alexametrics

5.275 Anak di Batang Derita Stunting

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Batang – Kasus stunting di Kabupaten Batang masih tinggi. Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat, selama 2021 ada sekitar 5.275 anak masuk kategori stunting. Hasil itu didapatkan dari elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPBGM) pada 37.302 bayi.

Kasi Kesehatan Keluarga dan Gisi Dinkes Batang, Khotiq Mulyaningrum menjelaskan, stunting merupakan kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Akibatnya pertumbuhan lambat dan tinggi badan anak lebih rendah atau kerdil dari standar usianya.

“Menikah di usia dini juga menjadi salah satu penyebab terjadinya stunting pada anak,” ucap Khotiq Kamis (16/6)

Menurutnya, semua pernikahan harus disiapkan dengan matang. Seperti mental dan pengetahuan kesehatan reproduksi. Pengetahuan ini nantinya berguna untuk mencegah terjadinya stunting pada anak.

Baca juga:  Ditarget Akhir 2020, Proyek GOR Indoor Masih Nol Persen

Dinkes Batang sendiri instens berkoordinasi dengan berbagai pihak dan instansi terkait untuk penanganan stunting. Butuh sekitar 70 persen peran dan kontribusi dari sektor lain. Oleh Karenanya, dalam rapat pemetaan dan analisis situasi prigram stunting pihaknya menghadirkan instansi dan dinas terkait. Seperti dari Bapelitbang, Dispermades, DP3AP2KB, Kemenag dan lainnya.

“Karena kami berharap mereka bisa berkontribusi membantu penurunan stunting di Batang,” katanya.

Terpisah, Kabid Binmas Kemenag Batang, Shodiqin mengamini jika menikah dini bisa memicu stunting. Pihaknya pun turut menyosialisasikan agar masyarakat tidak menikah di usia dini. Di mana saat ini secara legal untuk menikah diharuskan berumur 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan.

Baca juga:  Pembunuh Sekretaris Gudang Ikan di Batang Divonis 15 Tahun Penjara

“Memang angka pernikahan dini di Batang cukup tinggi. Bisa dilihat dari permintaan dispensasi nikah di pengadilan agama. Kami pun intensif untuk menyosialisasikan aturan legal khususnya terkait umur pernikahan di Indonesia. Kami sosialisasikan ke sekolah dan juga pesantren,” ujarnya.

Selain itu, bagi masyarakat yang ingin menikah, pihaknya juga mewajibkan adanya bimbingan pra nikah. Di mana dalam kegiatan tersebut diberikan pula materi kesehatan reproduksi dan mental serta materi lainnya. (yan/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya