alexametrics

Syawalan hanya Doa Bersama dan Larung Sesaji

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Demak – Tradisi Syawalan di Demak tahun ini, tidak digelar seperti sebelum-sebelumnya. Pemkab melarang perayaan karena dikhawatirkan mengundang kerumunan massa. Namun larung sesaji dan doa bersama tetap dijalankan oleh warga setempat. Namun dengan keterbatasan peserta.

Peserta yang boleh ikut larungan di Pantai Morodemak, hanya 30 orang. Itupun, harus tetap patuh pada protokol kesehatan (prokes). Seperti, pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan.

Selain itu, untuk melarung ke laut Bonang, peserta hanya dibatasi menggunakan satuperahu. Yang dilarung berupa beberapa butir telur, nasi bubur, dan rempah rempah. Larung sesaji tersebut mendapatkan pengawalan ketat dari aparat gabungan.

Kapolsek Bonang AKP Margono mengatakan, pengamanan dilakukan agar prosesi larungan tetap berjalan meski dengan kemasan acara sederhana. Yaitu, gelaran tahlil dan istighotsah di tempat pelelangan ikan (TPI) Morodemak dan larungan di laut.

Baca juga:  Dirikan Rumah RJ Serap Aspirasi Warga dan Penyelesaian Perkara Hukum

Pihak terkait yang hadir hanya dari pejabat level kecamatan dan perwakilan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Demak. “Yang pasti, prokes tetap kita patuhi bersama. Selain pakai masker juga dilengkapi pelampung agar tetap aman selama larungan berlangsung,” katanya.  Menurut kaposlek, warga yang biasanya memadati area Syawalan tidak diperbolehkan.

Sementara itu, untuk menghindari kerumunan massa di area pesisir Morodemak, petugas pun melakukan penyekatan. Bahkan, kendaraan yang hendak lewat terpaksa disuruh putar balik, utamanya yang nekat hendak merayakan Syawalan. “Kita tempatkan petugas di jalan menuju Morodemak. Kita sekat jalan raya dan kendaraan harus putar balek,”ujarnya. (hib/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya