TPA Kalikondang Belum Ditutup, Warga Keluhkan Bau dan Lalat

TPA Kalikondang, Demak masih beroperasi. Padahal rencananya akan ditutup pada tahun ini karena dinilai meresahkan warga. (Nanang Rendi Ahmad)

RADARSEMARANG.ID, Demak – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Kalikondang, Kecamatan Demak masih beroperasi. Padahal, hasil audiensi warga dengan DPRD Demak pada Maret sepakat tahun ini TPA itu ditutup. Tak pelak, sampai kini warga masih keluhkan bau dan lalat yang datang dari TPA tersebut.

Berta (bukan nama sebenarnya) warga RT 7 RW 6 Kalikondang mengaku geram dengan keberadaan TPA itu. Rumahnya tak jauh dari TPA. Tiap hari ia dan keluarganya harus menahan bau menyengat yang masuk ke rumahnya.

“Apalagi saat musim hujan begini. Ditambah angin bertiup mengarah ke rumah kami. Bertahun-tahun kami hidup menghirup bau sampah,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (6/3/2020).

TPA Kalikondang telah berdiri dan beroperasi selama puluhan tahun. Tiap hari sampah yang masuk kian banyak hingga menggunung. Padahal, sebelum TPA berdiri, telah ada  permukiman yang padat.“Kondisinya sekarang memang benar-benar meresahkan. Keluar masuk alat berat juga menganggu warga. Bahkan banyak tembok warga yang retak, seperti rumah kami,” imbuh Berta.

Hal senada juga dikatakan Priyo (bukan nama sebenarnya), warga RT 6 RW 6 Kalikondang. Ia mengaku tak betah. Sebab nyaris tiap hari keluarganya bergelut dengan lalat.“Kami mesti menyiapkan lem lalat tiap hari. Itu masih tak mengatasi. Bayangkan, kami hidup dalam ancaman penyakit karena bakteri yang dibawa lalat,” tegasnya.

Priyo menambahkan, warga telah berupaya melakukan audiensi dan demo. Bahkan pernah menegur kantor TPA. Tapi belum membuahkan hasil.“Parahnya, kini mereka menggunakan intel untuk memata-matai gerakan warga. Diancam akan dipenjarakan jika berulah. Ini yang membuat nafas perjuangan warga kini agak kendor,” tuturnya.

Ketua RT 7 RW 6, Mulazim mengatakan tak hanya bau, lalat, dan alat berat yang dikeluhkan warga. Janji-janji dari pihak TPA juga banyak yang tak ditepati.“Seperti pengasapan (foging) untuk mengurangi lalat. Katanya akan dilakukan rutin. Tapi  hanya beberapa kali dilakukan,” ujarnya.

Ia menambahkan, banyak warga yang sesak napas dan vertigo. Ia mengaku, istrinya telah beberapa kali menjalani perawatan karena vertigo.“Tak hanya itu, sawah milik warga juga pernah ada yang gagal panen karena limbah dari TPA,” pungkasnya. (nra/lis/bas)

 





Tinggalkan Balasan