Meski Dilarang Berkerumun, Warga Padati Pantai Sigandu saat Syawalan

357
Warga padati wisata sepanjang Pantai Sigandu. (Riyan Fadli/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Batang – Sepekan usai Idul Fitri masyarakat merayakan tradisi Syawalan. Selain itu mereka biasanya juga merayakannya untuk berwisata. Salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi adalah pantai, seperti Pantai Sigandu dan Pantai Jodo di Gringsing.

Pantai Jodo di desa Sidorejo Kecamatan Gringsing setiap Syawalan selalu dipenuhi pengunjung. Namun pada agenda Syawalan tahun ini tempat wisata tersebut ditutup total untuk pengunjung.

Pihak Pemerintah Desa Sidorejo menutup total Pantai Jodo sejak bulan Februari lalu dan tidak mentoleransi siapapun yang berkunjung. Penjagaan dipasang di beberapa titik untuk memperketat jika ada yang lolos. Dari pintu masuk desa sampai jalan tikus semua ditutup portal dan dijaga.

Tidak terhitung pengunjung yang menggunakan sepeda motor maupun mobil. Mereka dihentikan di pintu masuk desa dan diminta putar balik. Meskipun sudah ada pengumuman tutup, tapi tetap ada saja pengunjung yang mencoba masuk. Tidak jarang mereka ngotot dengan berbagai alasan tapi penjaga tetap tidak memperbolehkan.

Kades Sidorejo Sumpeno menjelaskan, biasanya setiap Syawalan ada ribuan pengunjung memadai Pantai Jodo. Pihak pengelola juga menyediakan hiburan lain seperti panggung musik.

“Untuk tahun ini tradisi Syawalan pantai Jodo kami tiadakan sesuai anjuran pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19 meskipun itu berimbas sangat besar bagi pemasukan kas desa dan pendapatan masyarakat kami,” kata Sumpeno kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sebelum ada korona pengelola Pantai Jodo bisa meraup pendapatan tinggi dari tiket masuk setiap harinya. Masyarakat lokal pun bisa menikmati keberkahan adanya pengunjung, dengan membuka warung atau menyediakan sarana penunjang lain. Seperti motor pantai atau menyewakan perahu yang jumlahnya puluhan.

Di event Syawalan jumlah pengunjung mencapai ribuan orang dari berbagai daerah. Bisa dikatakan Pantai Jodo menjadi andalan pendapatan Sidorejo. Dengan ditutupnya pantai Jodo terhenti pula pemeliharaan. Pantai tidak lagi bersih seperti saat masih dibuka. Warung-warung juga terlihat kosong tidak terawat. Hanya terlihat satu dua orang penduduk lokal mencari rebon.

Baik Kades Sumpeno maupun Suba’i sebagai pengelola berharap bisa membuka kembali Pantai Jodo. Pantai tersebut sebelumnya ditetapkan sebagai obyek wisata andalan oleh Dinas Pariwisata Batang, yang bisa meningkatkan taraf perekonomian masyarakat.

Berbeda dengan Pantai Jodo, mayoritas pengelola pantai di area Sigandu membuka objek wisatanya. Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Semarang, pantai tersebut mulai ramai sejak siang hari, pengunjung didominasi pengendara motor. Tak sedikit pula pengunjung yang datang ke lokasi tersebut menggunakan mobil, bersama keluarganya. Mereka menyemut di sepanjang pantai tersebut. Cukup disayangkan mayoritas pengunjung terlihat tidak mengenakan masker. Pantai Sigandu menjadi alternatif liburan masyarakat karena beberapa objek wisata di Kabupaten Batang masih ditutup. (yan/bas)





Tinggalkan Balasan