alexametrics

Tak Mau Terjebak Istilah 100 Hari Kerja

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kajen – Bupati dan Wakil Bupati Pekalongan Fadia Arafiq – Riswadi tak mau terjebak dengan istilah “100 hari kerja”. Mereka hanya akan fokus bekerja tanpa mempedulikan ukuran waktu tertentu. Mereka menghindari terlalu banyak memberi janji.

Fadia tak mau muluk-muluk memberi banyak janji. Sebab, itu hanya akan mengganggu fokusnya merealisasikan program-program prioritas dan mendesak. “Bagi saya tidak ada istilah 100 hari kerja. Yang jelas saya harus kerja cepat, kerja hebat, dan kerja cerdas. Begitu dilantik saya harus langsung start kerja,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Bahkan, lanjut Fadia, ia sudah aktif berkomunikasi dengan OPD-OPD sejak sebelum dilantik. Ia sudah memetakan sektor mana saja yang perlu diprioritaskan untuk digenjot. “Saya tidak peduli dengan ukuran interval waktu. Kalau bisa sebelum 100 hari mengapa tidak,” kata Fadia.

Baca juga:  Bertamu, Dua Emak-Emak Gasak Harta Tuan Rumah

Senada juga diungkapkan Wakil Bupati Pekalongan Riswadi. Ia mengatakan, 100 hari kerja seolah-olah menjadi ukuran. Namun, menurut dia, itu tidak akan pihaknya pusingkan. “Kami mau fokus kerja saja. Tidak mau pusing dengan ukuran 100 hari,” ucapnya.

Apalagi, saat ini situasi sedang pandemi. Ia tahu akan banyak refocusing anggaran, sedangkan kegiatan tatap muka dibatasi. Menurutnya, itu yang terkadang tidak diperhatikan orang saat menentukan ukuran dan penilaian.

“Apalagi kami mulai kerja bulan Juni. Ini APBD sudah berjalan separo. Maka kami baru bisa menggeber yang benar-benar program kami ya pada tahun 2022. Jadi kami tidak mau dibuyarkan dengan 100 hari kerja,” jelasnya. (nra/ton) 

Baca juga:  Ditinggal Pergi, Kios di Pasar Karanganyar Terbakar

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya