red claw yang belum lama Bayu rintis itu sudah cukup untuk modal bangkit dari kebangkrutan. Per bulan, omzetnya rata-rata memang masih di kisarab Rp 1 – 2 juta. “Omzetnya memang belum bisa menyamai usaha saya sebelumnya. Tetapi Alhamdulillah masih cukup untuk awal bangkit,” katanya optimistis.

Bayu menceritakan, ia nyaris kebingungan karena usahanya di perantauan bangkrut dan waktu kontrak kiosnya habis. Mau tak mau, ia harus pulang kampung. Beberapa waktu di kampung, ia memutar otak. Ia ingat pernah menonton video tutorial budidaya lobster dari YouTube. Ia buka kembali video itu dan mempelajarinya sampai tuntas. Akhirnya ia memutuskan banting setir ke budidaya lobster. “Saya cuma investasi Rp 1 juta. Itu untuk membeli 30 induk lobster dan biaya pembuatan satu kolam sederhana,” ucapnya.

Dari modal itu, kini Bayu sudah memiliki total 12 kolam. Terdiri atas kolam pemijahan masal, pengeraman, dan kolam benih siap jual. Kolamnya pun bukan di tempat terbuka. Bayu memanfaatkan garasi di rumahnya untuk tempat kolam. Agar tak makan tempat, Bayu membuatnya dengan cara disusun. Rata-rata berukuran 2×3 meter. Instalasi selang-selang oksigen pun ia rancang sendiri. Tak hanya itu, Bayu juga memanfaatkan keong sawah dan cacing tanah untuk tambahan nutrisi pakan lobster-lobsternya. Pakan utama tentu saja pelet udang.

Berkat kegigihannya, kini Bayu sudah memiliki ribuan benih lobster. Per ekor benih, ia jual Rp 2.500. Bayu memasarkannya lewat media sosial dan platform market place. Ia sudah memiliki pelanggan pasti di Jakarta dan daerah-daerah di Jawa Timur. Ia juga sudah menggandeng temannya di kampung untuk menjalankan bersama bisnis barunya itu. “Sekarang sudah banyak pembeli yang menanyakan induk lobster. Mungkin nanti kami akan segera jual induk juga untuk rumah-rumah makan,” ucapnya. (nra/ton)

 

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya