Tebing 50 Meter Longsor, Tiga Hektare Lahan Bawang Terdampak

396
Warga melakukan kerja bakti menyingkirkan material longsor yang menutupi jalan Dukuh Praten, Desa Pranten, Kecamatan Bawang. (Riyan Fadli/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Batang – Bencana longsor dan banjir bandang terjadi di Dukuh Pranten Desa Pranten Kecamatan Bawang, Jumat (17/4/2020). Usai kejadian Bupati Batang Wihaji bersama unsur TNI-Polri dan relawan lakukan kerja bakti membersihkan material, satu hari setelahnya.

Kepala Pelaksanan BPBD Kabupaten Batang, Ulul Azmi mengatakan, peristiwa itu terjadi pukul 08.00, saat curah hujan tinggi mengguyur sekitar lokasi. Tebing setinggi 50 meter dan lebar 25 meter pun longsor membawa material tanah dan bebatuan tutupi desa setempat.

Akibatnya akses menuju Pranten-Bawang terputus. Bencana itu tidak menimbulkan korban jiwa. Kerugian dialami petani, karena lahannya terdampak kejadian tersebut. Luasan area yang terkena bencana alam itu sekitar 3 hektare, mayoritas area tersebut ditanami bawang putih.

“Walaupun bencana longsor dan banjir bandang yang menimpa Desa Praten tidak ada korban jiwa namun, ada kerugian petani diprediksi Mencapai Rp455 juta,” kata Ulul Azmi kepada Jawa Pos Radar Semarang, di sela membersihkan material longsor, Sabtu (18/4/2020).

Kapolsek Bawang AKP Muharom menyampaikan bahwa Desa Pranten terletak jauh dari pusat kota. Lokasinya berada di pengunungan tinggi Dieng. Ia juga mengatakan, kejadian itu langsung ditindak lanjuti denganmelaksanakan kerja bakti bersama jajaran anggota Polisi, TNI dan ormas.

“Desa Pranten daerah paling rawan bencana tanah longsor, karena masuk rawan bencana Polsek dan Koramil Bawang berupaya semaksimal mungkin mempersiapkan gencarkan sosialisasi masyarakat agar tanggap dan tangguh bencana,” ucapnya.

Sementara itu, Bupati Batang Wihaji langsung memimpin kegiatan kerja bakti membersihkan material longsor tersebut. Ia mengapresiasi setiap orang yang terlibat dalam upaya itu. “Saya apresiasi dan terimakasih atas dedikasi dan jiwa relawan TNI Polri dan ormas melakukan pembersihan material longsoran, sehingga jalan bisa dilalui kembali,” kata Wihaji.

Ia juga berharap dengan kejadian tanah longsor bisa menjadi pelajaran, agar menjaga kelestarian hutan dan ekosistem alam. Sehingga bisa meminimlaisir dan mencegah bencana longsor terjadi kembali.

“Alih fungsi lahan hutan salah satu faktor terjadinya tanah longsor, untuk meminimalisir bencana longsor maka mulai sekarang perbanyak tanaman keras yang bisa menyimpan air serta cocok ditanam di daerah tebing,” imbuhnya. (yan/bas)

 





Tinggalkan Balasan