alexametrics

Pasar Minggon Jatinan Batang Buka Lagi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Batang – Setelah hampir dua tahun vakum, pasar Minggon Jatinan kembali dibuka. Berlokasi di Hutan Kota Rajawali (HKR) beberapa aturan terkait protokol kesehatan diberlakukan. Pedagang hanya 50 persen, sementara pengunjung diwajibkan sudah vaksin.

“Ini sudah melalui proses panjang, karena sudah 2 tahun kan pedagang tidak jualan di sini. Sudah kami rapatkan dengan OPD terkait, termasuk satgas covid, supaya ini tetap aman,” ujar ketua penanggung jawab Minggon Jatinan, Uni Kuslantasi Wihaji usai pembukaan bersama Bupati Batang Wihaji, Minggu (24/10).

Ia tidak ingin even Minggon Jatinan asal buka. Penerapan prokes ketat harus benar-benar dilakukan. Pedagang dibatasi hanya 50 persen kapasitas yang ada. Yaitu hanya 23 lapak dari total 46 pedagang. Mereka digilir untuk menempati stand yang ada.

Baca juga:  Sulap Batang Dolphin Center jadi Taman Safari

Awal pembukaan tidak ada syarat khusus untuk pengunjung yang datang. Hanya wajib mengenakan masker dan diukur suhu tubuhnya. “Awalnya kami akan gunakan barcode untuk Peduli Lindungi, namun melihat kondisi warga belum sepenuhnya divaksin. Ke depan, syaratnya adalah vaksin untuk pengunjung yang masuk. Mungkin di minggu ke-dua atau ke-tiga,” ucapnya.

Ketua TP PKK Kabupaten Batang itu tidak ingin Minggon Jatinan memunculkan gelombang 3 pandemi covid. Even itu juga diharapkan ikut andil dalam percepatan vaksinasi di Kabupaten Batang. “Insya Allah tiap gelarannya nanti ada layanan vaksin,” ujarnya.

Salah satu pedagang, Kasyanto, 46, sangat bersyukur bisa berjualan kembali di sana setelah 2 tahun vakum. Selama pandemi ia hanya mengandalkan pesanan tanpa membuka warung. “Alhamdulillah sudah buka lagi, selama dua tahun, kami benar-benar tutup. Tidak hanya di sini tapi juga jualan di luar juga tutup,” kata pria yang juga ketua UMKM Minggon Jatinan tersebut.

Baca juga:  Bawaslu Gandeng Wartawan untuk Sosialisasikan Pemilu

Minggon Jatinan sendiri buka tiap hari Minggu pagi. Pasar jajanan tersebut menampilkan konsep tradisional. Tiap makanan disajikan dengan piring tanah liat atau daun pisang. Karena tidak diperbolehkan menggunakan plastik. Pengunjung bertransaksi menggunakan koin dari tanah liat atau kereweng. Tiap kereweng bernilai Rp 2 ribu.

Pedagang mi kenyol, Laela Fadila, 30, mengaku terbantu dengan kembali dibukanya Minggon Jatinan. Sebagai ibu rumah tangga, ia bisa mendapat penghasilan tambahan. “Membantu banget, kalau dulu bisa 200 porsi laku. Kalau kami satu porsinya tiga kereweng atau Rp 6 ribu,” terangnya.

Raya Maghfiratunnisa, 17 dan Kirana Khairunnisa, 21, sebagai pengunjung merasa senang Minggon Jatinan kembali buka. Bersama keluarga mereka sering menyempatkan waktu di sana. “Kangen banget, tiap Minggu kami pasti kulineran di sini,” ujarnya. (yan/bas)

Baca juga:  Proyek KIT Dilarang Pakai Material Impor

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya