alexametrics

Angkat Eksistensi Batik Demak

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Demak – Indonesia memang terkenal akan batiknya. Bahkan, setiap daerah di penjuru nusantara memiliki batik khasnya masing-masing. Begitu pula dengan Demak. Kabupaten yang berada di pesisir pantai utara Jawa ini, memiliki lima motif batik sendiri. Motifnya unik, mempresentasikan potensi Kabupaten Demak.

Kelima motif tersebut adalah Motif Sisik, Jambing (Jambu dan Belimbing), Glagahwangi, Masjid Agung dan Lawang Bledeg. Dari semua motif, yang paling terkenal adalah motif sisik. Mempresentasikan orang pesisir yang bekerja sebagai nelayan yang lekat dengan ikan. Sayangnya, eksistensi batik Demak masih belum mampu bersaing dengan batik-batik dari daerah lain.

Hardono Budi Prasetyo, pengelola sekaligus perajin batik dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Karangmlati mengatakan, kebutuhan batik di Kabupaten Demak hanya 30 persen. Berasal dari Industri Kecil Menengah (IKM) warga asli Demak sendiri. Selebihnya dari daerah lain.

Baca juga:  Dinpermades P2KB Monitoring Penyuluh Keluarga Berencana di Kecamatan Wonosalam

Didik, sapaannya, mengaku, saat ini hanya sekitar 14 industri batik, yang masih aktif hanya 6. Mereka yang tidak aktif karena kesulitan memasarkan produknya. “Untuk pemasaran memang masih pada lingkup wilayah Demak,” terangnya.

Di samping ongkos biaya produksi yang mahal, juga harus mengambil bahan dari Solo dan Pekalongan. Kendala lainnya adalah biaya tenaga kerja. Sehingga berpengaruh pada harga jual batik yang sedikit lebih tinggi dari daerah lain.”Harga di sini memang lebih mahal, tapi untuk kualitas bisa diadu,” tandasnya.

Kondisi-kondisi seperti itulah yang membuat produksi batik Demak masih kalah bersaing dengan daerah lain. Eksistensinya perlahan pudar. Atas dasar itulah dibentuknya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Karangmlati pada 2009. Misinya memberi pelatihan membatik bagi masyarakat Kota Wali. Diharapkan dapat menumbuhkan usaha-usaha batik baru. Sehingga batik Demak bisa tetap lestari.

Baca juga:  Santuni Keluarga Petugas TPS 12 Cabean

Wartawan Jawa Pos Radar Semarang berkesempatan melihat langsung proses pembuatan batik Demak. Prosesnya seperti pembuatan batik pada umumnya. Namun Didik terkendala keadaan cuaca dan kesalahan teknis. Saat hujan, suhu yang dingin bisa memengaruhi kecerahan warna. “Kalau untuk teknis biasanya saat penguncian warna yang tidak merata,” terangnya.

Menurut Didik, motif batik setiap daerah biasanya disesuaikan dengan kepribadian warga setempat. Batik Demak sendiri, ciri khas warna pesisir menggunakan warna yang ngejreng atau terang.“Itu artinya berani, karena orang pesisir kan lebih energik dan mobilitasnya lebih tinggi,” jelas Didik.

Kendati eksistensi batik Demak masih belum terlalu terlihat, Didik bersyukur dengan kebijakan pemerintah yang mengharuskan para pegawai dan perangkat kedinasan menggunakan batik daerah.“Adanya kebijakan itu saya rasa sangat membantu mengenalkan eksistensi batik Demak pada masyarakat,” tuturnya.

Baca juga:  Singgih Setyono Jabat Plh Bupati Demak

Ke depan, Didik berharap agar batik Demak juga digunakan untuk seragam sekolah siswa di Kabupaten Demak sendiri. (cr2/zal)

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya