alexametrics

Begini Penampakan Koin Kuno yang Ditemukan Warga di Sawah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kajen – Dahri Rahmanto, 60, menemukan sebongkah benda kuno saat mencangkul di sawah. Di dalam bongkahan wadah itu terdapat 1.997 keping koin kuno. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Tengah menduga itu merupakan mata uang yang eksis pada abad ke-13 atau 14.

Kemarin (7/1/2021), Jawa Pos Radar Semarang mendatangi rumah Dahri Rahmanto di Dukuh Leles RT 18 RW 08, Desa Windurojo, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan. Ia mengaku, bongkahan wadah dari bahan perunggu itu ditemukan saat mencangkul sawahnya pada akhir Desember 2020 lalu. Di dalamnya terdapat ribuan koin, rantai perunggu dengan panjang 144 cm dan berat 1,5 kg , serta bokor dari perunggu seberat 1,8 kg.

Ia menyebut, semua benda itu ditemukan di dalam tanah sedalam kurang dari satu meter. Lokasi sawah tak jauh dari rumahnya. Hanya 10 menit berjalan kaki.  “Mungkin awalnya tidak pecah, tapi kena cangkul jadi pecah. Ternyata di dalamnya ada ratusan koin itu,” jelasnya.

Baca juga:  Pemkab Sediakan IPAL Simbang Kulon Larang Pengusaha Batik Buang Limbah ke Sungai

Ia lantas memasukkan temuannya itu ke dalam karung, dan membawanya pulang. Penemuannya itu kemudian diketahui oleh warga. Karena kebingungan, warga kemudian melaporkan ke pihak desa. Kabar itu sampai ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Pekalongan dan BPCB Provinsi Jawa Tengah.  “Saya tak berani apa-apa. Hanya saya simpan. Karena tahu ini benda kuno,” ungkapnya.

Kemarin, BPCB Provinisi Jateng meninjau benda temuan Dahri itu. Mereka melakukan pengecekan dan menganalisa komposisi unsur bahan benda itu menggunakan alat X-Ray Fluoresence atau XRF.  “Semua benda cenderung dominan berbahan perunggu. Ada satu fragmen benda yang berbahan tembaga,” kata Pamong Budaya Ahli Muda BPCB Provinsi Jateng Muhammad Junawan.

Baca juga:  Formasi Desak Pasar Kedungwuni Segera Ditempati

Ia menjelaskan, belum diketahui secara pasti kegunaan wadah berbahan perunggu yang telah pecah itu. Namun pihaknya menduga wadah berupa bokor itu digunakan untuk menyimpan benda-benda penting dalam keperluan sehari-hari. “Karena memang pada masa itu ada semacam budaya menyimpan benda-benda berharga. Dari keterangan Pak Dahri juga, semua benda itu ditemukan di dalam wadah tersebut,” jelasnya.

Pihaknya belum berani menyimpulkan kegunaan rantai kuno itu. “Mungkin untuk rantai lampu minyak,” duganya.

Sementara koin itu, lanjut Junawan, jelas merupakan mata uang untuk transaksi. Koin itu dikenal dengan sebutan ‘Kepeng Cina’. Dari pengamatan koran ini, memang terdapat aksara Cina di dua sisi koin tersebut.

Menurutnya, berdasarkan catatan-catatan sejarah, mata uang mulai dikenal pada abad ke-8. Mulai eksis pada abad ke-13 atau 14. Sedangkan bokor berbahan perunggu itu bisa jadi berusia lebih tua. “Ditinjau dari bahannya, koin yang ditemukan Pak Dahri ini sepertinya mata uang abad ke-13,” katanya.

Baca juga:  Komunikasi Intens, Kunci Keberhasilan Kepemimpinan

Junawan mengungkapkan, penemuan benda serupa pernah terjadi di beberapa daerah lain. Di antaranya, Rembang, Klaten, dan Boyolali.  “Di Klaten malah populasi kepeng Cina ini sangat banyak,” ujarnya.

Ia menambahkan, koin serupa bisa ditemukan baik di daerah pesisir maupun dataran tinggi. Tidak ada lokasi khusus persebarannya.  “Selama ini yang kami jumpai memang sporadis. Sepertinya selama di tempat itu dahulu pernah ada permukiman, maka ada mata uang,” ungkapnya.

BPCB Provinsi Jateng akan membawa sampel benda-benda itu untuk pengkajian dan penelitian lebih lanjut. Tim Pengkaji Cagar Budaya akan menentukan benda itu sebagai cagar budaya atau bukan.  “Tadi baru pengecekan unsur bahan. Nanti akan kami kaji lebih dalam,” tutup Junawan. (nra/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya