alexametrics

Pesan KH Muhamad Nuh: Besarkan RSI NU Demak, Hindari Pertengkaran

Artikel Lain

DEMAK, RADAR SEMARANG.ID-Suata usaha yang sudah besar biasanya rawan memicu pertengkaran di lingkup internal. Kondisi demikian tidak boleh terjadi, termasuk dalam pengelolaan sebuah usaha bisnis maupun sosial. Untuk itu pula, perselisihan harus dihindari.

Demikian disampaikan Ketua PBNU Prof Dr Ir KH Muhamad Nuh, DEA ketika memberikan tausiyah dalam pengajian Harlah RSI NU ke-28 dan Harlah NU ke-94, Sabtu (1/2) malam. Hadir dalam kegiatan RSI NU Bersalawat ini, Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin, Habib Rifki dari Solo, Ketua PCNU Demak KH Aminudin, Direktur RSI NU dr Abdul Aziz dan para kiai serta masyayikh.

Prof Nuh menyampaikan, sebuah penyakit akan datang bila sesuatu itu sudah besar, termasuk dalam pengelolaan lembaga. “Kalau bertengkar, maka kita akan rugi tiga hal sekaligus. Yaitu, rugi energi. Kekuatan kita akan habis hanya untuk bertengkar.

Kemudian, rugi kesempatan. Mestinya kita dapat meraih kesempatan (untuk berkembang) itu. Tapi, karena bertengkar akhirnya kesempatan hilang. Terakhir, kalau bertengkar menjadikan tidak berkah. Maka, kita harus kompak dan rukun,”katanya. Jika rukun, maka RSI NU Demak akan dengan mudah mengembangkan usahanya. Akan banyak cabang dimana mana.

Prof Muhamad Nuh juga mengingatkan, bahwa 6 tahun lagi NU akan berusia 1 abad (100 tahun). “Saya membayangkan. Saat 100 tahun NU nanti tepatnya pada 2026, para sesepuh kita di NU datang ke dunia menyaksikan. Lalu, apa yang dapat kita suguhkan untuk beliau beliau itu. Kita semua yakin akan berebut untuk menyiapkan makanan apa saja demi kebahagiaan orang tua kita. Pertanyaaanya adalah apa yang kita siapkan untuk menyongsong 100 tahun tersebut?,” tanya Guru Besar ITS Surabaya tersebut.

Baca juga:  Pusatkan Ekonomi di Kantor Baru

Menurutnya, yang disiapkan adalah landasan atau fondasi agar NU tambah kuat dan hebat. Tidak ada cara lain kecuali fondasinya harus diperkuat. “Pilar NU harus diperkuat,”katanya.

Dulu, kata dia, ada yang namanya Taswirul Afkar yang memusatkan kegiatan keilmuan yang didalamnya terkait dengan peningkatan kualitas SDM. Berdiri juga Nahdlatul Tujjar terkait perekonomian serta Nahdlatul Wathon terkait kewarganegaraan dan kenegaraan.

“Urusan Nahdlatul Wathon sudah baik. Tapi, sisanya ini kita belum dapat deviden. Meski kita sudah punya saham. Yaitu, terkait SDM didalamnya ada pendidikan, kesehatan dan lainnya,” ujar dia.

Karena itu, dia mencontohkan, RSI NU Demak mestinya bukan saja mengembangkan dilokasi awal saja. Namun, harus punya keyakinan akan berkembang dimana mana. “Masak kita tidak bisa. Kita buktikan, bahwa kita bisa,”kata Nuh.

Prof Nuh menambahkan, dalam dunia ini, yang namanya persaingan itu sudah berubah. Dulu (1970-an), ada istilah monopoli. Sebuah usaha kebanyakan hanya milik satu orang. Kemudian, berkembang lagi menjadi kompetisi. Hal itu ditandai dengan indeks daya saing.

“Siapa yang punya daya saing terbesar, maka dia dapat memenangi sebuah pertarungan atau persaingan,” katanya.

Nah, saat ini, kata dia, bukan hanya persoalan menang atau kalah. Yang dibutuhkan sekarang adalah berkolaborasi dan bukan lagi kompetisi. “Kalau kita ada usaha bisnis, maka berkolaborasi antara cabang satu dengan cabang yang lain. Bersinergi. Bahkan, perkembangan juga makin cepat. Badan usaha sudah mulai bergeser lagi. Dari semula monopoli, kompetisi, kolaborasi dan sinergi, sekarang harus bisa membentuk sebuah ekosistem. Siapa yang tidak punya ekosistem yang kuat, maka akan gagal. Jika ada perusahaan televise misalnya, bila tidak punya usaha lain, maka usahanya akan selesai (tamat). Begitupula, RSI NU ini, kata dia, jika pasien butuh minuman dan makanan, maka RS harus membuka usaha minimarket sehingga kebutuhan pasien itu tidak lari ke yang lain. Pun, jika butuh bidan dan perawat, maka dapat bekerjasama dengan perguruan tinggi berbasis kesehatan.

Baca juga:  Pemkab Larang Pentas Hiburan dalam Sedekah Bumi

“Adanya pergeseran kecenderungan usaha dari monopoli sampai ekosistem itu, jika tidak dijawab dengan baik, maka akan semua akan habis. Kata Charles Darwin, bukan yang kuat yang akan bertahan, dan bukan pula yang paling pintar yang bisa bertahan. Tapi, yang bisa bertahan adalah siapapun yang bisa melakukan perubahan. Perubahan dan perubahan,” kata Nuh.

Hal itu selaras dengan kaidah Almukhafadlatu ala qodimissholih wal akhdzu bijadidil aslah. Yaitu, mempertahankan sesuatu yang sudah lama yang masih baik dan mencari sesuatu yang baru yang lebih baik. “Meski demikian, hal ini tidak sertamerta dapat diterapkan di sebuah rumah tangga,”katanya.

Menurutnya, yang harus dilakukan untuk mempersiapkan 100 tahun NU ke depan adalah menjadikan NU sebagai rumah besar. Sebab, kedepan akan semakin banyak anak muda NU yang latar belakang bidangnya tidak hanya satu disiplin tapi multidisiplin. “Kalau tidak disiapkan rumah besar, maka mereka (anak muda NU) ini akan indekos dirumah sebelah. Tidak ada cara lain, maka NU harus dijadikan rumah besar yang menampung semua spektrum disiplin keilmuan,”ujar Nuh.

Baca juga:  Yang Tua Harus Bisa Ngemong, yang Muda Wajib Jaga Tradisi NU

Ketua PCNU Demak yang juga Ketua Yayasan Hasyim Asy’ari, KH Muhamad Aminudin menyampaikan, banyak problem yang dihadapi rumah sakit di Indonesia, termasuk RSI NU. Yaitu, banyaknya pasien yang tidak membayar karena adanya BPJS. “Klaim BPJS tidak bisa lancar tiap bulan. Kita (RSI NU) punya uang di pemerintah lewat BPJS lebih dari Rp 15 miliar. Ini karena 4 bulan belum cair. Tapi RSI tidak pernah berhutang pada karyawan dan dokter,” katanya.

Bahkan, kata Kiai Aminudin, RSI NU justru bis memberi hadiah umroh semua karyawan yang mempunyai kemampuan ahlussunnah wal jamaah (aswaja) yang paling baik. “Umroh gratis sampai pulang kembali. Masih ada 4 karyawan dari medis dan non medis yang mendapatkan reward umroh gratis juga. Kita harapkan dapat berkah dari Makkatul Mukarromah,”katanya.

Direktur RSI NU Demak, dr Abdul Aziz mengungkapkan, pengajian tersebut sebagai salah satu rangkaian puncak kegiatan Harlah RSI NU. “Banyak kegiatan yang kita lakukan, termasuk ada Bazaar. Bahkan, sebelumnya banyak kegiatan sosial termasuk membantu korban banjir dan lainnya,”ujar dia. Dia mengatakan, apa yang disampaikan Prof Muhamad Nuh dapat menginspirasi dan menumbuhkan semangat para karyawan maupun warga NU untuk bersama sama membesarkan RSI NU. (hib/ap)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya