Petani Batang Keluhkan Harga Gabah yang Terjun Bebas

252
Petani sedang menjemur gabah hasil panennya di penggilingan padi Desa Sijono Kecamatan Warungasem. (Riyan Fadli/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Batang – Musim panen padi biasanya disambut gembira oleh para petani, namun tidak pada panen kali ini. Petani di Batang menjerit karena harga jual gabah hasil panennya terjun bebas. Hasil panen kali ini belum bisa menutup ongkos tanam hingga perawatan.

Penurunan harga jual dari petani sekitar 33 persen. Musim panen kali ini satu kuintal gabah hanya dihargai Rp 300 ribu. Sementara pada musim panen sebelumnya harga jualnya mencapai Rp 450 ribu.

“Musim panen kemaarin harga jualnya Rp 450 ribu per kuintalnya, sudah bersih untuk gabah kualitas terbaik. Saat ini harga jualnya hanya Rp 300 ribu, masih pendapatan kotor,” kata Robin, 32 , petani asal Desa Menguneng Kecamatan Warungasem, Rabu (8/4/2020).

Menurutnya, satu hektare sawah memerlukan biaya lebih dari Rp 7 juta mulai dari tanam hingga panen. Belum termasuk sewa lahan. Satu hektare sawah bisa menghasilkan 5 sampai 7 ton gabah. Panen kali ini, Robin menghasilkan 2 ton 3 kuintal. Hasil panenannya pun tidak bisa ia rasakan sendiri, harus dibagi dengan pemilik lahan.

Ia juga menjelaskan bahwa pemborong tidak bisa datang ke daerah untuk membeli gabah dari petani. “Ongkosnya mahal, biaya operasional buat panen ora nyucuk. Ngelus dodo semua ini para petani. Namanya panen tapi malah tambah hutang. Para pejabat biar dengar langsung dari petani. Harapannya pemerintah memperhatikan kami, saat musim panen tiba bagaimana caranya lah biar harga tidak turun drastis seperti ini,” kesahnya.

Sementara itu Muhklas, 35, pengelola penggilingan padi di Desa Sijono, Kecamatan Warungasem merasa prihatin atas anjloknya harga gabah dari petani. Ia pun berharap pemerintah bisa turu tangan membuat harga kembali stabil.

“Di sini kami hanya menerima jasa, petani membawa hasil panen. Biayanya Rp 40 ribu per kuintal. Musim panen ini sudah mulai banyak yang nggiling, tapi pada mengeluh semua. Harga jualnya anjlok. Pemerintah bisa membantu petani, supaya harga bisa normal kembali. Tidak seperti sekarang, penggilingan kan terpengaruh dari petani juga. Petaninya senang kami juga ikut senang, tapi kalau kondisinya seperti sekarang susah semua,” ucapnya. (yan/bas)





1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan