alexametrics

Kebocoran Pipa Air Diduga Jadi Pemicu Longsor Pranten

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Batang – Kebocoran pipa air bersih yang sudah menahun diduga menjadi penyebab longsor besar di Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Jumat (31/12/21) lalu. Pipa itu bersumber dari mata air lereng Gunung Prau, Kabupaten Banjarnegara. Air menetes dan merembes ke dalam bukit hingga mempercepat terjadinya longsor besar.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Batang, Ulul Azmi mengatakan, longsor besar itu sudah diprediksi akan terjadi. Mengingat, mahkota longsor sudah terbentuk sejak awal longsor pada 29 April 2020.

“Dari hasil laporan peninjauan lokasi tim BPBD, kemungkinan ada kebocoran pipa besar yang sudah menahun dan pipa tersebut tidak terlihat. Air merembas ke bukit hingga menyebabkan longsor besar,” ungkapnya Kamis (6/1).

Baca juga:  Polres Batang Sita 2.000 Petasan Selama Ramadan

Peristiwa longsor pada malam tahun baru itu, memutus akses jalan pedukuhan Pranten-Rejosari. Bukit Siglagah di lereng Gunung Prau terbelah dari pucuk. Area longsoran diperkirakan mencapai satu kilometer. Sementara luasnya mencapai sembilan hektare. Terdiri dari dua hektare lahan Perhutani dan tujuh hektare lahan kentang milik warga.

“Volume material longsor diperkirakan mencapai ribuan meter kubik. Bisa di lihat dari ketebalan material longsor yang memutus jalan mencapai delapan meter,” imbuhnya.

Bukit Siglagah memiliki kontur tanah yang labil. Alih fungsi lahan hutan menjadi ladang kentang juga diperkirakan ikut mempercepat terjadinya longsor. Usai longsor besar, Ulul menjelaskan bahwa mahkota longsor sebagian besar sudah turun. Kemungkinan longsor susulan masih akan terjadi.

Baca juga:  Tahun Ini Santri Tazakka Boleh Mudik Sendiri

Menghadapi situasi tersebut, pihaknya hanya bisa menunggu sisa mahkota longsor. Material longsor yang ada saat ini pun tidak akan dibersihkan sampai sisa mahtkota longsor habis. Jalan Pranten-Rejosari yang terputus juga belum bisa diakses. Jalan itu merupakan swadaya warga. Terdiri dari jalan berbatu dan jalan beton.

“Kami masih menunggu kajian dari ESDM. Langkah kita hanya memberikan peringatan kepada desa-desa yang berada di alur Kali Belo seperti Desa Deles, Gunungsari, Bawang, dan Candigugur,” ucapnya.

Pihaknya mengimbau warga untuk waspada saat hujan deras. Mengingat ada potensi banjir bandang. Longsor mengikis aliran Kali Belo dan membentuk daerah aliran sungai (DAS) selebar 100 meter. Material longsor juga telah membendung alirannya. Kondisi tersebut membahayakan permukiman sekitar. (yan/zal)

Baca juga:  Pembunuh Sekretaris Gudang Ikan di Batang Dituntut 15 Tahun Penjara

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya