Warga Sidogemah Kembali Pertanyakan Ganti Untung

516
DEMO: Warga Desa Sidogemah, Kecamatan Sayung demo terkait belum tuntasnya pembayaran lahan tol. ( WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DEMO: Warga Desa Sidogemah, Kecamatan Sayung demo terkait belum tuntasnya pembayaran lahan tol. ( WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, DEMAK- Ratusan warga Desa Sidogemah, Kecamatan Sayung kemarin siang kembali melakukan aksi unjukrasa. Mereka kembali menuntut kepada pemerintah untuk segera membayar semua warga yang tanah dan rumahnya terkena proyek jalan tol Demak-Semarang. Untuk melampiaskan aspirasinya, warga memasang sejumlah baliho yang berisi tuntutan dan protes.

Baliho dipasang diatas sungai yang ada ditepi jalan raya Pantura Sayung. Koordinator aksi warga, Andi Maulana, menegaskan, warga kembali demo lantaran pembayaran belum dituntaskan. Sejauh ini, kata dia, baru 135 warga yang sudah dapat pembayaran jalan tol. Sisanya, ada 379 warga belum dibayar ganti untung. Menurutnya, pembayaran tahap pertama ada 107 orang dan tahap kedua ada 28 orang yang mestinya 31 orang. “Warga juga demo karena jalan di RT 3 RW 1 mengalami kerusakan setelah dimulainya proyek jalan tol. Warga minta pekerja proyek menunjukkan surat izin tapi tidak ada,” katanya disela memimpin demo kemarin.
Selain masalah tersebut, warga juga melakukan aksi unjukrasa karena dari sisi harga pembebasan tanah tidak ada negosiasi. “Jadi, harga dibayar secara global. Tidak ada rinciannya atau reng rengannya,” kata dia.

Karena itu, kata Andi, warga meminta ada perincian harga secara detail.“Minta nego harga,” ujar dia. Andi sendiri tanah dan rumah miliknya telah dibebaskan dan menerima pembayaran. “Saya dapat sekitar Rp 2 miliar. Tanah saya seluas 274 meterpersegi dihargai Rp 385 juta. kemudian, kos kosan dan rumah dihargai Rp 889 juta dan Rp 1,038 miliar. Total sekitar Rp 2,1 miliar,” katanya.

Meski dirinya sudah menerima pembayaran pembebasan lahan, namun ia masih prihatin dengan kondisi warga Sidogemah yang tanahnya terkena jalan tol masih banyak yang belum dibayar. “Mereka kasihan karena seperti posisinya terjepit. Mau tidak mau harganya segitu. Jika tidak mau itu urusan pengadilan. Jadi, seperti diintimidasi,” katanya.

Santoso, warga RT 1 RW 1 menambahkan, selain masalah tidak adanya negosisasi harga, warga aksi demo karena selokan atau saluran air tertutup material bangunan. “Yang pasti, kami tuntut ada nego harga,” katanya.

Menurutnya, harga tanah yang dibebaskan berkisar antara Rp 1.500.000 permeter hingga Rp 2 juta permeter. “Tapi, sekarang justru terus berkurang,” jelasnya.
Sementara itu, pekerja proyek PT WIka yang menggarap jalan tol Sayung hingga kemarin masih terus bekerja tidak terganggu dengan aksi demo warga. “Warga demo terkait dengan masalah pembayaran. Kalau kami hanya membangun jembatan ini untuk akses alat berat,” kata Dani, salah seorang pekerja.

Karena itu, lanjut dia, pekerjaan terus berlanjut. Camat Sayung, Sururi mengatakan, informasi yang diterima bahwa pemerintah telah menyediakan anggaran sebesar Rp 300 miliar untuk membayar warga yang lahannya dibebaskan. “Sebelumnya sudah dianggarkan Rp 90 miliaran untuk tahap pertama dan kedua,” ujar dia. (hib/bas)

Tinggalkan Balasan