alexametrics

Dua TPA Overload

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, DEMAK – Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Demak kini sudah overload.  Keadaan demikian  tergambar di TPA Kalikondang, Kecamatan Demak Kota dan TPA Candisari, Kecamatan Mranggen.

Sampah menggunung tiap hari. Berton ton anekaragam jenis sampah baik organik maupun non organik seperti sampah plastik dikirim setiap saat ke dua TPA itu. Gunungan sampah yang tidak tertangani dengan pengolahan yang maksimal, dinilai dapat menimbulkan polusi udara saat kemarau.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (LH) Pemkab Demak, timbulan (banyaknya) sampah di Demak pada 2018 cukup tinggi. Yaitu, 684.405 kilogram perhari atau 0,60 kilogram perorang perhari. Dari jumlah itu, 70.540 meterkubik (58, 25 persen) berupa sampah plastik. Dari jumlah penduduk yang terlayani sampahnya mencapai 133.991,39 kilogram perhari. Sedangkan, timbulan sampah yang terlayani 80.394,84 perkilogram perhari. Dengan demikian, persentase layanan mencapai 11, 75 persen.

Baca juga:  Terpilih Aklamasi, Ismawati Hafiedz Kembali Pimpin PW Muslimat NU Jawa Tengah

Dilihat dari usia, TPA Kalikondang sudah berumur 20 tahun. TPA ini hanya mampu menampung sebanyak 160 kubik sampah perhari. Selebihnya, sampah tidak tertampung. Pasar Bintoro saja tiap hari kirim 4 truk sampah dari pedagang. Padahal, lahan TPA Kalikondang yang tersedia hanya seluas 2,5 hektare sehingga masih butuh 2,5 hektare lagi. Sedangkan, TPA Candisari, hanya seluas 0,8 hektare. Artinya, butuh perluasan juga.

Kabid  Pengelolaan Sampah dan Limbah Berbahaya dan Beracun, Kurnia Zauharoh mengatakan, kapasitas TPA Kalikondang dapat menampung rata rata 8 ton sampah perhari yang dikirim 40 truk. Sedangkan, TPA Candisari menampung sekitar 4 ton sampah perhari yang dikirim 20 truk perhari. “terus terang. Pusing juga menangani sampah di TPA ini,” ujar Kurnia.

Baca juga:  Berharap Syafaat saat Puncak Khataman Maulid Nabi

Sejauh ini, kata dia, pola pikir masyarakat masih belum berubah. Yaitu, mengumpulkan sampah, lalu angkut dan kemudian dibuang. Kondisi demikian, membuat TPA selalu penuh sampah hingga menggunung. “Maka kita edukasi warga agar sampah rumah tangga dapat dipilah pilah dan tidak asal membuangnya. Yang dapat dikelola dijadikan barang berharga sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Kita rubah pola hidup warga, termasuk perlunya sosialisasi kompos ke RT dan RW,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH), Agus Musyafa menambahkan, dalam penanganan sampah ini, LH juga terus mentradisikan pungut sampah.  Sebab, banyaknya sampah yang kadang sampai menumpuk bisa memicu timbulnya berbagai macam penyakit. Karena itu, lingkungan harus selalu bersih termasuk dari tumpukan sampah. Tradisi pungut sampah kini terus digiatkan termasuk dilingkungan Pemkab Demak.

Baca juga:  Bupati Batang Tinjau Rencana TPA Limpung

“Kita juga sosialisasikan adanya bank sampah. Adanya bank sampah  diharapkan mampu mengurangi sampah dari sumbernya, seperti sampah rumah tangga maupun sampah dipasar pasar tradisional, terminal dan tempat lain penghasil sampah,” kata Agus. (hib/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya