Kitab Zaduz Zu’ama wa Dakhirotul Khutoba Bikin Santri Pede

522
KH Abdul Manab Syair

RADARSEMARANG.ID, Batang – Tiga puluh santri TPI Al-Hidayah masih beraktivitas seperti biasa di dalam pondok pesantren (Ponpes) yang berlokasi di Desa Plumbon, Kecamatan Limpung, Batang.

Ya, mereka memilih bertahan di ponpes dalam masa pandemi seperti ini. Sementara ratusan santri lainnya pulang kampung. Aktivitas di ponpes pun masih seperti hari-hari biasa. Hanya saja, protokol kesehatan semakin ditekankan.

Bulan Ramadan ini mereka tidak hanya disibukkan dengan kegiatan tadarus Alquran. Secara khusus pengelola pun memberikan ilmu tentang kepemimpinan.

Santri dianggap penting mengetahui dan memiliki bekal ilmu kepemimpinan. Karena merekalah yang akan memimpin negeri ini pada masa yang akan datang. Pengajian itu diadakan di aula pesantren. Hanya 30-an santri yang mengikutinya secara langsung. Sementara sekitar 700 sisanya mengikuti pengajian melaui streaming Facebook.

“Pengajian bagi santri yang masih di asrama kini ada space yang luas saat di aula. Kapasitas aula bisa muat 500 orang. Jadi tidak berdesakan. Santri yang sudah pulang kami larang untuk kembali ke pesantren. Sampai waktu yang tidak ditentukan. Santri juga masyarakat umum bisa ikut ngaji dari rumah,” kata salah satu pengasuh Pesantren TPI al-Hidayah, Gus Zaimudin Ahya pada Jawa Pos Radar Semarang.

Pesantren tersebut saat ini telah berkembang, ada pesantren al-Ishlah, al-Banin, dan al-Amanah yang masuk dalam satu yayasan. Kegiatan santri pun masih normal seperti hari biasanya. Hanya ada pembatasan agar tidak meninggalkan pesantren. “Santri jarang berinteraksi dengan warga, kondisi desa sekarang menerapkan lokal lockdown,” imbuhnya.

Kegitan mengaji kepemimpinan diajarkan berdasar pada kitab Zaduz Zu’ama wa Dakhirotul Khutoba, karya KH Bisri Musthofa. Ayahnya Gus Mus. Tentang nasihat-nasihat atau bekal para pemimpin. Lebih khusus kitab itu menjelasakan tentang tatacara mengatur masyarakat, musyawarah dan pidato. Sedangkan materi pengajiannya disampaikan Ketua LDNU Batang KH Sulthon Syair tiap pagi hari, dimulai pukul 08.00.

“Tujuan diajarkan kitab ini diantaranya supaya santri punya bekal kelak ketika harus terjun ke masyarakat. Sehingga percaya diri (pede) ketika diminta untuk memimpin atau pun berpidato,” ujarnya.

Walau punya segudang ilmu, lanjutnya, kadang kala santri tak percaya diri. Maka untuk membangun kepercayaan diri santri di mayarakat, salah satunya dengan mengaji kitab yang secara khusus membahasa tentang seni mengatur masyarakat, musyawarah dan berpidato atau ceramah.

Pondok pesantren tersebut didirikan oleh Kiai Syair dan diteruskan oleh keturunannya yang mendirikan yayasan Yayasan al-Syairiyyah. Dulu kegiatan mengaji dilakukan di bangunan semacam rumah panggung. Sekarang sudah memiliki banyak bangunan yang tersebar di tengah pemukiman.

Saat ini pesantren tersebut dipimpin oleh KH Abdul Manab Syair. Beberapa sekolah juga didirikan melaui yayasan pesantren tersebut. Antara lain Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA) Takhassus.

Tak hanya pengajian tentang kepemimpinan. Setelah Subuh mengaji kitab Qomi Tughyan, karya karya Imam Nawawi Al Bantani, oleh Kh Abdul Manaf Syair Rois Syuriah NU Batang. Pembahasannya tentang cabang-cabang iman, juga tentang penyakit hati.

“Sedangkan yang malam, setelah Isya ngaji kitab Minahus Saniyah tentang akhlak. Oleh ketua yayasan KH Agus Musyafa’ Syair,” tuturnya. (yan/zal/bas)





Tinggalkan Balasan