alexametrics

Produk Kopi Pentol Mangrove Bernilai Ekonomis, Diapresiasi Dinpermades P2KB

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Demak – Pelatihan pembuatan kopi pentol dari mangrove di Kampung Keluarga Berencana (KB) Desa Bedono, kecamatan Sayung menarik diikuti. Kegiatan praktikal ini membuat peserta antusias mengikutinya. Mulai dari pengupasan buah mangrove (rizhopora), pencucian, perendaman dengan abu, kemudian penjemuran hingga proses sangria selama 15 hingga 20 menit.

Lalu, dilanjutkan dengan penggilingan, penghalusan dengan blender sampai menjadi bubuk. Proses berikutnya adalah ditimbang dan disaring dan dicampur dengan bubuk kopi robusta. Pencampuran dengan perbandingan 1:1.

Penjelasan materi pelatihan disampaikan oleh narasumber, yaitu Ketua Kelompok Arjuna Berdikari, Mangkang Wetan Semarang, Ferry Agung Istiasmara beserta Presiden KeSEMat, Ghifar Naufal Aslam dar jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Undip Semarang.

Baca juga:  Serba Klenger, Pernah Bikin Bakso Seberat 55 Kg

Ferry menuampaikan, jenis kopo robusta dipilih karena dinilai cocok sebagai bahan campuran. Selain itu, proses pencampuran tersebut dilakukan juga untuk menekan biaya produksi. Dengan demikian, harga jual bersaing. Produk kopi mangrove kemasan 150 gram dijual dengan harga Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu. “Pemetikan buah mangrove ini pun dilakukan secara arif sehingga tidak mengganggu kelestarian lingkungan pohon bakau,”katanya.

Untuk menambah cita rasa bubuk kopi mangrove ini, dapat ditambahkan pula toping lainnya sesuai dengan selera. Meskipun, masih dalam proses pengujian kandungan atau proksimat, olahan kopi mangrove ini sudah dikenal dengan nama kopi malam Jumat. Sebab, khasiatnya dapat meningkatkan stamina dan vitalitas.

Baca juga:  Masjid Agung Demak Dilengkapi Klinik Kesehatan

Plt Kasi Kesertaan Pembinaan Ber-KB  Bidang KBK dan KK Dinpermades P2KB Kabupaten Demak, Bambang Prosidiantoro, SP, menambahkan, pihaknya mengapresiasi pelatihan pembuatan kopi mangrove yang dilakukan Balai Penyuluh KB (BPKB) Kecamatan Sayung. “Adanya improvisasi ini tentu menjadikan pertemuan pokja betul betul sebagai wadah yang aktif dan produktif dalam mengasah keterampilan warga,”katanya. (hib/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya