alexametrics

Gus Mus Wejangi Para Penghafal Alquran Agar Bisa Berperilaku Qurani

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Demak – Masih banyaknya perilaku yang tidak sesuai dengan nilai nilai Alquran membuat prihatin KH Mustofa Bisri (Gus Mus). Karena itu, Gus Mus memberikan nasehat agar para penghafal Alquran bisa berperilaku Qurani. Menurutnya, para penghafal Alquran juga harus bisa belajar memahami makna sekaligus mengamalkan Alquran tersebut.

Hal ini disampaikan Gus Mus di sela memberikan tausiyah dalam Haul Simbah KH Abdullah Zaini yang ke-70 di Ponpes Al Fattah Kota Demak. “Dulu, kalau mau belajar perilaku Qurani ya bisa mencontoh para kiai, diantaranya Kiai Zaini ini. Karena itu, haul ini mengingatkan saya saat mulai mondok di Al Fattah pada tahun 1952. Saya mulai sinau (belajar) sejak SD disini,”katanya. Gus Mus bercerita, saat awal mondok layaknya masih anak anak, ia pun kerap ambil telur bebek Kiai Zaini dan biasa mancing ikan di kolam pondok.

“Saya dulu ngaji langsung dengan Kiai Zaini kitab Alfiyah Ibnu Malik sehabis subuh. Iseh cilik ngaji Alifiyah di geladak pondok. Bismillahirrahmanirrahim niat ngaji. Tapi sekanjutnya tidur. Ya karena masih kecil. Anak anak. Kiai Zaini sering membangunkan saya. Di waktu lain yang membangunkan saya justru orang banyak. Ternyata Kiai Zaini sampun kapundut (wafat). Sedo (meninggal) saat Ramadan,”ungkap Gus Mus menceritakan saat mondok di Ponpes Al Fattah yang kini diasuh KH Cholil Arief ini.

Baca juga:  Petakan Daerah Rawan Banjir di Demak

Menurutnya, belajar dari wafatnya Kiai Zaini itu, maka orang biasanya akan meninggal sesuai dengan kebiasaannya. Kiai Abdullah Zaini adalah kiai internasional yang patut diteladani. “Maka, mari kita biasakan hidup yang baik supaya kalau pas mati dalam kondisi yang baik. Jangan sampai mati pas misuhi orang atau pas mbanting kartu (judi),”ingatnya.

Gus Mus lebih lanjut menyampaikan, di Indonesia dari sekian juta penduduknya yang beragama Islam jika dilakukan penelitian barangkali banyak yang hafal Alquran. Meski demikian, belum tentu banyak yang bisa memahami arti dan mengamalkan Alquran. “Coba lakukan penelitian. Berapa yang hafal, berapa yang memahami makna dan berapa yang mengamalkan Alquran. Yang mengamalkan mbuh ono mbuh ora. Kalau di medsos fitnah sana sini mesti gak moco lan ngamalke Alquran,”katanya.

Karena itu, Gus Mus meminta tolong pada ustadz yang paham makna Alquran bisa mengajari saudaranya yang tidak paham Alquran. “Kalau di zaman Kanjeng Nabi Muhammad SAW, beliau ibaratnya adalah Alquran berjalan. Kalau mau melihat bagaimana cara berperilaku dengan tetangga maka bisa lihat perilaku Kanjeng Nabi secara langsung. Kanjeng Nabi itu meseman. Kalau kita tahu mesemnya (senyumnya) Kanjeng Nabi saja hati bisa adem. Senyumnya bisa dilihat dari raut muka atau wajah beliau yang berseri seri (penuh rasa damai). Karena itu, kita prihatin jika ada orang yang tidak bisa senyum ,”ujarnya.

Baca juga:  Kedepankan Harmoni, Tidak Perlu Statemen di Ruang Publik

“Sekali lagi. Dulu itu jika tidak bisa baca Alquran ya tinggal melihat perilakunya para kiai (pewaris nabi). Dulu, ulama bisa jadi kaca benggala. Bisa jadi panutan,”katanya. Dalam kesempatan itu, Gus Mus juga memberikan nasehat penting bagi para pejabat. Menurutnya, bupati bisa dikatakan sebagai orang yang saleh bisa dilihat dari keadilan yang diterapkan dalam kebijakannya.

“Bupati ya tidak pas kalau kerjanya manakiban terus. Kesalehan bupati bisa dilihat dari keadilan yang dirasakan masyarakat. Demikian juga pak polisi atau tentara ya kesalehannya bisa dilihat dari tugas yang diembannya. Jadi, kesalehan bupati dengan yang lain itu tidak sama. La kalau ada kiai sobo ke pendopo ya juga tidak pas. Opo meh melu tender proyek? Jadi, semua itu sesuai tugas pokoknya,”ujarnya.

Baca juga:  Gus Bad Siap Bangun Mentalitas Pendidikan

Menurut Gus Mus, banyak tokoh agama sekarang ini jika dilihat dari Alquran banyak yang tidak cocok. Mestinya, Alquran menjadi pedoman hidup dan bukan menjadi tunggangan politik. “Seperti seorang da’i itu. Sebelum mengajak orang lain ya harus melihat diri sendiri,”kata Gus Mus.

Sementara itu, Ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Demak, KH Muhamad Asyiq dalam sambutannya menyampaikan, perkembangan Ponpes Al Fattah terbilang pesat. Para santri kini bisa nyantri sembari belajar kitab kuning sekaligus sekolah umum.

“Dulu, setiap haul, selalu hadir Kiai Bisri Mustofa. Sekarang, yang rawuh Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus),”ujar Kiai Asyiq selaku perwakilan dari keluarga besar Ponpes Al Fattah.

Dalam haul KH Zaini ke-70 ini, Ponpes Al Fattah juga mewisuda sebanyak 82 khotimin khotimat. Mereka khatam Alquran baik bil hifdzhi maupun bin nadlor. Para wisudawan berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Bupati Demak dr Eistianah menyampaikan rasa terimakasihnya pada Ponpes Al Fattah. Sebab, mondok di pesantren tersebut banyak berkahnya.

“Saya sendiri alumni Al Fattah. Dan, Pak Wakil Bupati (KH Ali Makhsun) juga alumni. Terlebih, Bapak KH Asyiq yang dulu pernah menjabat wakil bupati juga alumni Al Fattah,”katanya. (hib/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya