Paparkan Data dan Fakta Historis Raden Fatah, Anggap Babe Ingkar Terhadap Sejarah Demak

827

Polemik pernyataan yang dilontarkan Budayawan Betawi Ridwan Saidi alias Babe memantik perhatian para guru besar sejarah, arkeolog, filolog maupun sejarawan kebudayaan Islam dari berbagai universitas kenamaan. Mereka merasa prihatin dan sepakat menolak klaim Babe yang menyebut bahwa Raden Fatah dan Sultan Trenggana adalah Yahudi. Seperti apa?

WAHIB PRIBADI, RADARSEMARANG.ID,Demak-

Profesor dengan keahlian masing masing itu terpaksa turun gunung untuk meluruskan ucapan Babe yang dianggap ingkar terhadap fakta historis Kasultanan Demak Bintoro. Para guru besar tersebut adalah Prof DR Djoko Suryo (Sejarawan UGM Jogjakarta), Prof DR Inajati Adrisijanti (Arkeolog Islam dan Perkotaan UGM), Prof DR Siti Chamamah Soeratno (Filolog/peneliti naskah kuno UGM), Prof DR Budi Sulistono (Sejarawan Kebudayaan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), KH Jadul Maula (Budayawan dan Pengasuh Ponpes Kaliopak Piyungan Jogjakarta), dan para ilmuwan lainnya. Seperti, Prof DR Soetedjo, Prof DR Sewi Yuliati, DR Chusnul Hayati, DR Eko Punto, DR Agustinus Supriyono, DR Siti Mazizah, DR Setyobudi, DR Ufi Saraswati, DR Bambang Buditomo dan lainnya. Para ahli tersebut seharian bertemu dan terlibat dalam diskusi panjang Focus Grup Discussion (FGD) yang dipelopori Yayasan Dharma Bhakti Lestari di Hotel Amantis. Para pembicara lain dari Perhimpunan Pemangku Makam Auliya (PPMA), tokoh masyarakat Demak hingga Takmir Masjid Agung Demak juga turut hadir berdiskusi bersama.

Dalam kesempatan itu, Prof Djoko Suryo menegaskan, bahwa berdasarkan bukti sejarah yang ada, Raden Fatah merupakan Sultan Kerajaan Islam Pertama di Kasultanan Demak Bintoro. Ia berkuasa pada 1482 hingga 1515. Raden Fatah adalah anak dari Prabu Brawijaya V dengan ibu dari Putri Champa. Dalam pendidikan, ia dididik langsung oleh para sunan atau Waliyullah, utamanya Sunan Ampel (Raden Rahmatullah) di Ponpes Ampeldenta, Surabaya. Menurutnya, sejarah panjang Kasultanan Demak dimulai dari Kerajaan Mataram Kuno bernuansa Hindu Budha hingga lahir Raden Fatah beserta keturunannya Raden Pati Unus, Sultan Trenggana, dan Sunan Prawata. Semua mendasarkan silsilah bahwa mereka adalah putra nusantara (Jawa). Bahkan, setelah pindahnya kerajaan ke Pajang kemudian lahir kerajaan Mataram baru yang bernuansa Islam. “Tidak dapat dipungkiri, bahwa runtutan sejarah itu disertai dengan bukti bukti pendukung yang hingga kini masih bisa dilihat dan dipelajari,”katanya.

Arekolog UGM, Prof DR Inajati Adrisijanti mengungkapkan, bukti bukti artefak dan peninggalan Kasultanan Demak Bintoro menunjukkan bahwa kerajaan Islam tersebut tidak hanya bernafaskan Islam saja, namun juga mengusung beragam kearifan lokal didalamnya. Fakta demikian telah menginspirasi kerajaan kecil lainnya yang berada dibawah kekuasaannya. Menurutnya, dilihat dari tata kota Demak yang khas, kata Inajati, telah menjadi panduan bagi kota lain di Jawa bahkan diluar Jawa. Antara lain ditandai dengan simbol Alun alun ditengah kota dengan ciri khas bangunan Masjid disebelah barat Alun alun. Demikian pula, suasana perkampungan sekitar yang juga menunjukkan ciri khas berbeda dengan tatanan kota dinegara luar manapun. “Ada Alun alun. Ada masjid. Ada pasar dan perkampungan dengan nama nama tertentu,”katanya.

Dalam penelitian yang dilakukannya, Masjid Agung Demak merupakan peninggalan sejarah yang dibangun Raden Fatah bersama para sunan (Walisongo), utamanya Sunan Ampel, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga. Masjid ini memiliki ciri keunikan tersendiri sehingga membedakan dengan masjid yang ada dibelahan dunia lainnya. Bahkan, Masjid Agung Demak telah menjadi prototype atau model yang ditiru dalam pembangunan masjid lain di wilayah nusantara. Seperti bentuk atap masjid yang bertingkat (bersirap) agar air hujan tidak masuk ke dalam masjid, mimbar dan beragam pernak didalam masjid. Atap seperti itu, terdapat juga di masjid masjid di Ambon Maluku, Tidore, Ternate dan sebagainya. “Masjid Agung Demak adalah prototype masjid nusantara. Ada mimbarnya dan atap kecil dipucuknya. Ini karena kearifan lokal yang menghargai konsep keagamaan Hindu waktu itu. Masjid ini juga tidak dibangun mirip Masjid Nabawi di Madinah atau Makkah karena kondisi alamnya berbeda,”ujar Prof Inajati.

Konsep tempat ibadah agama Hindu ruangan kecil karena yang masuk hanya pemuka agamanya. Sedangkan, umatnya berada diluar tempat ibadah. Sedangkan, masjid dibuat dengan rungan besar lantaran agar dapat dibuat ibadah salat Jumat yang mensyaratkan minimal 40 orang jamaah. “Pertanyaannya adalah siapa yang menciptakan bangunan atau siapa arsitek bangunan masjid waktu itu?,”tanya Prof Inajati. Arsitek zaman itu tidak menggunakan daun lontar untuk menggambar bangunan sehingga bisa presisi, termasuk bangunan puncak atau mustoko masjid. Namun, diduga menggambar dengan memakai kain. “Bangunan masjid para sunan ini bukan sekedar persoalan teknis saja. Namun, ada nilai filosofisnya. Mereka membangun masjid dengan gotong royong. Mulai mencari kayu dihutan hingga mendirikan soko dari Majapahit. Untuk soko majapahit ini, saya menginterpretasikan bahwa yang dibawa dari Majapahit adalah pikirannya. Meski demikian, para alim ulama dan umara waktu itu tetap menjalin silaturahmi dengan Majapahit,”ujarnya.

Jika dilikat dari benda bersejarah lainnya, bahwa terdapat keramik Annam abad XVI dari Champa. Itu artinya, ada hubungan diplomatik dengan orang Champa (Vietnam) ketika itu. Adapula benda pintu bledeg bergambar kepala naga mulat sariro wani. Ada mimbar dan maksuroh. Bangunan maksuroh dalam masjid dekat mimbar adalah berfungsi sebagai pelindung imam masjid saat memimpin jamaah salat. Hal itu terinspirasi dari zaman sahabat nabi dimana ada imam salat yang dibunuh saat mengimami salat. “Jadi, sejarah Demak itu posisinya sangat penting. Sebab, Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa. Kalau kerajaan Islam sebelumnya di Pasai Aceh. Di Pasai bukti fisik tinggal makam makam kerajaan. Tapi, di Demak ini bukti sejarah masih ada semua. Ada masjid, alun alun, ada kampung setinggil (posisi di SMPN 2 Demak). Setinggil itu bagian depan keraton. Ada kampung Sampangan dan lainnya. Ini fakta historis tak terbantahkan. Lebih dari itu adalah keberadaan Morodemak, yaitu pelabuhan yang menghubungkan langsung dengan muara sungai Tuntang lama dekat dengan Masjid Agung Demak,”kata dia.

Filolog UGM, Prof Siti Chamamah Soeratno menyampaikan, bahwa Masjid Demak waktu itu tidak hanya menjadi tempat salat saja. Namun, juga untuk tempat diskusi, mentrasfer ilmu keagamaan maupun berkomunikasi lainnya antar jamaah. “Ada proses transformasi dan integrasi sehingga tidak ada benturan,”katanya. Zaman Kasultanan Demak nilai nilai Islam disampaikan melalui format selera Jawa. “Misalnya, ada kalimat; ndilalah kersane Allah ono pitulungan. Kata semeleh dan lainnya. Itu cara Walisongo yang kemudian dicontoh dalam dakwah,”katanya.

Prof Dr Budi Sulistono dari pakar Kebudayaan Islam UIN Syarif Hidayatullah menyampaikan, bahwa Raden Fatah berasal dari kata Fatah (Al Futuhat) yang berarti pembuka. Al Futuhat Al Islamiyyah atau penyampai perdamaian. Ini dibuktikan dengan tidak adanya tempat ibadah lain yang dirobohkan. Artinya, ketika zaman Raden Fatah berkuasa, sungguh sungguh menghargai kearifan lokal serta memahami nilai nilai bangunan yang ada.

KH Jadul Maula, budayawan yang juga Pengasuh Ponpes Kaliopak Piyungan Jogjakarta menyampaikan, bahwa adanya pernyataan Babe (Ridwan Saidi) terkait Raden Fatah menjadi kesempatan untuk menegaskan kembali posisi Kasultanan Demak Bintoro. “Ini kesempatan untuk konsolidasi termasuk yang kita lakukan saat ini. Apa yang disampaikan Babe adalah bentuk pancingan,”katanya.

Menurutnya, munculnya Kasultanan Demak waktu itu adalah wujud konsolidasi para wali atau sunan dan masyarakat menghadapi kemunduran yang dialami Majapahit. “Waktu itu dimanfaatkan untuk mengembangkan strategi kebudayaan sebagaimana yang dipimpin langsung Sunan Kalijaga atau Syeh Malaya,”kata Jadul. Kemunduran Majapahit ketika itu, kata dia, bukan akibat diserang oleh Kasultanan Demak, tapi karena ada faktor konflik internal dan demoralisasi di Majapahit sehingga muncul istilah sirna ilang kertaning bumi. “Sejarah mencatat, Raden Fatah putra Prabu Brawijaya V datang ke Jawa berguru ke Sunan Ampel. Lalu, berdirilah Kasultanan Demak,”ujarnya.

Prof DR Soetejo menambahkan, dalam sejarah Demak, filosofi pintu bledeg yang ada di pintu tengah Masjid Agung Demak adalah menunjukkan bahwa kekuasaan itu mengandung kekuataan besar meskipun cukup berbahaya. “Dengan adanya ungkapan Babe tentang Raden Fatah tiu Yahudi otomatis tidak terbukti. Sebab, para ahli sudah memaparkan bukti dan fakta sejarah yang ada. Barangkali Babe bingung karena ibu kota Jakarta mau dipindah,”ungkapnya.

Ketua Perhimpunan Pemangku Makam Auliya (PPMA), KH Najib Hasan menegaskan, bahwa Babe (Ridwan Saidi) bukanlah ahli sejarah tapi mengaku ahli atau budayawan. “Kita ambil hikmahnya. Kita jangan sampai berpijak apa yang disampaikan. Kita jangan membesarkan orang tidak besar. Idealnya, kita memang harus buat buku babon (induk) untuk merangkai bukti dan fakta sejarah yang ada. Karenanya kita jangan berhenti disini,”katanya. (Hib)