Pengungsi Korban Banjir Masih 2.677 Jiwa

574

RADARSEMARANG.ID, DEMAK – Kapolda Jateng Irjen Rycko Amleza Dahniel memastikan bahwa kebutuhan para pengungsi korban banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang di Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur terpenuhi dengan baik. hal ini disampaikan Kapolda dihadapan para pengungsi disela kunjungannya meninjau korban banjir di Balai Kantor Kecamatan Guntur kemarin.

Kapolda yang didampingi istri dan rombongan, termasuk Pimred Jawa Pos Radar Semarang H Arif Riyanto tersebut langsung menjenguk korban banjir di Demak usai melakukan penanaman pohon di kompleks RS Bhayangkara Semarang. “Kita berusaha untuk ikut membantu korban banjir ini. Kita pastikan semua kebutuhan pengungsi tercukupi. Jadi, ibu ibu dan anak anak yang ada ditempat pengungsian ini tidak perlu khawatir. Kami dari kepolisian dan TNI akan membantu,” katanya sembari mengingatkan bahwa cuaca ekstrim masih akan terus berlangsung dalam beberapa hari ini.

Dalam kesempatan itu, Kapolda juga menugaskan sejumlah dokter dari Polda Jateng untuk ikut memberikan perawatan bagi para pengungsi yang terjangkit penyakit penyerta banjir. Selain itu, Polda juga membantu obat-obatan serta vitamin. “Saya kira, ibu-ibu dan anak-anak disini (pengungsian) sudah dapat tempat yang layak. Kita juga bantu penanganan psikologis atau trauma healing, utamanya untuk anak anak,” katanya.

Kapolda juga membantu kebutuhan lain untuk pengungsi, seperti selimut, tikar, makanan cepat saji dan lainnya. Dokter dan psikolog juga standby ditempat pengungsian. Saat ini, kata Kapolda, pihaknya mendorong pihak terkait baik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi maupun kabupaten, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan PSDA untuk segera menangani tanggul Sungai Tuntang yang jebol. Dengan demikian, air tidak lagi membanjiri pemukiman warga serta dampak banjir bisa segera tertangani dengan baik. “Mudah mudahan penanganan bisa segera selesai,” ujar Kapolda.

Sementara itu, para pengungsi baik yang ada di Balai Kantor Kecamatan Guntur, Balai Desa Trimulyo, maupun dibantaran atau tanggul Sungai Tuntang mulai terserang penyakit. Seperti diare, batuk batuk, flu, panas dingin, maupun penyakit penyerta banjir lainnya. Dokter Arifin dari Posko Puskesmas Guntur 2 mengatakan, para pengungsi kebanyakan sulit tidur. Akibatnya, badan mereka mriang (panas), terkena saluran pernafasan (ISPA), batuk maupun diare. “Petugas sudah kita kerahkan untuk menangani masalah kesehatan pengungsi ini. Stok obat juga cukup. Pelayanan kesehatan 24 jam hingga tanggap darurat bencana berakhir,”ujar dia. Untuk mengcover para pengungsi itu, petugas kesehatan dibagi tiga shift. “Sampai sejauh ini, belum ada pengungsi yang menjalani rawat inap. Semua masih normal. Hanya sakit sakit biasa saja,” katanya.

Berdasarkan data yang ada, jumlah pengungsi mencapai 2.677 jiwa. Mereka tersebar dari 8 dukuh di Desa Trimulyo. Dukuh Cangkring ada 50 orang pengungsi. Kemudian, Dukuh Walang 238 pengungsi. Dukuh Gobang 210 pengungsi. Dukuh Solowire 887 pengungsi. Dukuh Solondoko 399 pengungsi. Dukuh Kandanglor 65 pengungsi. Dukuh Kandangkidul 197 pengungsi dan Dukuh Sindon 502 pengungsi. Adapun, yang mengungsi di Kantor Kecamatan Guntur tercatat ada 129 pengungsi. Sisanya mengungsi di rumah saudara maupun lokasi lainnya, termasuk tanggul sungai.

Kapala pelaksana BPBD Demak, Agus Nugroho LP mengatakan, berbagai kemampuan telah dikerahkan untuk menangani masalah banjir di Desa Trimulyo tersebut. “Kita banyak dibantu TNI/Polri dan petugas lainnya bersama sama masyarakat menanggulangi banjir dampak jebolnya tanggul Sungai Tuntang tersebut,” katanya. (hib/bas)