alexametrics

Belajar Ngedit dari Teman Dipenjara, Begini Pengakuan Nasirun, Otak Sindikat Uang Palsu Demak

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Demak – Otak sindikat uang palsu (upal), Nasirun, mengaku mahir melakukan pengeditan karena pernag belajar dari temannya saat masih dipenjara dulu. Nasirun sebelum tersangkut kasus pembunuhan balita RDW dan pembuatan upal ini masuk penjara gara gara kasus curanmor.

“Saya belajar (ngedit) dari teman saat di rumah tahanan (Rutan),”ujarnya saat dimintai keterangan di Mapolres Demak.

Dia menuturkan dari pembuatan upal itu total keuntungan diraup sekitar 100 jutaan. Ia mengaku itu semua hasil kerjasama yang baik antara dirinya dengan Muhamad Saerofi alias Doyok (adiknya) dan Rifqi Rosadi dan yang lainnya.

“Saya kerjasama dengan 4 orang dan 3 orang lainnya termasuk kakak saya (Wono Khoirun) selaku penjual upal,”ujarnya.

Baca juga:  Dinpermades dan BPKB Wonosalam Lakukan Giat Operasional Orientasi Tenaga Lini Lapangan

Nasirun mengatakan, ia dan tim upalnya  setidaknya telah mencetak dan mengedarkan upal sekitar Rp 618 jutaan. Sekali print bisa memproduksi 40 lembar upal. Upal sudah beredar di wilayah Demak, Kendal dan daerah sekitar.

“Saya sudah mencetak lebih dari 1 tahun. Saya sendiri kontrak di Kelurahan Mangunjiwan sudah 1,5 tahun,”kata dia.

Baca Juga: Berawal dari Kasus Pembunuhan Balita, Polres Demak Bongkar Sindikat Uang Palsu

Sebelum memproduksi upal, Nasirun sekeluar penjara akibat kasus curanmor ia bekerja sebagai nelayan. Kadang merantau dan jualan terang bulan keliling perumahan.

“Soal upal ini, yang pesan lewat FB secara inbox memang sosok orangnya tidak bisa diketahui langsung atau fiktif,”katanya.

Baca juga:  PD Muhammadiyah Demak Sediakan RS PKU untuk Rujukan Covid

Sebelum ada kejadian pembunuhan terhadap balita RDW, ia dan timnya sempat berhenti 3 hari tidak mencetak upal.  “Untuk bulan Desember ini setidaknya sudah mencetak 300 an lembar,”katanya. (hib/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya