alexametrics

Tetap Semangat Mendidik, Berharap Upah Sesuai UMR

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Demak Menjadi guru di era milenial menjadi tantangan tersendiri bagi Moh David Maulinia’am. Meski upahnya sebagai guru honorer di MTsN 4 Desa Jatisono, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak tergolong minim, namun ia tetap bersemangat menjadi guru yang menginspirasi bagi para siswa.

Tekad dan semangat David sebagai guru honorer cukup relevan jika dikaitkan dengan Hari Sumpah Pemuda saat ini. Sebagai guru yang masih berusia muda, David yang kelahiran Demak, 4 Maret 1989 ini sebelumnya telah berpengalaman dalam dunia pendidikan nonformal. Ia tercatat pernah menjadi mentor Bahasa Inggris dalam komunitas yang dibentuknya di Desa Mlatiharjo, Kecamatan Gajah.

Di Kampung Inggris besutannya itu, ia mendidik para remaja untuk belajar Bahasa Inggris dengan berbagai model pembelajaran. Termasuk belajar di alam terbuka. Itu ia jalani beberapa tahun yang kemudian ia diminta untuk ikut berbagi ilmu di MTsN 4 Demak.

Baca juga:  Tanamkan Sikap Taat Kode Etik Profesi Satpam

David pun mau mengajar di sekolah formal dengan mendasarkan atas pengalaman yang dialami selama kursus belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri sebelumnya.

“Saya dulu sempat kursus Inggris di Pare. Tapi tidak bisa menguasai dengan baik. Saya sempat menangis dan meminta kepada Allah SWT agar diberi kemudahan. Saya hampir putus asa dan pulang kampung.

Akhirnya, dengan doa orang tua saya kembali lagi ke Pare belajar lagi hingga sempat jadi guru Bahasa Inggris. Dari situlah, saya memiliki semangat untuk menjadi guru di MTs N 4,” kata suami dari Tutik Mukaromah dan ayah dari Kaysha Azalia Navid serta Azura Prabaswari Widowati ini.

Baca juga:  Yustisi Prokes Sasar Pasar Bintoro

Menurutnya, pengalaman memang diakui sangat berharga. Selaku guru honorer, ia sendiri dan umumnya guru honorer lainnya berharap ada bantuan untuk kesejahteraan guru honorer.

“Minimal sesuai atau setara dengan upah minimum regional (UMR). Syukur dari pemerintah ada program lain untuk menambah kreatifitas sekaligus penghasilan dalam rangka memberikan semangat mendidik siswa kami,” kata alumnus SDN Cangkring B3 Kecamatan Karanganyar Demak yang kemudian melanjutkan ke MTsN Kudus, SMA NU Al Ma’ruf Kudus dan Universitas Muria Kudus (UMK) ini.

David menambahkan, ia awal kali mengajar hanya bergaji Rp 300 ribu perbulan. Sekarang telah naik menjadi Rp 1.500.000 perbulan. “Ya apapun tetap kita syukuri. Bagi saya mengajar itu lebih baik karena ilmu kita bermanfaat bagi orang lain. Saya selalu motivasi anak didik agar tetap semangat belajar meskipun banyak tantangannya,”ujar dia. (hib/ton)

Baca juga:  Ikatan Mahasiswa Demak Cabang IAIN Kudus Ikut Dorong Kemajuan Kota Wali

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya