alexametrics

Ngaji Kitab Nurul Burhan di Tengah Kesunyian Masjid An Nur Futuhiyah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Jumat (1/5/2020) sore itu, kawasan Ponpes Futuhiyah, Jalan Suburan, Mranggen, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak tidak seramai biasanya. Dalam kondisi normal, ribuan santri hilir mudik memenuhi jalanan beberapa gang tempat lokasi puluhan pesantren ini berada. Namun, dalam sebulan terakhir, utamanya memasuki bulan puasa Ramadan, suasana terasa sepi senyap. Hanya sesekali warga lewat dijalan gang sempit Kampung Suburan tersebut.

Para santri yang bermukim di pondok pesantren selama pandemi korona (covid-19) memang sengaja diliburkan dan dipulangkan. Ini seiring dengan adanya himbauan dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan pemerintah terkait pencegahan wabah korona. Ponpes tidak mau kecolongan jika santri terpapar virus korona. Karenanya, tidak ada lalulalang dan kerumunan santri membawa kitab untuk mengaji.

Sisi lain. Tepatnya, dikawasan Masjid An Nur  sekilas tampak deretan sepeda motor terparkir. Meski demikian, nyaris tidak ada orang dilokasi dekat Kantor Pusat Ponpes Futuhiyah itu.  Saat azan berkumandang, hanya ada beberapa pengurus pesantren  yang beranjak ke masjid untuk salat Asar berjamaah.

Salat jamaah diimami langsung oleh KH Helmi Wafa, SE, MPd. Ia adalah pengasuh Ponpes Nurul Burhan 1 yang juga menantu Pengasuh Ponpes Futuhiyah KH Hanif Muslih, Lc. Salat jamaah hanya menampilkan satu saf (baris) saja dengan  sekitar tujuh santri yang berjajar.  Usai salat dilanjut dengan lantunan dzikir, salawat tibbil qulub dan istighotsah dengan dibantu pengeras suara. Gema dzikir tolak bala itu terus digaungkan agar dijauhkan dari wabah penyakit, utamanya korona.

Beberapa saat kemudian, Gus Helmi-sapaan akrabnya-bersiap memulai mengaji kitab Nurul Burhan jilid I karya Almaghfurlah KH Muslih (putra Pendiri Ponpes Futuhiyah KH Abdurrahman bin Qosidil Haq). Kitab pengantar Manaqib (sejarah) Sulthon Auliya’ Syech Abdul Qodir Al Jaelani dengan cover warna biru itu berisi  dasar atau dalil dalil pentingnya membaca kitab manaqib Nurul Burhan II terkait perjalanan sufisme atau spiritualitas Waliyullah Syech Abdul Qodir tersebut.

Baca juga:  Truk Trailer Terguling, Pantura Demak Macet 16 Kilometer

“Kitab Manaqib Nurul Burhan jilid II sangat popular (dikenal). Dibaca dan diamalkan kaum Nahdliyyin diberbagai daerah dan lintas Negara. Bahkan, untuk mengusir tikus disawah pun bisa dengan wasilah  membaca kitab manaqib ini,”ujar Gus Helmi, alumnus Dar al Musthafa, Tarim, Hadramaut, Yaman ini.

Pengajian kitab dengan model siaran langsung ( live streaming) melalui saluran media sosial (medsos) ini bisa diikuti dan disimak banyak orang. “Para santri yang berada dirumah juga bisa ikut ngaji online ini,”katanya.  Menurutnya, selama Ramadan, kegiatan tetap sama dengan tahun tahun sebelumnya. Yang membedakan adalah tidak adanya santri dipesantren. Tapi, mereka mengikuti pengajian online dirumah masing masing.

Topik utama yang dibahas dalam ngaji posonan di Masjid An Nur sore  itu terkait dengan pentingnya menyebut nama nama orang salih. Yaitu, nama nama  para nabi, sahabat nabi, tabiin maupun nama waliyullah. Itu disebut dengan Dzikrul Anbiya atau Dzikrul Salihin.  Menurut Gus Helmi Wafa, menyebut nyebut nama nabi dan orang orang salih itu bagian dari ibadah.

Sebagai contoh.  Kalau menyebut nama Nabi Muhammad, maka iringi dengan salawat (Sallallah Alaihi Wasallam).  Itu sesuai perintah Allah SWT. Innallaha Wamalaikatahu Yusholluna Alan Nabi. Ya Ayyuhalladzina Amanu Shollu Alaihi Wasallimu Tasliima. Artinya, sesungguhnya Allah dan para malaikat Nya bersalawat  (memuji) ke atas Nabi (Muhammad SAW). Wahai orang orang yang beriman, bersalawatlah kamu keatasnya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan kepadanya”.

Baca juga:  Pemdes Pilangrejo Penuhi Semua Aspek Kampung Siaga Candi

“Karena itu, jika  menyebut nama nabi (Muhammad) tanpa disertai salawat, dalam kitab ini diterangkan, bahwa itu artinya sama dengan orang yang pelit banget (bakhil). Maka, kalau menyebut nabi lainnya juga harus ditambai dengan Alaihissalam,”katanya.  Menyebut nama orang salih (dzikrul salihin) merupakan hal baik dan dianjurkan.

“Itu artinya kita dapat mengingat ketaatan orang salih sehingga dapat mengingatkan kondisi kita yang justru banyak dosa. Mengingat nama orang salih jadi penghapus dosa. Kita menjadi malu dan segera bertobat. Orang salih adalah orang jujur dan taat pada Allah. Menyebut orang salih adalah ikhtiar bagaimana kita bisa bersama dengan mereka.  Itu juga bentuk kebersamaan dan kecintaan kita pada mereka atau kecintaan kita pada kebaikan,”katanya dihadapan sejumlah santri yang dengan tekun memaknai kitab Nurul Burhan masing masing.

Menurutnya, dalam kitab Nurul Burhan itu juga disebutkan, bahwa orang orang saleh dapat dijadikan sebagai wasilah atau tawasul (perantara)  dalam berdoa pada Allah SWT. “Jadi, tawasul itu boleh. Tidak syirik atau bid’ah madzmumah,”katanya.

Dalam pengajian itu juga disampaikan, bahwa dalam beribadah haruslah istiqomah. “Sebagai contoh. Dalam kondisi normal kita bisa beribadah secara bersama sama (berjamaah). Bisa saling menyapa dan mengingatkan. Tapi, dalam keadaan sekarang– karena ada korona–, kita justru diuji. Apakah dikala sendirian masih bisa istiqomah dalam beribadah?. Jadi, beristiqamahlah dalam beribadah,”kata Gus Helmi Wafa.

Baca juga:  Kapolres Magelang Kota Kuliah S2 ke Inggris
Menu makanan buka puasa dikediaman Gus Helmi Wafa. (wahib pribadi/jawa pos radar semarang)

Berbuka puasa dengan Gus Helmi Wafa dikediamannya Kompleks Yayasan Ponpes Futuhiyyah Mranggen, terasa istimewa. Sembari bercerita panjang lebar terkait ngaji posonan selama Ramadan, juga bisa menikmati hidangan makanan yang telah disediakan di meja makan ruang tamu. Ada kurma, dan buah papaya.Untuk lauk makan, ada daging, ayam, telur, dan peyek. “Maaf. Silahkan makan seadanya ya,”ungkap Gus Helmi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pengasuh Ponpes Nurul Burhan I khusus santri putri itu memulai berbuka dengan memakan buah kurna dan  meminum teh hangat. Gus Helmi menyampaikan, berbuka puasa Ramadan memang terasa istimewa. Apalagi bisa berbuka dengan keluarga dirumah setelah seharian mengisi padatnya jadwal pengajian. “Kalau buka puasa, semua hidangan terasa enak semua. Kalau sahur, anak anak lebih memilih yang berkuah,”ujar Kepala SMK  Futuhiyah Mranggen ini.

Di ponpes yang dipimpinnya itu, untuk memenuhi kebutuhan makan santri tersedia dapur khusus. Yang memasak santri santri senior yang bertugas sebagai pengurus. “Santri senior ini niatnya mondok tapi akhirnya bisa masak juga,”jelasnya.

Menurut Gus Helmi, Yayasan Ponpes Futuhiyah membawahi atau menaungi 8 pesantren dan 10 sekolah. Ada MTs, ada Aliyah maupun SMK. “Pondok utama Futuhiyah itu ya yang berada dikawasan Masjid itu,”katanya. Jumlah santri secara keseluruhan hampir 6 ribuan. Dari jumlah itu, 60 persen mondok dan sisanya nglaju. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari Demak sendiri. (hib/bas)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya