alexametrics

Terapkan E-Retribusi di Delapan Pasar, Pemkab Batang Targetkan PAD Rp 4,5 Miliar

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Batang – Delapan pasar tradisional di Kabupaten Batang mulai menerapkan pembayaran retribusi cashless. E-retribusi itu digencarkan untuk mempermudah pembayaran, transparansi, dan bersifat akuntabel. Metode pembayarannya memanfaatkan kode QR dari bank daerah.

Delapan pasar itu adalah Pasar Induk Batang, Limpung, Subah, Plelen, Warungasem, Tersono, Bandar, dan Bawang. Seluruh pedagang diberi kode QR sebagai alat pembayaran retribusi. Kode tersebut dipasang di bagian depan kios.

“Ini untuk mempercepat digitalisasi daerah. Harapannya nanti bisa mendorong pendapatan asli daerah (PAD) Pemerintah Daerah,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Taufik Amrozi usai melaunching penerapan e-retribusi Senin (27/12).

Ia menyebutkan, kini petugas tinggal men-scan kode yang tertempel di setiap kios. Sementara pedagang melakukan top up melalui petugas yang menarik retribusi. Tiap kali top up tidak dikenakan biaya tambahan.

Baca juga:  Ubah Mindset Guru dalam Mengajar

Menurutnya, transaksi non-tunai mau tidak mau harus dilakukan. Hal itu tergambar dari gaya hidup anak muda sekarang. “Lihat saja anak-anak sekarang, selalu minta top up beberapa akun,” ujarnya.

Manisih, 58, salah satu pedagang mengaku lebih suka penerapan e-retribusi dibanding manual. Pembayaran lebih efektif dan tidak memberatkan. Kini pihaknya hanya perlu membayar uang top up satu kali untuk beberapa kali retribusi. Sekali top up ia biasanya mengeluarkan uang Rp 50 ribu.

“Saya sehari bayar retribusinya Rp 3.600. Kalau ada petugas yang meminta retribusi tidak ribet, juga ringan,” ucapnya.

Sementara itu, Bupati Batang Wihaji menargetkan ada kenaikan PAD dengan adanya e-retribusi. Kini targetnya menjadi Rp 4,5 miliar atau naik 42 persen untuk tahun 2022. Target sebelumnya mencapai Rp 3,15 miliar.

Baca juga:  Dua Tahun Tak Digelar, Lomba Dayung Tradisional Batang Diikuti 3.000 Peserta

“Saya optimistis ada kenaikan PAD dengan diterapkannya e-retribusi ini. Kita lihat nanti perbandingannya satu bulan lagi,” tegasnya.

Wihaji menginginkan, e-retribusi tidak mempersulit pedagang. Karena sistem ini lebih sederhana. Mereka selalu nurut dengan pengelola pasar.

“Sebagian retribusi yang didapatkan untuk memperbaiki bangunan pasar yang bocor-bocor,” terangnya. (yan/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya