alexametrics

Shuttlecock Buatan Batang Dipasarkan hingga Lima Negara, Sudah Bersertifikat BWF

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Industri rumahan shuttlecock di Kabupaten Batang berhasil tembus pasar internasional. Walaupun skala kecil dan sederhana, shuttlecock produksi warga Pasekaran, Kecamatan Batang itu sudah bersertifikat BWF dan PBSI.

Terik matahari perlahan tertutupi mendung. Waktu baru menunjukkan pukul 12.00. Bulu-bulu angsa dan entok sedang dijemur di halaman rumah Ahda Al Faizu, 35. Warga Pasekaran, Kecamatan Batang itu masih fokus memproduksi shuttlecock di teras rumahnya.

Teras rumahnya disulap menjadi workshop mini. Ada 10 orang yang dipekerjakan di sana. Saat memasuki rumahnya, wartawan Jawa Pos Radar Semarang pun terkagum. Peralatan sederhana di sana mampu menghasilkan produk shuttlecock berkualitas.

“Ini tempat produksi kami, ya seperti inilah. Sederhana. Tapi banyak orang mengira produk kami dibuat oleh pabrikan,” kata Ahda menyambut koran ini.

Dua karyawan terlihat masih fokus memotong bulu-bulu unggas putih. Bulu itu tertumpuk di dalam kardus. Tangannya cekatan. Cepat melakukan pemotongan bagian atas bulu. Ukurannya bisa serasi.

Baca juga:  Si Anak Minta Ibunya Serahkan Mobil dan Bayar Sewa Rp 200 Juta

Ahda menjelaskan, pemotongan merupakan tahapan awal untuk pembuatan shuttlecock. Bulu-bulu itu berasal dari peternak lokal dan impor. Bulu lokal harus dicuci, direbus dan dijemur dahulu sebelum masuk pemotongan. Sementara bulu impor sudah bisa langsung dipotong.

“Bulu lokal itu sebenarnya kualitasnya lebih bagus, tulangannya lebih kekar. Tapi ketersediaannya yang langka. Makanya saya masih mengandalkan bulu impor,” terangnya.

Gerimis mulai turun. Fokus Ahda kini tertuju pada bulu-bulu angsa yang sedang dijemur. Ia bersama istrinya langsung mengangkat bulu-bulu yang sedang dijemur di atas terpal itu.

Ia menjelaskan, belum banyak orang yang tahu jika di Kabupaten Batang ada home industry shuttlecock. Terutama warga Batang sendiri. Produknya bahkan lebih dikenal orang dari luar daerah ketimbang di daerah asal.

Shuttlecock produksinya bahkan juga digunakan dalam ajang bulutangkis Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua. Produk buatannya dengan merek IND Shutterlecock. Walaupun produksi skala kecil, shuttlecock itu sudah bersertifikat standar Badminton World Federation (BWF) dan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Baca juga:  Pengakuan Mucikari Selebgram TE, Sekali Praktik Bisa Dapat Fee Rp13 Juta

Atas sertifikasi itu, Ahda mampu memasarkan produknya di 30 provinsi di Indonesia dan lima negara. “Awal marketnya, saya mempromosikan shuttlecock di website dan karena sudah terkoneksi orang Amerika. Pertama permintaan dari Malaysia dan percaya dengan produk saya. Produk shuttlecock saya di Malaysia malah dibeli orang Jakarta,” terangnya.

Setelah tahu produk dalam negeri, akhirnya konsumen itu menghubungi Ahda. Kemudian tertarik membeli dalam jumlah banyak dan ikut memasarkannya. Sejak itu, ia mulai memproduksi dengan jumlah banyak sesuai permintaan. “Saya mulai merintis ini sejak dua tahun lalu,” ucapnya.

Ahda menyebutkan, setiap hari ia bisa memproduksi 1.200 shuttlecock atau 100 slop tabung. Satu slop tabung berisi 12 shuttlecock. Sebelum dipasarkan, shuttlecock itu sudah menjalani treatment penyeimbang. Ia memanfaatkan kipas dari CPU dan menyambungkannya ke toples panjang. Sementara bagian tengahnya diberi semacam selang-selang kecil.

Shuttlecock ditaruh di bagian atas, sehingga terbang dan berputar. Melalui cara itu shuttlecock bisa seimbang dengan sendirinya. Produk IND Shuttlecock memiliki berat yang mengadopsi BWF yaitu 5,0 gram hingga 5,2 gram. Tapi untuk Indonesia sesuai standar PBSI beratnya 4,9 gram. “Shuttlecock ppruduk saya kita jual satu slop mulai Rp 35 ribu hingga Rp 80 ribu,” katanya.

Baca juga:  Yuk Intip…4 Kecamatan di Batang Digenjot jadi Kawasan Wisata

Ahda menyebutkan, home industry IND Shuttlecock yang dikelolanya beromzet Rp 500 juta per bulan. Adanya produksi shuttlecock rumahan itu juga sudah sampai ke Bupati Batang Wihaji. Ia pun menyempatkan diri meninjau workshop kecil tersebut. “Ini sangat luar biasa walaupun diproduksi secara tradisional, shuttlecock sudah dipasarkan di 30 provinsi di Indonesia dan lim negara,” puji Wihaji.

Menurutnya, dengan permintaan pasar  yang sangat tinggi, home industry shuttlecock milik Ahda membutuhkan tenaga kerja tambahan. Hal itu untuk mengejar target produksi, karena tingginya permintaan pasar.

“Saya sudah perintahkan Disperindaskop membuat pelatihan khusus pembuatan shuttlecock. Usai pelatihan bisa langsung dipekerjakan,” katanya. (yan/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya