alexametrics

Awas Ulat Grayak Serang Jateng, Begini Cara Mengatasinya

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, BREBES – Ulat Grayak yang memiliki nama latin Spodoptera Frugiperda ternyata sudah mulai menyerang ladang jagung di wilayah pertanian Jawa Tengah. Salah satu wilayah yang terserang hama ini di desa Kersana Kecamatan Kersana Kabupaten Brebes. Dari 37 ha lahan jagung berumur 3 minggu, 6 ha sudah terdampak.

“Kami masih awam dengan hama ulat ini. Namun sudah meresahkan, karena lahan jagung kami banyak terserang,” jelas Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kersana, Masduk, saat ditemui di ladang setempat, Kamis (24/1/2020).

Ditambahkan, untuk luas seluruh kecamatan setempat 77 Ha, namun pihaknya belum mendeteksi semua wilayah, baru di Desa Kersana yang sudah terdeteksi.

Untuk itu, pihaknya beruntung sekali didatangi tim Bimbingan Teknis Pengendalian Ulat Grayak Spodoptera Frugiperda oleh Tim BBPOPT Jatisari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementrian Pertanian Indonesia.

Beberapa perwakilan BPP dan petani, langsung dibimbing untuk mengatasi hama ulat ganas asal Afrika tersebut. Mereka diterangkan bagaimana mengatasi secara dini, dari telur hingga ngengatnya.

Baca juga:  Suami Istri Sekongkol Cabuli ABG

Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Dr. Ir. Enie Tauruslina, MP, menjelaskan, bahwa dari laporan yang diterima hampir seluruh wilayah Jateng terdeteksi hama ulat ini. Sedangkan untuk wilayah Indonesia, dari 34 Provinsi 27 sudah terverifikasi kena hama ulat ini.

“Hama ini, pertama kali ditemukan di benua Amerika ke Afrika. Ngengatnya mampu terbang ratusan kilometer, dibantu angin,” jelasnya saat bertemu para petani jagung.

Untuk itu, guna membantu petani di lapangan, pihaknya langsung berikan informasi dasar mengenai serangan hama ini serta langkah-langkah yang dilakukan secara efektif dan efisien, serta aman terhadap lingkungan.

Sebab, hama ulat grayak ini dapat merusak tanaman jagung dalam waktu singkat, sehingga penting melakukan pencegahan dan pengendalian hama secara dini.

“Fase yang paling merusak dari hama jagung ini saat larva atau ulat. Saat daun muda, pada kerusakan berat, kumpulan larva hama ini seringkali menyebabkan daun tanaman hanya tersisa tulang daun dan batang tanaman jagung saja. Jika daun habis, tentunya akan membuat pertumbuhan jagung rusak, sehingga merugikan petani,” terangnya panjang lebar.

Baca juga:  Ganjar Miliki Jurus Lengkap Turunkan Kemiskinan Jateng

Ditambahkan petugas POPT Willing Bagariang, SP, M.Si, Ulat ini selain merusak pada bagian pucuk atau titik tumbuh tanaman sehingga dapat mematikan tanaman.” Pada serangan tinggi juga akan menyerang bagian tongkol jagung, yang tentunya akan menggagalkan panen,” serunya.

Untuk mendeteksi awal adanya hama ini, ditandai dengan adanya bekas gesekan dari larva atau ulat yang menyisakan serbuk kasar seperti serbuk gergaji pada permukaan daun. Petani, bisa melakukan pengamatan secara intensif. Jika ada tanda tanda tersebut harus segera ada tindakan.

“Jika ngengat Grayak bertelur, bisa 100 sampai 300 buah. Jika jadi larva, sebanyak jumlah telur tersebut, bisa merusak tanaman,” terangnya.

Telur grayak sendiri, biasanya ditaruh didaun muda. Jika petani mendeteksi nya, bisa langsung diambil, sehingga tidak menetas,” jelasnya.

Baca juga:  Pembangunan Kawasan Industri Brebes Masuk Fase Finalisasi

Kemudian telur, ditaruh di dalam bambu, pinggir bambu diberi perekat. Saat larva menetas, telur yang terparasit tetep bisa hidup dan memangsa telur lain.
“Penanaman juga harus dilakukan secara serentak untuk menghindari ketersediaan inang, biasnaya daun muda. Sehingga dapat menghambat hama,” jelasnya.

Namun jika hama sudah menyerang cukup parah, maka bisa menggunakan insectisida Insektisida yang berbahan aktif emamektin benzoat, spinetoram, klorantraniliprol, atau tiomektosam.

Juga kondisi tanah yang baik dan pemakaian Penggunaan pestisida nabati ekstrak daum mimba (Azadirachta indica) memiliki potensi dalam mengendalikan hama S. frugiperda. Hasil uji efikasi di laboratorium BBPOPT mortalitas larva instar kecil dapat mencapai 80% dengan dosis 80 gr/liter.”

Intinya petani harus melakukan pengamatan yang teratur, seminggu sekali untuk bisa mengambil keputusan yang tepat jika ditemui ada gejala serangan di ladang,” tandasnya. (han/svc/ap)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya