alexametrics

273 Lahan Warga Tenggelam

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Demak – Sebanyak 273 bidang tanah milik warga musnah lantaran terendam air laut. Artinya, hilang permukaan tanahnya sehingga sulit dikenali batas. Yaitu, 47 bidang tanah di Desa Sriwulan, 113 bidang tanah di Desa Bedono dan 113 bidang tanah di Desa Purwosari.  Padahal, lokasi tersebut merupakan salah satu titik pembangunan tol Semarang-Demak.

Sekretaris Pengadaan Tanah jalan tol Semarang-Demak Sujadi mengatakan, ratusan bidang tanah yang tenggelam atau musnah masih dalam kajian tim peneliti yang dibentuk secara internal oleh Kantor Pertanahan.

Tim khusus sudah melakukan kajian terkait keberadaan tanah musnah atau tanah tergenang di tiga desa di wilayah Kecamatan Sayung.  “Tim peneliti masih bekerja. Yang pasti, akhir Desember ini sudah harus ada keputusan atau penetapan terkait tanah musnah tersebut,” katanya.

Baca juga:  Optimalkan Pengelolaan Pamsimas

Ia menambahkan, saat ini, tim masih dilapangan dan segera membuat kesimpulan yang diperlukan untuk penetapan tanah musnah tersebut. Nanti dapat diketahui bagaimana hasil kajian tim peneliti di lapangan. Tanah musnah itu nanti ada peluang untuk memperoleh dana kerahiman (tali asih) dari pemerintah. “Tapi kami masih menunggu rancangan peraturan presiden (perpres) terkait model pembayarannya,” tambahnya.

Perpres akan menjadi payung hukum dalam pelaksanaan pembayaran. Saat sosialisasi dengan warga, kita belum bisa menyampaikan berapa besarannya. Tanah musnah untuk jalan tol di wilayah Sayung Demak itu merupakan kasus pertama di Indonesia.

Meski demikian, pihaknya dengan semangat tinggi tetap melaksanakan dengan hati hati dan sesuai aturan yang berlaku. “Kalau ada protes dari warga itu hal biasa. Yang pasti, kita tidak berani melanggarn aturan,”katanya.

Baca juga:  Saluran Air di Jalan Dukuh Karangsambung Mampet, Tak Ada Penanganan

Untuk tanah musnah telah dilakukan pengecekan sertifikat maupun statusnya. Meski begitu, tim belum memegang sertifikat atau dokumen aslinya. Penanganan tanah musnah untuk tanggul laut jalan tol di tiga desa, Sriwulan, Bedono dan Purwosari berbeda dengan pembebasan tanah yang permukaannya tampak. Untuk tanah yang tampak secara fisik tentu ada proses ganti rugi.

Sedangkan, tanah yang tergenang harus ada penetapan dulu sebagai tanah musnah. Itu sesuai dengan Permen Agraria dan Tata Ruang Nomor 17 Tahun 2021 yang didalamnya mengatur soal tanah musnah.

“Dengan permen ini, maka dapat dikaji apakah tanah itu secara fisik masih bisa dimanfaatkan atau tidak. Disinilah kita bentuk tim peneliti tanah musnah,” tegasnya.

Baca juga:  PD Muhammadiyah Demak Sediakan RS PKU untuk Rujukan Covid

Tim terdiri dari kepala kantor pertanahan selaku ketua tim. Kemudian, dibantu kasi pengukuran, kasi pendaftaran tanah, kasi penetapan hak tanah, sekretaris, staf pendaftaran tanah, dan anggota. Adapun, anggota tim terdiri dari instansi terkait dari Pemkab Demak.

Baik dari unsur sekda, dinas perikanan, camat, kades dan lainnya.  “Dinas perikanan akan membantu menilai bagaimana pemanfaatan tanah musnah ini, termasuk kegunaan tambak dan lainnya,” tambahnya. (hib/fth)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya