Ngaji Online Banyak Diminati, Subscriber Hampir Tembus 3.000

Para santri senior ngaji di halaman Ponpes At Taslim sambil menyimak pembacaan kitab. (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Demak – Puasa Ramadan menjadi momentum setiap pondok pesantren (ponpes) untuk menjaga tradisi yang sudah berjalan selama ini. Di antaranya, tradisi mengaji kitab kuning dan literatur keislaman lainnya. Saat Ramadan seperti ini, para santri menyimak pembacaan kitab  untuk memperkuat dan memperluas wawasan pengetahuan keagamaan yang ada.

Di Ponpes At Taslim misalnya, beberapa santri senior maupun santri yang masih bermukim di pesantren setiap malam mengikuti pengajian kitab Bidayat Al Mujtahid Wa Nihayat Al Muqtasid karya Ibnu Rusyd Al Andalusy di kediaman kiai. Adapula, yang disiarkan online melalui kanal Youtube.

Kitab fikih perbandingan madzhab tersebut dibacakan langsung oleh Pengasuh Ponpes At Taslim, KH M Nurul Huda Lc, MA. Pengajian kitab dimulai pukul 20.00 hingga pukul 22.30. Ngaji online ini banyak diminati. Tercatat sudah ada 2.890 subscriber (penonton). Artinya, hanya kurang 110 subscriber saja sudah tembus 3 K (3 ribu penonton).

Untuk mengunjungi Ponpes At Taslim yang terletak di Jalan Kalijajar Kota Demak tersebut tidaklah sulit. Bangunan ponpes berada di seberang Pasar Bintoro sebelah timur. Berdekatan dengan Sungai Kalijajar. Dengan kendaraan roda dua maupun roda empat, bisa langsung masuk ke arael ponpes. Halamannya cukup luas. Jika berjalan dari arah Jalan Raya Pasar Bintoro, maka kendaraan bisa belok ke arah kiri lalu masuk di pelataran ponpes.

Ada beberapa bangunan yang digunakan untuk proses belajar mengajar para santri ini. Bangunan paling tua adalah rumah kayu bercat putih bercorak kuno. Itulah kediaman KH Nurul Huda yang juga tempat sehari-hari mendidik santri dengan berbagai macam kitab kuning  yang dikajinya.

Ponpes yang berperan dalam memajukan lembaga pendidikan Islam kepesantrenan tersebut didirikan pada 1986 atas inisiatif Al Mukarrom KH M Nurul Huda. Itu setelah yang bersangkutan menyelesaikan pendidikan diberbagai ponpes dan studi terakhirnya, yaitu pendidikan S2 (Pascasarjana) di Punjab University, Pakistan. Kiai Nurul Huda sendiri tercatat sebagai keluarga besar Mbah KH Ma’shoem Lasem, Rembang. Sedangkan, terkait pendirian ponpes ini, KH Sa’dullah Taslim selaku waqifnya. Di Ponpes At Taslim inipula, Kiai Nurul Huda bersama istri Ibu Nyai Muthmainnah, AH membesarkan sekaligus mengajarkan santri santrinya ilmu agama.

Saat Ramadan ini, di Ponpes At Taslim banyak santri yang pulang kampung. Meskipun banyak santri yang pulang, namun pembatasan jarak fisik (phsycal distancing) dalam menyikapi korona (covid-19) tetap diterapkan di pesantren. Dalam pantauan koran ini, beberapa santri saat mengaji juga mengenakan masker.  “Kami tetap mengikuti ketentuan pemerintah terkait dengan pensikapan terhadap wabah korona ini,” ujar Kiai Nurul Huda di sela mengaji dengan para santri.

Sementara ini, lembaga pendidikan yang ada diliburkan. “Pada saatnya nanti kita buka lagi. Meski demikian, tetap jaga jarak dan pakai masker,” jelasnya.

Pentingnya Ngaji Bab Talak

Saat mengaji Kitab Bidayatul Mujtahid, Pengasuh Ponpes At Taslim KH Nurul Huda LC MA mengingatkan para santri terkait pentingnya mengaji bab talak, ruju’, iddah, dan masalah lain kaitannya dengan pernikahan. Dalam kitab karya Ibnu Rusyd itupula, para santri banyak belajar berbagai macam pandangan para ulama madzhab. Utamanya madzhab empat. Yaitu, Madzhab Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali.

Talak merupakan hak suami yang diartikan sebagai melepaskan ikatan (pernikahan antara suami dan istri yang sah secara syariat Islam). Ikatan pernikahan lepas baik karena ungkapan talak suami, ungkapan tak disadarinya, maupun gugatan istri lewat pengadilan.  Syarat sah talak adalah suami sah, baligh, berakal sehat dan menjatuhkan talak atas kemauan sendiri. “Masih banyak yang tidak tahu hukum talak ini. Banyak suami menjatuhkan talak kepada istrinya tetapi tidak memahami bagaimana talak itu. Maka, ngaji bab talak ini sangat penting,” ujarnya.

Dalam kitab itu juga disampaikan, bahwa talak tidak akan terjadi jika yang mentalak itu anak kecil (belum baligh) maupun pasangan yang belum terikat tali pernikahan. “Wong belum jadi suaminya kok mau talak, ya tidak bisa,” katanya.

Dibahas pula, bagaimana hukum seorang suami yang mengidap penyakit gila (majnun) dan suami yang menjatuhkan talak ketika sedang mabuk (sakran). Keduanya, antara edan dan mabuk memiliki kesamaan yaitu kehilangan akal sehat. Meski demikian, ada ulama yang berpendapat bahwa hilangnya kesadaran itu perlu dilihat penyebabnya. “Kalau majnun itu akalnya rusak (tidak sadar) tidak dibuat sendiri. Tapi, kalau mabuk, akal sehatnya hilang lantaran dirusak sendiri,” jelasnya.

Tersedia Ramuan Wedang Jahe Hangat

Mengaji sembari minum ramuan wedang jahe (rempah rempah) hangat di Ponpes At Taslim membuat suasana tetap syahdu. Selain badan segar, mata juga tetap terjaga dari ngantuk. Dengan demikian, mengaji kitab pun terlaksana dengan lancar.

“Wedang ini kamni buat agar bisa diminum saat mengaji. Biar badan tetap bugar. Wedang anti korona dan anti ngantuk,” ujar Yatin, santri senior Ponpes At Taslim.

Ramuan wedang jahe hangat anti ngantuk. (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)

Selain wedang jahe juga tersedia makanan ringan. Yaitu, kerupuk. Sidik Sugiarto, santri senior lainnya mengatakan, pada malam 29 Ramadan mendatang khataman mengaji kitab akan dimeriahkan dengan makan bersama (syukuran). “Kami akan masak kambing di akhir mengaji Ramadan nanti,” ungkap pengurus PCNU Demak ini. (hib/ida/bas)





Tinggalkan Balasan