Ganti Untung Belum Merata, Warga Hadang Alat Berat

227
PROTES: Warga yang belum dapat ganti untung sempat protes
PROTES: Warga yang belum dapat ganti untung sempat protes

RADARSEMARANG.ID, DEMAK, – Sebagian warga Desa Sidogemah, Kecamatan Sayung dalam seminggu terakhir merasa resah dan gelisah. Ini terjadi lantaran satu sisi tahapan pembangunan proyek tol telah dimulai.(WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Namun, disisi yang lain ada warga yang belum dibayar ganti untung oleh pemerintah. Pembayaran ganti untung untuk warga dilakukan secara acak. Dengan demikian, belum semua warga yang lahannya terkena proyek tol mengantongi uang ganti untung tersebut. Ini seperti yang terjadi di wilayah RT 4 RW 1.

Di kawasan RT 4 ini, petugas PT Wijaya Karya (Wika) dengan alat berat sudah memulai pengerjaan pembuatan jembatan untuk akses kendaraan dan alat berat penunjang pembangunan jalan tol Semarang-Demak. Bahkan, untuk keperluan itu, rumah seorang warga, H Solikin telah dibongkar. Untuk rumah yang dibongkar telah lunas dibayar. Namun, para tetangga yang lain risau karena belum dibayar.

Warga yang belum dibayar sempat memasang tulisan bernada protes dilokasi dekat pembongkaran yang sedianya akan dibangun interchange (simpang susun atau persimpangan jalan) jalan tol. Tulisan protes itu adalah, “Atas nama warga Desa Sidogemah, sebelum pembayaran jalan tol Semarang Demak selesai, alat berat dilarang keras masuk kampung!!!”. Untuk itupula, petugas kepolisian dan TNI bersama pemerintah desa setempat mencoba untuk meredam protes warga.

Moh Ridlo, warga RT 4 RW 1, mengatakan, pembayaran ganti untung secara acak menimbulkan kegelisahan warga. Mereka khawatir tidak dibayar. Padahal, proyek tol telah dimulai. “Rumah keluarga saya sendiri terkena tol. Tapi, sampai sekarang belum diganti rugi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hingga kini, kata Ridlo, dirinya tidak mengetahui secara pasti akan dapat ganti untung berapa. “Kalau yang sudah dapat ganti untung itu biasanya dapat undangan untuk dikumpulkan bersama untuk diberitahu totalan harga dan pembayaran akan dilakukan di rekening bank,”ujar dia.

Karena itu, warga yang belum dibayar menolak rumah mereka dibongkar. “Kalau belum dibayar ya tidak mau dibongkar. Nanti tinggal dimana?,” tanya dia. Menurutnya, jika sudah dibayar, maka bisa mencari lokasi untuk pindah dan membangun rumah baru lagi. “Saya ini kan anaknya banyak. Kalau ada uang baru cari tanah dan bangun rumah,” katanya.

Informasi yang dihimpun, di Desa Sidogemah sendiri, dari sekitar 500 lebih Kepala Keluarga (KK) yang lahannya terkena jalan tol, baru sekitar 107 KK dan terakhir bertambah 28 KK. “Kami berharap, lahan dan rumah yang kena tol segera dibayarkan. Kami khawatir tidak terbayar. Apalagi, sistem pembayarannya mloncat mloncat (acak),”ujar Ridlo.

Selain soal pembayaran, warga sebelumnya sempat protes lantaran akses jalan warga tertutup dengan adanya alat berat yang menggali fondasi untuk pembangunan jembatan. “Jalan dikeruk sehingga warga tidak bisa lewat, utamanya anak anak sekolah dan warga yang hendak ke pasar. Akhirnya, warga dan anak sekolah lewat tepi jalan raya yang sempit,”katanya.

Pelaksana Proyek Jembatan Jalan Tol Sayung, Kus Sukarto menyampaikan, bahwa penggalian tepi jalan di RT 4 tersebut untuk membangun jembatan. Dengan adanya jembatan itulah, alat berat maupun kendaraan lain dapat masuk ke lokasi proyek jalan tol.

“Kita dari PT Wika sudah mulai pengerjaan tol ini. Kita mulai dengan membangun jembatan dulu untuk akses alat berat, truk maupun eskavator. Warga sempat protes sedikit terkait pengerukan untuk jembatan ini,”katanya. Menurutnya, warga sempat khawatir yang kena tol tidak terbayar. Sukarto menambahkan, lokasi Desa Sidogemah tersebut akan dibangun interchange. Selain itu, akan dilakukan pengurukan termasuk diareal tambak yang ada di kawasan Sidogemah tersebut untuk pembangunan tanggul laut. (hib/bas)

Tinggalkan Balasan