SD Masuk 3 Agustus, Zona Merah Tetap Daring

354
Bambang Suryo Sudibyo

RADARSEMARANG.ID, Batang – Kegiatan belajar mengajar siswa sekolah dasar (SD) secara tatap muka akan dimulai Senin 3 Agustus. Sedangkan TK serta PAUD pada 7 September 2020. Namun tidak semuanya boleh memberlakukan belajar mengajar tatap muka.

“Bagi desa atau kecamatan yang masuk zona merah untuk tidak melaksanakan tatap muka. Protokol kesehatan ketat untuk sekolah yang ada di luar zona merah,” ujar Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang, Bambang Suryo Sudibyo pada Jawa Pos Radar Semarang.

Pembelajaran luring di tingkat SD nantinya diberlakukan untuk kelas dua hingga enam. Sementara kelas satu masih memberlakukan model home schooling. Guru memberikan materi pembelajaran ke rumah siswa dengan mengumpulkan siswa terdekat.

Ia juga menjelaskan peran penting masyarakat sekitar sekolah, bila ingin kegiatan belajar mengajar tatap muka. Tidak hanya mengeluhkan larangan aktivitas belajar di sekolah. Masyarakat harus terus tetap mengikuti protokol kesehatan.

“Saat ini masyarakat juga banyak yang mengeluh kenapa sekolah belum bisa tatap muka. Perlu peran masyarakat bersama-sama agar tidak menjadi zona merah, sehingga bisa melaksanakan tatap muka,” imbuhnya.

Salah satu sekolah yang berada di zona merah adalah SDN Kauman 3. Kepala SDN Kauman 3 Muhammad Syarifudin menyatakan hal serupa. Sekolahnya tidak akan melakukan pembelajaran tatap muka jika masih di zona merah atau malah ada peningkatan kasus.

“Mudah-mudahan 3 Agustus 2020 sekolah kami bisa memberangkatkan siswa. Namun kalau situasinya tambah meningkat berarti belum bisa masuk. Orang tua juga mengeluh, kegiatan lain sudah diperbolehkan tapi kok sekolah belum boleh berangkat,” ujarnya.

Seperti diketahui aktivitas wisata, hajatan serta entertainment sudah mulai diizinkan secara berkala sejak satu bulan terakhir. Sementara sekolah diperbolehkan melakukan aktivitas luring baru-baru ini. Seperti SMP pada 20 Juli 2020.

“Kegitan home schooling juga tidak bisa kami lakukan. Kami belum berani, karena masuk zona merah. Gurunya pun belum saya izinkan keluar kandang. Nanti anak-anak sama gurunya malah yang jadi korban, jika tetap kami paksakan,” ujar Syarifudin. (yan/lis/bas)