Belum Berhasil Tutup Tanggul Jebol Sungai Tuntang

Sudah Kerahkan 8 Alat Berat

124
Masyarakat dengan dibantu alat berat bersama elemen lain hingga kemarin masih bahu membahu menutup tanggul Sungai Tuntang yang jebol. (wahibpribadi)
Masyarakat dengan dibantu alat berat bersama elemen lain hingga kemarin masih bahu membahu menutup tanggul Sungai Tuntang yang jebol. (wahibpribadi)

RADARSEMARANG.ID,  DEMAK- Meski telah dikerahkan sejumlah alat berat (Bechoe), kondisi tanggul Sungai Tuntang yang sebelumnya jebol di Dukuh Gobang, Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur hingga kini belum berhasil dibendung atau ditutup. Akibatnya, rumah rumah penduduk serta areal pertanian dikawasan tersebut masih terendam air banjir yang disertai lumpur. Empat alat berat telah berupaya menutup tanggul, namun tanggul jebol lagi hingga tiga kali.

Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak, Agus Nugroho LP mengatakan, karena tanggul belum tertutup, maka genangan air banjir meluas hingga ke desa desa tetangga lainnya. Selain Desa Trimulyo, banjir juga merambah Desa Tlogorejo, Sidoharjo, Bumiharjo dan Desa Turitempel. Bahkan, air banjir juga mulai mengarah ke wilayah Buyaran, Kecamatan Karangtengah. “Hingga kemarin pagi, tanggul belum berhasil ditanggulangi,”ujar Agus sebagaimana yang dilaporkan BPBD setempat.

Seperti diketahui, jebolnya tanggul kiri Sungai Tuntang sejak 9 Januari lalu membuat warga Desa Trimulyo mengungsi ke beberapa lokasi, termasuk di masjid, tanggul, Aula Kecamatan Guntur, Balai Desa Trimulyo dan lainya. Jebolnya tanggul akibat tidak kuat menahan arus air kiriman dari wilayah Grobogan dan Ungaran serta Boyolali tersebut berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat sekitar dengan jumlah penduduk 4.728 jiwa tersebut. Ketinggian air banjir masih berkisar antara 30 hingga 50 sentimeter. Ini seperti terlihat di Dukuh Kandang, Cangkring, Walang, Gobang, Solowire, Solondoko, dan Dukuh Sindon.

Adapun, peta persebaran lokasi pengungsian yang terdata BPBD antara lain, Kantor Kecamatan Guntur dengan 189 jiwa dari 81 kepala keluarga (KK). Terdiri dari, 2 bayi, 11 batita, 12 balita, 28 anak anak, 92 dewasa, 42 lansia, dan 2 wanita hamil. Di Dukuh Gobang, ada 222 pengungsi. Titik pengungsian di masjid ada 27 jiwa, ditanggul 135 jiwa, dan di ponpes ada 60 jiwa. Di Dukuh Solowire, ada 887 pengungsi. Terdiri dari, 119 balita dan anak anak, 23 ibu hamil, 120 lansia dan 625 dewasa. Di Dukuh Kandang Lor, terdapat 65 jiwa. Terdiri dari, 3 balita, 1 ibu hamil dan 3 lansia. Di Dukuh Cangkring ada 50 pengungsi, Dukuh Solondoko 50 pengungsi, dan Dukuh Walang 238 pengungsi. Di Dukuh Kandang Kidul ada 197 pengungsi dan Dukuh Sindon 502 pengungsi. Total ada 2.400 pengungsi.

“Sebagian besar para pengungsi ini kembali ke rumah masing masing pada siang hari untuk membersihkan rumah. Kala malam hari kembali ke tempat pengungsian,”kata Agus. (hib)

Tinggalkan Balasan