Sepuluh Desa Rawan Banjir

244

RADARSEMARANG.ID, KAJEN – Menindaklanjuti perintah Gubernur Jateng, untuk meningkatkan kewaspadaan bencana banjir, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi mengecek langsung ke lapangan wilayah yang rawan banjir terutama di desa – desa yang ada di Kecamatan Tirto, Siwalan, Wonokerto dan Wiradesa.

Bupati Asip kemarin langsung melihat kondisi di Desa Pacar, Desa Tegaldowo, Desa Mulyorejo dan Desa Jeruksari yang kondisi wilayahnya mulai terendam banjir. Menurutnya ketika musim hujan, ada sepuluh desa yang selama ini selalu menjadi langganan banjir.

Sehingga, Pemerintah Kabupaten Pekalongan sedang membuat rekayasa, agar desa – desa tersebut, termasuk Desa Pacar tidak menjadi langganan banjir. “Desa Pacar yang ada di Kecamatan Tirto, dan berada di dekat Pantura berpotensi banjir, akibat dari meluapnya Sungai Miduri yang mendapatkan kiriman airdari wilayah atas. Apalagi, intensitas hujan di Kabupaten Pekalongan meningkat. Oleh karena itu, kami ingin melihat kondisi di desa ini,” ungkap Bupati Asip.

Bupati Asip juga mengatakan daya tampung Sungai Miduri ketika musim hujan sudah over, kemudian pembuangan dari desa-desa sekitar juga mempengaruhi akan banjir. Oleh karenanya, Pemda membutuhkan treatment khusus untuk menangani bencana banjir ini.

Menurutnya kondisi saat ini di Kabupaten Pekalongan masih aman, meski ada beberapa desa yang mengalami banjir, namun air masih langsung surut. Bahkan pada saat mengecek tanggul dan pompa penyedot air sudah befungsi dengan baik, sehingga aliran banjir bisa langsung teratasi.

“Memang ada genangan air tapi tidak tinggi seperti tahun 2019. Walaupun ada banjir tapi sedikit, ini menjadi konsen Pemerintah untuk menanggulanginya. Mudah-mudahan tahun ini Kabupaten Pekalongan sudah tidak terkena banjir lagi,” kata Bupati Asip.

Sementara itu, Imron Perangkat Desa Pacar menjelaskan ada 62 rumah yang menjadi korban banjir yang selalu dialami setiap tahunnya, bahkan genangan airnya cukup tinggi yakni sekitar 30 sentimeter. Banjir tersebut, lebih disebabkan karena curah hujan di Kabupaten Pekalongan yang tinggi.

“Kondisi saat ini warga resah dan terganggu aktifitasnya. Bahkan untuk makan dan minum warga membeli. Kemudian, rata-rata ketinggian air di dalam rumah mencapai 40 cm. Warga berharap ada penambahan pompa untuk mengurangi debit air, karena pompa yang dimiliki saat ini kondisinya rusak,” jelas Imron. (thd/bas)