Pusaka Sunan Kalijaga Dijamas dengan Mata Terpejam

837
Rangkaian prosesi penjamasan di Makam Sunan Kalijaga yang dilakukan trah Kadilang (31/7/2020). (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Demak – Ada yang berbeda dengan prosesi penjamasan pusaka Sunan Kalijaga di Makam Kadilangu, Demak, kemarin (31/7/2020). Jika tahun tahun sebelumnya ada tradisi iring-iringan kereta kencana yang membawa minyak jamas dari Pendopo Kabupaten oleh jajaran pejabat Pemkab Demak, kemarin prosesi penjamasan cukup dilakukan oleh pihak keluarga atau trah Kadilangu. Bahkan, minyak jamas juga buatan sendiri.  Minyak jamas yang dibuat dari bahan bunga kenanga, kantil, bunga cendana dan minyak klentik atau minyak kelapa.

Yang istimewa, kelapa tua yang dijadikan bahan minyak jamas diambil pas hari Selasa Kliwon. Biasanya minyak jamas didatangkan dari Keraton Solo. Prosesi penjamasan pusaka keris Kiai Carubuk dan Kutang Ontokusumo tersebut juga dikawal ketat aparat kepolisian. Penjamasan dilakukan dua kelompok. Yaitu, dari pihak Panembahan dan Kasepuhan.

Pelaksana tugas penjamasan R Krisnaidi mengungkapkan, meski ada covid, penjamasan tetap dijalankan. “Hukumnya penjamasan bagi keluarga itu wajib. Ini sesuai pesan Eang Sunan Kalijaga. Nek (aku) wis sedo, rawato agemanku (pusaka keris Kiai Carubuk dan Kutang Ontokusumo),”ungkap Krisnaidi usai penjamasan.

Krisnaidi menambahkan, sebelum penjamasan, lebih dulu diawali dengan tradisi selamatan berupa doa bersama serta suguhan nasi ancakan di malam hari. Nasi ancakan adalah nasi yang didalamnya banyak lauk pauk, seperti suwiran ayam, ikan asin, rempeyek, sayuran daun papaya dan lainnya. Nasi ditaruh di atas lembaran daun pohon jati dan di bawahnya ada tatakan dari irisan kayu bambu.

Nasi dan irisan kayu bambu inilah yang nantinya jadi rebutan warga dengan harapan dapat berkah doa. Tuah berkah itu antara lain bisa dipakai untuk ngusir hama tikus di sawah dan untuk keberuntungan lainnya. Bancaan nasi ancakan biasanya digelar di luar Gedung Wijil V. Namun, karena ada pembatasan kerumunan massa, akhirnya tradisi ancakan dilakukan di dalam gedung. Setelah itu, nasi ancakan dibagikan ke warga dan saling berebut.

“Tradisi ancakan itu bentuk rasa syukur kita. Setelah penjamasan selesai kita juga bersyukur. Makan bersama dengan nasi caos dahar kesukaan Eang Sunan Kalijaga,”kata Krisnaidi.

Saat ada covid ini, panitia penjamasan juga meniadakan saling bersalam-salaman. Biasanya, usai menjamas, tangan penjamas jadi rebutan untuk dicium karena ada minyak jamasnya sekaligus ngalap berkah.

Menurutnya, prosesi penjamasan berlangsung sukses. “Alhamdulillah, penjamasan lancar. Kita bisa menjamas dan kembali memasukkan pusaka Kiai Carubuk ke warangkanya dengan pas. Saya terharu,”ujar Krisnaidi.

Dia mengungkapkan, sebagai penjamas Kiai Carubuk dan Kutang Ontukusumo, ia mampu merasakan ada yang berbeda. Tidak seperti ketika menjamasi barang-barang pusaka lainnya. “Karena saat menjamas itu dengan memejamkan mata. Maka kita hanya bisa merasakan saat ngelap-ngelap pusaka itu dengan minyak jamas. Yang penting bisa merata. Kita awali dengan mengambil pusaka Kiai Carubuk dengan dibantu juru kunci Pak Prayitno. Setelah itu, baru menjamas kutang Ontokusumo,”jelasnya. Penjamasan dengan mata terpejam agar mata tidak buta. Itu sesuai dengan pesan Sunan Kalijaga kala itu.

Penjamasan hanya butuh waktu sekitar 30 menit dengan diawali lebih dulu tahlil bersama. Usai penjamasan, rombongan yang terdiri sekitar 30 orang dengan inti penjamas 7 orang itu, kembali ke Gedung Wijil V. Di dalam gedung yang pintunya dijaga ketat petugas dan Pagar Nusa ini dilaksanakan syukuran lagi. Berupa makan bersama nasi caos dahar klangenan Sunan Kalijaga. Nasi caos dahar yang ditaruh dalam bungkus pelepah pohon pisang ini terdiri atas buah mengkudu, gereh petek, lele, sambel goreng, dan sayuran. Ada juga nasi kuning sebagai pelengkap menu lainnya.

Penjamas lainnya Edi Mursalin menambahkan, penjamasan dilaksanakan sesuai protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah. “Pada intinya, kita tetap menjaga kebhinekaan dan adat istiadat yang diwariskan leluhur kita. Karena ada covid, kita batasi personel penjamas maupun meringkas rangkaian kegiatan,”katanya.

Nasi ancakan yang dibuat biasanya sampai 500 bungkus. Namun, kini hanya disuguhkan 150 ancak. “Sebagai rasa syukur terlaksananya kegiatan penjamasan serta ngalap berkah,”ujar Edi. (hib/aro/bas)