alexametrics

Idul Fitri Mengajarkan Tentang Kejujuran, Rasa Bersyukur dan Saling Memaafkan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, DemakLebaran Idul Fitri yang berlangsung tiap tahun sekali memberikan cerminan hikmah yang mendalam. Ini sebagaimana yang disampaikan KH Halimi Mustain, Lc, pengasuh Ponpes Manba’ul Quran. Menurutnya, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari Idul Fitri.

“Andaikan semua mau mengakui salahnya (tiap Idul Fitri), niscaya tidak akan ada (sidang) pengadilan. Tapi (yang terjadi) selama ini adalah (banyak yang terpaksa atau lebih suka mengakui salah) jika sedang dalam sidang pengadilan,”ujarnya.

Karena itu, kata Kiai Halimi, bagi orang yang menyadari pentingnya pengakuan salah tentu akan dilakukan tidak lama saat berbuat kekeliruan.

Kiai Halimi juga menyampaikan, bahwa Idul Fitri juga memberikan makna tentang pentingnya rasa syukur atas nikmat yang telah dianugerahkan Allah SWT. Sebagai contoh, seorang waliyullah, meskipun dianugerahi kekayaan maka dia tidak merasa ikut memiliki. Sebab, apa yang dimiliki adalah milik Allah.

“Maka, terimalah apa yang sudah diberikan oleh Allah SWT. Kuncinya adalah mau bersyukur. Sehingga tidak ada rasa iri dan dengki,”ujarmya.

Kiai Halimi juga memberikan tamsil atau kisah soal pentingnya mengutamakan rasa syukur itu. Saat zaman Nabi Musa AS, ada
sepasang suami isteri yang ditakdir Allah separuh hidupnya akan diberikan kekayaan (sugih) dan sebagian hidupnya lagi akan ditakdirkan menderita kemiskinan.

Baca juga:  Residivis Incar Motor yang Diparkir Tanpa Tukang Parkir

“Separuh umur sugih separuh kere. Lalu, umat Nabi Musa ini disuruh memilih. Kaya dulu atau miskin dulu,”ujarnya. Maka, sang suami meminta sang istri untuk memilih. Si isteri pun lebih memilih diberikan kekayaan dulu setelah itu tidak persoalan jika diberikan kemiskinan sebagaimana yang ditakdirkan. Mengapa lebih memilih kaya dulu?

Sebab, kekayaannya itu akan dapat digunakan untuk bersedekah dan membantu orang lain. Apalagi, masih usia muda sehingga banyak hal yang dapat dilakukan untuk beribadah. Sedangkan, bila memilih miskin dulu, khawatir tidak bisa bersedekah dan membantu orang lain. Sebah, usia kalau sudah tua khawatir tidak seproduktif saat muda.

Dalam perkembangannya, Allah pun mengabulkan suami isteri itu agar diberikan kekayaan dulu. Kekayaan itupun digunakan untuk bersedekah dan membantu orang lain sebagaimana yang dicita-citakan.

“Ternyata, amal sedekah yang dijalankan justru makin menambah pundi pundi kekayaannya. Bahkan, lebih dari separuh hidupnya makin kaya. Dan, kemiskinan yang ditunggu tunggu saat usia tua ternyata tidak terjadi. Disinilah, apa yang ditakdirkan separuh hidup suami istri dengan kondisi miskin tidak berlaku lagi karena orang itu mau bersyukur dan beramal atas harta kekayaannya. Allah pun tidak jadi menakdirkan miskin bagi mereka untuk separuh hidupnya. Inilah pentingnya makna bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah,”ujarnya.

Baca juga:  Bupati Eistianah Salat Id di Masjid Agung Demak

Kiai Halimi menambahkan, orang yang pandai bersyukur akan menyadari bahwa kekayaan yang diberikan Allah sebagian diantaranya ada hak orang miskin, anak yatim dan lainnya. Bahwa, harta itu tidak miliknya sendiri tapi ada milik orang lain yang berhak dan membutuhkan. Maka, sedekah untuk orang lain itu wajib ditunaikan. Kalau tidak ditunaikan bisa haram.

“Ini nyata. Siapa yang bersyukur akan ditambahi nikmat. Tambah terus. Terbukti dari kisah umat Nabi Musa itu, awalnya ditakdir separuh sugih dan separuh kere (miskin). Tapi, karena tetap bersyukur, maka tetap diberi sugih. Tidak jadi kere. Maka, kita jadi umat Nabi Muhamad yang pandai bersyukur,”katanya.

Selain diminta untuk selalu bersyukur, pelajaran lain yang perlu diketahui adalah bahwa orang yang dapat ampunan atas segala dosa adalah sesuai yang dikehendaki Allah.

Baca juga:  Dinpermades Gelar Penilaian Lomba Desa di Purwosari Kecamatan Sayung

” Maka, rawatlah nilai nilai yang diajarkan selama puasa Ramadan. Puasa Ramadan menumbuhkan rasa kasih sayang. Hati iklhas dan ridlo dalam menjalankan kebaikan semata karena Allah,”jelasnya.

Menurut Kiai Halimi, ibadah yang paling sulit diketahui orang lain adalah puasa. Ini berbeda dengan ibadah haji. Banyak orang yang akan mengetahui bahwa seseorang sedang berhaji. Yang lebih mengetahui seseorang berpuasa hanyalah Allah.

“Semoga Allah menerima puasa Ramadan kita,”katanya. Setelah Ramadan juga ada halal bi halal. Ini artinya, orang yang telah berpuasa akan kembali ke fitrahnya. Saling memaafkan dan menghalalkan.

Adanya tradisi halal bi halal atau saling berkunjung dan silaturahmi ini menunjukkan bahwa, orang tidak bisa hidup sendirian dan tetap membutuhkan orang lain. Silaturahmi juga menambah rejeki dan panjang umur.

“Hidup bersama orang lain di masyarakat biasanya akan mudah menimbulkan rasa salah paham dan gesekan. Maka, halal bi halal atau saling memaafkan itu sebuah keniscayaan. Dengan demikian, hubungan sesama akan kembali baik, normal dan tidak punya dosa lagi. Kembali fitrah atau suci,”katanya. (hib/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya