14 Orang Positif Korona, Status Demak Naik Tanggap Bencana

19131
Warga Desa Sedo Kecamatan Demak Kabupaten Demak menutup jembatan masuk menuju perkampungan. Akses masuk hanya satu pintu sehingga memudahkan pemeriksaan warga yang keluar masuk kampung. (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Demak – Dua pasien positif korona akhirnya meninggal. Yaitu, ZA, 42, warga Kecamatan Demak Kota dan AA, 43, warga Kecamatan Karangtengah.

ZA sebelumnya  berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 dan masuk isolasi di RSUD Sunan Kalijaga Demak sejak 21 April 2020 lalu. Keluhan yang dirasakan pasien adalah nyeri telan di tenggorokan,  serta demam tinggi.

Ia memiliki riwayat perjalanan dari Surabaya sebagai sopir travel. Melihat perkembangan pasien, pada 21 April, Satgas Gugus Tugas menaikkan status PDP menjadi positif terjangkit korona. ZA yang meninggal akhirnya dimakamkan di desanya.

Sedangkan, AA, sebelumnya menjadi pasien dan dirawat di RSI Sultan Agung Semarang. Pada perkembangannya, pada Sabtu  (25/4/2020) AA diketahui meninggal dunia dan dimakamkan di kampung halamannya dengan standar pemakaman pasien covid.

Juru bicara Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Demak dr Singgih Setyono menyampaikan, dengan meninggalnya dua pasien positif covid tersebut, maka status Kabupaten Demak naik level.  “Statusnya dari siaga menjadi tanggap bencana,” katanya.

Berdasarkan data yang ada, tercatat ada 14 pasien asal Demak yang positif korona. Selain dirawat di RSUD Sunan Kalijaga, ada pula yang dirawat di rumah sakit Kudus dan Semarang serta isolasi mandiri di rumah. (hib/ton/bas)

 





7 KOMENTAR

  1. Mohon maaf sblmnya kpd siapa saja yg membaca komen sy ini,atas tulisan dan bahasa saya,sbagai org desa/kampung yg kolot,sy menyampaikan unek2 di hati saya,sbagai warga negara indonesia saya ikut prihatin atas pandemi covid 19 ini,saya sbagai warga kampung yg kolot maaf menyampaikan/ikut ngasih saran bila di terima,dgn semakin meluasnya covid 19 ini,sebaiknya pemerintah propinsi/ kabupaten mengadakan:(1) pemeriksaan warga di setiap kelurahan dgn kepastian warga negatif dari covid 19.(2) klo memang ada warga perantau yg memaksa ingin pulang/ mudik pemerintah desa harus mengadakan penjemputan,dalam artiannya begini stiap kepala desa wajib mendata warganya yg merantau,setelah terkumpul data kepala desa wajib menghubungi si perantau satu persatu, mau mudik apa gk, misalkan mau si perantau yg datangnya dari mana saja di kumpulkan dalam satu titik terus pemeritah desa mengadakan penjemputan,setelah itu si perantau di karantina kan di desa nya masing2 sampai di nyatakan negatif/terbebas dari covid 19 baru boleh berkumpul dgn wrga yg lain,maaf skali lg tentunnya semua butuh tenaga dan biaya yg besar,dari pada si perantau pulang sendiri2 dgn cara klo orang jawa bilang colong laku malah bahayanya lebih besar.sekian terima kasih, skli lg maaf beribu maaf saya sbagai orang kampung yg kolot,yg kurang pengalaman.

    • Jangan jangan ini berita hoak covid 19 di tingkat nasional sdh begitu heboh pemkab tentu sdh tahu lah apa yg harus di kerjakan pejabat pemda bukan cuma lulusan SD lho tdk sedikit yg sarjana mosok di ajari org kampung yg kolot apa tdk turun derajat nanti mereka oryyyyy lah yooo

  2. Di kampung aku pada susah di bilang apalagi aku hanya pendatang disini jadi bingung mau ngapain..tolong lah dari pihak DPRD di kasih tau kepada rakyat nya yg susah di bilangin..dari desa wonosalam.dempet.kalianyar. di adakan rapid test secepatnya..

  3. Klo hanya usulan itu tidak apa2 orang timur itu suka merendah tidak mau mengakui tingkat pendidikannya, mengaku dirinya orang kolot itu wajar. Orang timur klo ada yang sombong
    mengaku pendidikan tinggi, kaya, itu rasanya gak pantas. Gak ada rasa santun. Pejabat pun juga mau di kasih masukan klo itu baik bisa di terima usulannya. Begitu jangan terus orang merendah terus orang rendahan.

  4. assalamualaikum untuk penagganan prosedur covid daerah kabupaten Demak khususnya sudah menyiapkan berbagai langkah preventif, jalan jalan yg bisa diakses orang luar sudah di tutup, hanya ada 1 akses pintu masuk dan keluar. setiap orang yg tidak dikenal tidak di ijinkan masuk wilayah desa.di jaga dalam 24 jam. setiap orang masuk di cek suhu tubuh, untuk para pemudik RT setempat harus laporan 1×24 jam kepada gugus penagganan bencana covid, kemudian data tersebut akan di jadikan dasar penetapan ODP yg akan di pantau dan isolasi mandiri dalam 14 hari kedepan.
    semoga covid segera hilang.. kita bersama memutuskan rantai covid dengan menaati aturan pemerintah stay home

Tinggalkan Balasan