alexametrics

Tetap Ngaji Bareng, Disiplin Jaga Jarak dan Bermasker

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Demak Ponpes Fathul Huda, Dukuh Karanggawang, Desa Sidorejo, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak cukup dikenal masyarakat. Bahkan, kini ada beberapa cabang ponpes serupa  diluar daerah termasuk di Sumatera yang didirikan oleh para alumnus pondok tersebut.

Ponpes Fathul Huda didirikan sekitar tahun 1958 oleh KH Ma’shum Mahfudzi. Ponpes ini  merupakan pondok riyadhah atau tempat untuk laku prihatin. Para santri diajarkan puasa sepanjang hari. Selain itu, ada ijazah kubro. Berupa ijazah puasa Alquran, puasa dalail khairat dan puasa manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani selama 40 hari. Disini kemudian Syekh Ma’shum sendiri dijuluki sebagai ahli riyadhah dari Karanggawang.

Laku prihatin sudah dijalankan Syekh Ma’shum sejak kecil hingga wafat. “Beliau selalu menyampaikan, bahwa untuk mendapatkan ilmu yang berkah, tidak cukup hanya dilalui dengan belajar saja. Riyadhah itu juga penting. Maka harus dijalani,”ujar KH Zainal Arifin Ma’shum putra Syekh Ma’shum yang juga menjabat sebagai Rois Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Demak ini.

Untuk menuju ke Ponpes Fathul Huda  yang diasuh KH Zainal Arifin ini cukup mudah. Jika dari arah Semarang, akses jalan bisa melalui jembatan Wonokerto belok ke arah kiri. Kemudian, lurus ke arah utara menuju Desa Sidorejo. Jalan ini searah dengan jalan ke Desa  wisataTambakbulusan atau Pantai Istambul.

Baca juga:  Warga Desa Terpencil Mulai Divaksin

Selama puasa Ramadan ini, kegiatan di Ponpes Fathul Huda, tetap berjalan seperti tahun tahun sebelumnya. Meski demikian, yang membedakan adalah jumlah santri berkurang drastis. Mereka yang berasal dari Demak dan daerah lain pulang ke rumah masing masing seiring dengan upaya menghindari persebaran wabah virus korona (covid-19).

Salah seorang ustadz Ponpes Fathul Huda, Taslim Arif mengemukakan,  pada hari hari biasa, kegiatan banyak diikuti santri. Ada sekitar 600 santri yang bermukim di pesantren. Namun, karena ada pandemi atau pagebluk korona, kini  santri yang tinggal  dipesantren hanya sekitar 50 an santri putra dan 40 santri putri. Saat mengaji, para santri mempraktikkan physical distancing (jaga jarak fisik). Masing masing dibatasi meja yang ada di Aula Masjid tempat mengaji.  “Ya, yang ikut pengajian kitab posoan ini diikuti santri yang masih di pondok saja. Lainnya ikut menyimak melalui ngaji online,”ujar Taslim. Sedangkan, untuk berbuka puasa dan sahur, para santri memasak sendiri. Adapun, para ustadz disediakan oleh pengasuh pesantren.

Baca juga:  Poin di Laga Perdana Penting untuk Dongkrak Percaya Diri

Menurutnya, selama Ramadan ini kegiatan pondok, utamanya mengaji kitab kuning memang lebih banyak dilakukan para uztadz dengan cara live streaming (online). Antara lain, melalui saluran Youtube maupun media sosial  lain seperti facebook, instagram dan sejenisnya.

“Termasuk abah Yai (Pengasuh Ponpes Fathul Huda, KH Zaenal Arifin Maksum) juga mengaji secara live streaming,”ujarnya.

Diantara kitab yang dikaji adalah Kitab Mizanul Kubro karya Syekh Abdul Wahab As Sya’roni dan Kitab Hilyat Al Auliya’ Fi Thabaqat Al Ashfiya’ karangan ahli hadist terkemuka, yaitu Syekh Abu Nu’aim Ahmad Ibnu Abdillah Al Ashbahani. Adapun, waktu mengaji kitab adalah setelah salat Dzuhur, Asar dan habis salat Tarawih.

Mengaji kitab Hilyat Al Auliya’ Fi Thabaqat Al Ashfiya’ karya Syekh Abu Nu’aim Al Ashbahani –(wafat 430 Hijriyah– cukup menarik. Banyak hal yang dibahas utamanya terkait dengan ilmu tasawuf  sebagaimana yang diamalkan para Waliyullah (Auliya’).

Dalam pengajian itu, Pengasuh Ponpes Fathul Huda KH Zainal Arifin Ma’shum antara lain membahas soal amal perbuatan manusia. Dalam jilid 10 urutan 458, halaman 34, misalnya disebutkan, bahwa ada tausiyah menarik sebagaimana yang disampaikan Syekh Abu Yazid al Bustami (seorang sufi abad III Hijriyah berkebangsaan Persia).

Baca juga:  Gandeng Milenial Promosikan Tempat Wisata

Syekh Yazid mengingatkan, bahwa Allah SWT akan membalas setiap perbuatan makhluk (manusia) sesuai amal perbuatan yang dilakukan. “Bila perbuatan makhluk itu baik, maka akan dibalas dengan kebaikan. Sebaliknya, jika perbuatannya tidak baik, maka akan dibalas dengan adzab yang pedih,”ujarnya.

Dalam pengajian itu juga dibahas soal rasa takut (Khosyah) serta ingat (Adz Dzikr) kepada Allah SWT. Ini sebagaimana diriwayatkan oleh Said bin Zubair yang ditulis dalam jilid 4 halaman 276 urutan 275. “Said menyampaikan, bahwa khosyah adalah takut pada Allah. Sehingga ketakutan kamu bisa menggeser atau menjauhkan kamu dari perbuatan maksiat kepada Allah,”katanya.

Itulah yang dinamakan khosyah. Orang yang benar benar punya khosyah pada Allah, maka orang itu jauh dari perbuatan maksiat. Sedangkan,  Adz Dzikru itu taat pada Allah. Artinya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. “Barangsiapa taat pada Allah, maka termasuk orang yang berdzikir atau ingat pada Allah. Barangsiapa tidak berbakti pada Allah, maka dia tidak termasuk orang yang ingat pada Allah. Walaupun dia selalu memperbanyak membaca tasbih dan baca Alquran,”jelasnya. (hib/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya