BUMD Ujung Tombak PAD

237
RAKOR: Bupati HM Natsir memimpin rakor evaluasi kinerja BUMD di ruang Bina Praja kemarin.(WAHIB PRIBADI/RADARSEMARANG.ID)
RAKOR: Bupati HM Natsir memimpin rakor evaluasi kinerja BUMD di ruang Bina Praja kemarin.(WAHIB PRIBADI/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, DEMAK – Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) menjadi ujung tombak pemerintah daerah dalam memacu Pendapatan Asli Daerah (PAD). Karena itu, usaha yang dijalankan BUMD harus berani berinovasi sehingga dapat memenuhi target yang diharapkan.
Demikian mengemuka dalam rakor evaluasi kinerja BUMD semester 1 di ruang Bina Praja kemarin. Rakor dipimpin langsung Bupati HM Natsir, Wabup Joko Sutanto dan Sekda dr Singgih Setyono MMR.

Wabup Joko Sutanto menegaskan, BUMD dalam menjalankan usahanya tidak boleh besar pasak daripada tiang. Artinya, pengeluaran tidak boleh lebih besar daripada pendapatan atau penghasilan. Jika itu yang terjadi, maka perusahaan atau usaha yang dijalankan BUMD dapat gulung tikar atau bangkrut. Kalau sudah kolaps, akan berdampak pada nasib karyawan.
“Jadi, semua yang dilakukan harus disesuaikan dengan kemampuan perusahaan. Misalnya, kalau belum saatnya beli mobil, ya jangan beli mobil dulu. Sebab, bisa menjadi beban. Untuk itupula, semua anggota yang ada didalam BUMD harus lebih inovatif. Bagaimana usaha bisa maju dari tahun ke tahun. Inovasi tiada henti. Apalagi, BUMD itu dapat suntikan dana dari pemerintah. Tentu harus bisa menguntungkan,” katanya.

Senada disampaikan Bupati HM Natsir. Menurutnya, usaha yang dilaksanakan BUMD haruslah memberikan untung. Karena itu, apa yang diperoleh tidak sekedar untuk membayar karyawannya saja. Namun, bisa disetorkan untuk pendapatan daerah. “Yang namanya penyertaan modal itu harus membuahkan keuntungan. Maka harus ada tekad baru dari karyawan. Sekarang ini tidak bisa biasa biasa saja. Tapi, harus punya inovasi. Semua harus bersama sama membesarkan perusahaan,” ujar bupati.

Sekda dr Singgih Setyono mengatakan, kondisi perusahaan dimanapun, termasuk BUMD kini sedang menghadapi kompetisi penuh. Tidak hanya itu. Tuntutan dari konsumen juga sangat tinggi. Diantaranya, terkait dengan kualitas, kemudahan, kecepatan, serta terkait harga yang terjangkau. “Jadi, semua kepingin cepat seiring perubahan yang juga berjalan cepat. Ini juga karena perkembangan Informasi Teknologi (IT) yang serba cepat,” katanya.

Menurutnya, jika sebuah usaha mengalami kegagalan, maka perlu melakukan perubahan, semangat dan inovatif. Bila stagnan, maka perlu adaptasi, inovasi, dan kerja dilipatgandakan. “Nah, jika berhasil maka pertahankan apa yang dilakukan,” katanya. (hib/bas)