Tersapu Ombak, Pemancing Tenggelam di Pantai Sicepit 

432
Korban tenggelam di Pantai Sicepit saat hendak dievakuasi petugas. (Istimewa)

RADARSEMARANG.ID, Batang – Warga Desa Kalisalak Kecamatan Limpung yang terseret ombak saat memancing ditemukan meninggal dunia, Senin (1/6/2020) pagi. Sebelumnya, Ahmad Muhsinin, 23, berangkat memancing bersama dengan dua rekannya sekitar pukul 07.30 menuju pantai Sicepit Kelurahan Kasepuhan Kecamatan Batang, Minggu (31/5/2020). Pukul 09.00 korban bersama rekannya mulai memancing di bebatuan 100 meter dari bibir pantai.

Saat ombak semakin tinggi, rekan korban menepi. Sementara korban masih berada bebatuan tersebut. Saat itu ombak diperkirakan sekitar satu meter. Sekitar pukul 11.00 pemancing lain melihat korban terseret ombak, kemudian tenggelam.

Hal itu lekas membuat rekan korban panik dan berupaya menolong serta mencari di dibibir pantai. Warga yang mengetahui insiden tersebut langsung melaporkannya ke aparat kepolisian setempat. Kapolsek Batang kota beserta anggota pun langsung menuju ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan berkoordinasi dengan SatPolairud Polres Batang dan BPBD Batang serta Basarnas Kansar Semarang.

Penyisiran korban dilakukan menggunakan perahu LCR dan penyelaman di sekitar lokasi tenggelamnya korban. Operasi dihentikan sekitar pukul 17.00, dilanjutkan keesokan harinya.”Pukul 05.30 korban berhasil ditemukan,” ujar Kapolsek Batang AKP Sukamto kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (1/6/2020).

Jenazah ditemukan tidak jauh dari tempatnya memancing. Jaraknya sekitar 150 meter dari titik kejadian. Muchsinin, meninggalkan cerita menarik seputar kehidupannya sehari-hari. Anak keempat dari lima bersaudara, pasangan Almarhum Dasuki dan Maryam dikenal sebagai anak yang baik dan tidak pernah neko-neko.

Hari-harinya diisi dengan bekerja sebagai buruh jahit di konveksi milik tetangga dan berkebun memanfaatkan sebidang tanah di sebelah rumah orang tuanya. Saat libur atau tidak ada pekerjaan, Muchsinin menyalurkan hobi memancingnya. Tidak pernah almarhum Muchsinin berkumpul atau nongkrong dengan teman sebaya jika tidak ada keperluan.

Kakak sulung almarhum, Istiana mengisahkan adiknya yang penurut, rajin dan pendiam. “Adik saya itu anak pintar dan penurut. Dia menghabiskan waktu untuk bekerja di konveksi. Jika gajian dia memberi ibu dan tidak pelit membantu saudara lain yang membutuhkan. Sejak kecil Muchsinin tidak pernah membuat jengkel siapapun karena sifatnya yang penurut dan rajin itu”, kata Istiana berlinang air mata. (yan/bas)





Tinggalkan Balasan