alexametrics

Bangun Peradaban NU dengan Kemandirian Ekonomi Pesantren

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Demak – Membangun kemajuan Nahdlatul Ulama (NU) bisa dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya, dengan menguatkan kemandirian ekonomi pesantren. Hal ini mengemuka dalam seminar pesantren entrepreneur yang digelar Himpunan Pengusaha Nahdliyyin (HPN) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Ponpes Al Fattah, Kota Demak yang diasuh KH Arief Cholil.

Seminar yang mengusung tema peran LPS dan pesantren dalam membangun optimisme pemulihan ekonomi pasca pandemi ini dihadiri sejumlah narasumber. Yaitu, Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Drs H Fathan Subchi, Plt Direktur Group Pelaksanaan Resolusi Bank LPS, Yanuar Ayub Falahi, Dosen IAIN Kudus, Waffada Arief Najiyya, dan Dewan Pembina HPN Demak, Zayinul Fata.

Adapun, peserta seminar adalah para kiai dan gus yang tergabung dalam Rabitah Ma’ahid Islamiyah (RMI) atau organisasi pondok pesantren se Kabupaten Demak.

Wakil Ketua Komisi XI, Fathan Subchi mengapresiasi giat seminar pesantren entrepreneur yang digagas HPN Demak tersebut. “Pesantren memang harus berdaya secara ekonomi,”ujarnya. Karena itu, pihaknya mendorong sepenuhnya agar ekonomi pesantren dapat terus tumbuh seiring juga makin banyaknya santri santri yang menggeluti dunia bisnis atau jadi pengusaha. Maka, secara keilmuan, entrepreneurship juga perlu dikembangkan di pesantren.

Baca juga:  Bawaslu Demak Temukan PPDP Belum Lakukan Coklit

Dewan Pembina HPN Demak, Zayinul Fata mengungkapkan, memang perlu adanya persepsi yang sama dalam membangun NU dengan penguatan ekonomi pesantren. “Jika memungkinkan, perlu adanya lembaga penjamin pesantren sehingga proses pembangunan di pesantren dapat berjalan lancar,”katanya.

Menggali ekonomi pesantren, kata dia, dapat meningkatkan semangat pengabdian dalam membangun peradaban NU yang lebih berkemajuan. “Perlu kami yakinkan kembali, bahwa perjalanan NU hampir satu abad. Karena itu, kami mengajak poro kiai dan gus gus untuk menguatkan lagi tajdidun niyat an nahdlah, utamanya dalam memperbaharui langkah ber-NU,”katanya.

Dalam ber-NU, kata Zayinul Fata, selain harus selalu memperbaiki manhaj (metode jalan yang ditempuh) juga perlu semangat dalam berjihad dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada. Ini sesuai dengan semangat kaidah dalam NU, yakni, al muhafadlatu ala qodimis solih wal akhdzu bil jadidil aslah. Artinya, memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik.

“Jika merawat tradisi keilmuan pesantren itu menjadi urusan RMI. Maka, yang jadidil aslah itu urusan Pak Fathan (selaku anggota DPR yang concern pada urusan ekonomi). Disinilah pentingnya membangun konsepsi seratus tahun NU dengan menyempurnakan al muhafadlatu ala qodimis solih tadi. Misalnya, dengan program pesantren entrepreneur ini,”katanya.

Baca juga:  Bawa Kabur Gadis di Bawah Umur, Minta Tebusan Rp 10 Juta

Menurutnya, itu semua telah menjadi tugas para kader NU. Karena itu, selain merawat keilmuan NU, juga harus ada inovasi dalam membangun NU berkemajuan melalui kemandirian ekonomi pesantren. “Satu sisi, pesantren itu (tempat) yang mulia dalam pengembangan keilmuan keagamaan. Namun, sisi lain ekonomi pesantren juga harus diperkuat dan jangan sampai memprihatinkan. Sebab, pesantren adalah kunci dalam membangun peradaban,”kata dia.

Dosen IAIN Kudus, Waffada Arief Najiyya mengemukakan, di era sekarang ini, santri perlu diajari bisnis. “Santri tidak hanya dibekali dengan utawi iki iku (membaca kitab kuning) saja. Tapi, santri juga harus punya keterampilan (skill),”kata putra Kiai Arief Cholil ini.

Menurutnya, era industri 4.0 semua aktifitas ditandai dengan digitalisasi. Karena itu, kata dia, santri harus melek digital. “Maka pola lama, bahwa santri tidak boleh bawa HP itu perlu dikaji ulang. Sebab, HP sudah jadi barang rukun. Mestinya, santri boleh bawa HP, laptop dan lainnya meski tetap ada mudlaratnya,”jelasnya.

Baca juga:  Gus Ami Disambati Kelangkaan Pupuk

Dia mengatakan, para gamers bisa menghasilkan sekian juta dibandingkan dengan guru madrasah diniyyah (Madin) yang sebulan hanya dapat penghasilan sedikit. “Maka, perlu adaptasi dengan kondisi. Sekarang ini ada yang namanya e money, saham dan lain sebagainya dalam pengembangan ekonomi. Disinilah, santri perlu mengembangkan ekonomi kreatif,”katanya.

Dia menambahkan, dari sejarahnya, Islam sendiri lekat dengan logika bisnis. Maka, santri harus bisa berbisnis. “Santri harus sugih (kaya). Ayat Alquran yang membahas teologi ke Tuhanan itu tidak sampai 10 persen. Sisanya itu membahas muamalat (urusan ekonomi), akad, dan lainnya. Betapa pentingnya masalah muamalat ini. Alquran juga menyeimbangkan antara spiritualitas dan sosial,”katanya.

Disisi lain, Yanuar Ayub Falahi dari LPS mengatakan, pesantren diakui memiliki peran penting dalam pengembangan ekonomi, utamanya dalam dunia perbankan syariah. “Saat ini, porsi bank syariah masih kecil. Maka, peran pesantren dalam pengembangan bank syariah ini sangat penting,”katanya. Karenna itu, pihaknya juga mengapresiasi adanya seminar entrepreneur di pesantren tersebut. (hib/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya