alexametrics

Proyek Rehab Sekolah Tak Jelas, Siswa SD di Batang Lesehan di Rumah Warga, Masjid dan Musala

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Batang – Seratusan siswa SDN Plelen 1 Kecamatan Gringsing ikut jadi korban kontraktor rehab sekolah. Mereka harus lebih lama belajar tatap muka dengan lesehan di lantai. Pembelajaran itu dilakukan di dua rumah warga, masjid, dan musala.

Proyek rehabilitasi sekolah itu seharusnya rampung tanggal 17 Desember 2021. Namun, hingga kini belum selesai sama seperti empat SD lain yang kontraktornya sama. Lima paket rehabilitasi sekolah itu dikerjakan CV Amelia Rahman dari Cimahi, Jawa Barat. Anggaran berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Sementara, progresnya baru menyentuh 30 hingga 35 persen.

“Mau bagaimana lagi. Alhamdulillah Anak-anak bisa diajak kerjasama. Tinggal kitanya (guru) saja,” ujar Kepala SDN Plelen 1, Kusriatun di lokasi, Rabu (19/1).

Baca juga:  Tujuh Bakal Calon Rektor Unnes Lolos Verifikasi, Ini Profilnya

Kondisi SDN Plelen 1 hampir sama dengan SDN Wonosegoro 2. Bagian atap, jendela dan pintu sudah dibongkar. Meja, kursi dan sarana pembelajaran lainnya juga dikeluarkan dari ruangan.

Pada kesempatan ini, wartawan Jawa Pos Radar Semarang meninjau proses pembelajaran siswa kelas 5. Mereka belajar di rumah milik Bambang, warga setempat yang tinggal di Semarang. Para siswa belajar tanpa alas apapun. Mereka bawa meja belajar sendiri dari rumah.

Bahkan ada yang rela membungkuk di lantai, menulis tanpa meja. Kusriatun menjelaskan bahwa aktivitas seperti itu dilakukan sejak September 2021. Semula siswa belajar di musala. Namun, sejak Januari 2022 mereka mendapatkan pinjaman rumah warga. Siswa kelas 5 itu belajar bersekat triplek dengan siswa kelas 1.

Baca juga:  Indisipliner, PSIS Semarang Coret Nerius Alom

Ia berharap, renovasi bangunan sekolah itu bisa dirampungkan. Supaya siswa bisa belajar seperti semula. Sejak 17 Desember 2021, kontraktor diberi perpanjangan waktu 50 hari untuk menyelesaikan proyek tersebut. Hingga kini terhitung masih menyisakan waktu sekitar 17 hari.

Bupati Batang Wihaji pun ikut mengomentari kondisi para siswanya. Ia menjelaskan, seharusnya siswa tidak boleh belajar secara lesehan. “Nanti kami carikan jalan keluarnya. Nanti kami cek. Tidak boleh kalau lesehan-lesehan. Tidak boleh mengganggu aktivitas apapun,” terangnya. (yan/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya