alexametrics


Ternyata Ini Asal Usul Nama Desa Pacar di Kabupaten Pekalongan

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID, Kajen – Salah satu nama desa unik lainnya adalah Desa Pacar yang terletak di Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan. Lokasinya sangat strategis. Ujung utara desa ini (bibir desa) berbatasan langsung dengan Jalan Raya Pantura. Balai desanya juga tak jauh dari Pantura. Kurang lebih hanya 500 meter ke arah selatan. Bersebelahan dengan Kantor Kecamatan Tirto. Karena itu Desa Pacar disebut sebagai pusat pemerintahan Kecamatan Tirto.

Warga setempat tidak mengetahui secara pasti mengapa desa ini dinamai Pacar. Anekdot yang berkembang dari mulut ke mulut malah mengatakan nama tersebut muncul karena desa pacar dahulu sering dijadikan lokasi berpacaran. Sesepuh desa meluruskan, nama Pacar dipakai karena desa itu dahulu pernah dirimbuni tanaman pacar.

Meski secara resmi bernama Desa Pacar, namun desa ini lebih dikenal dengan sebutan Sepacar. Kepala Desa Pacar Mulyono mengatakan, banyak orang sering salah menuliskan alamat ketika mengirim surat atau undangan. “Orang seringnya nulis, misalnya kepada ‘A’ di ‘Desa Sepacar’. Seperti itu,” katanya.

Ia juga sering menjumpai orang menanyakan alamat. Hampir semuanya, kata dia, menyebut “Desa Sepacar” alih-alih “Desa Pacar”. “Saya sering kasih pengertian. Tetapi ya tidak dipungkiri juga, orang sudah kadung mengenalnya demikian,” tambah Mulyono.

Warga setempat, apalagi genarasi muda, tak tahu asal-usul nama Desa Pacar. Mereka sering terjebak anekdot atau guyonan masyarakat yang mengatakan nama itu dipakai karena dahulu Desa Pacar sering menjadi lokasi pacaran. Seperti yang diungkapkan Muhammad Rifa’i, 26, warga Desa Pacar gang 1. “Ya, mungkin karena dahulunya banyak orang pacaran di desa ini,” ujarnya.

Cerita berbeda diutarakan Mirza Kholik. Ia adalah putra sesepuh desa Muhammad Sahir Umar (almarhum). Menurut Mirza, berdasarkan cerita dari ayahnya, nama Desa Pacar muncul karena dahulu wilayah desa itu dirimbuni tanaman pacar. Tanaman itu tumbuh liar merimbuni tanah desa.

Bunga tanaman pacar, kata Mirza, dahulu digunakan orang untuk mewarnai kuku dengan cara dihaluskan. Orang Pekongan menyebutnya tanaman pitek (kuteks). “Begitu cerita dari bapak yang juga dapat dari kakek- nenek saya. Sepertinya benar karena bapak saya sejak kecil di sini dan meninggal di sini juga pada usia 77 tahun,” jelas pria yang juga Anggota DPRD Kabupaten Pekalongan ini.

Meski demikian, lanjut Mirza, menurut bapaknya tanaman itu makin lama makin hilang. Seiring banyaknya permukiman warga. “Bapak pernah bilang waktu dia seusia SD sudah jarang melihat tanaman itu,” tambahnya. (nra/bas)

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer