Melawan dengan Samurai, Terduga Teroris Ditembak

Kondisi rumah terduga teroris Muchtar Maulana dan Suwandi setelah penggrebekan Tim Densus 88 Antiteror. (Riyan Fadli/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Batang – Terduga teroris yang ditembak mati Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri, Muchtar Maulana, 40, dikenal sangat tertutup. Warga Dukuh Ngepung RT 6 RW 2 Desa Subah, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang ini jarang bersosialisasi dengan warga di desanya.

Turmuni, warga setempat menjelaskan, saat ditangkap Tim Densus 88 Antiteror, Muchtar mencoba menyerang petugas dengan sebilah samurai. Penyergapan itu terjadi Rabu (25/3/2020) sekitar pukul 15.30. Karena mendapat perlawanan, petugas terpaksa menembak mati pria yang sehari-hari menjadi tukang kayu dan menerima job melukis dinding sekolah tersebut.

Ia mengaku, sempat terkejut dan keluar rumah saat mendengar suara tembakan. Sebelumnya, ia dan warga lainnya sempat menduga suara letusan itu berasal dari petasan yang dimainkan anak-anak.  “Ternyata itu suara tembakan petugas,” katanya.

Warga sekitar sendiri tidak terlalu kaget adanya penggerebekan terduga teroris tersebut. Sebab, kata Turmuni, sikap dan perilaku Muchtar selama ini sudah menampakkan sebagai anggota kelompok radikalisme. “Style-nya sudah indentik dengan kelompok jenggot cingkrang (terorisme, Red). Tapi kami tidak berani menuduh,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (25/3/2020) malam.

Di rumah Muchtar, lanjut dia, ditemukan tiga kardus bahan pembuat bom. Menurut Turmuni, bahan tersebut sudah siap diracik. Selain itu, di rumah Muchtar ditemukan empat senjata tajam jenis golok dan samurai.  Juga didapati papan besar bertuliskan kalimat-kalimat berbau radikalisme.

Setelah ditembak mati petugas, jenazah Muchtar langsung dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Semarang. Tim Densus 88 Antiteror juga membawa Suwandi alias Wandi, 47, (kakak kandung Muchtar), Riyanti, 42,  (istri Suwandi) dan A, 11, (anak Suwandi) untuk menjalani pemeriksaan. Wandi sempat melarikan diri, namun berhasil ditangkap petugas. “Dulu dia (Muchtar) pernah merantau di Jakarta, waktu dulu ramai NII,” ucapnya.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Batang Nur Faizin mengaku tidak tahu banyak tentang Muchtar karena tidak pernah bertemu. Ia hanya mengetahui Muchtar pernah bekerja di Dinas Perhubungan Kabupaten Batang. Namun ia sudah lama keluar dengan alasan bekerja sebagai PNS atau lingkungan pemerintah hukumnya haram.

“Sejak pulang dari Pondok Al Zaitun Cirebon sikap Muchtar berubah. Berpapasan dengan orang juga tidak mau menyapa, apalagi bersalaman,” ujarnya.

Muhaimi yang rumahnya berada tepat di samping rumah Wandi menambahkan, Muchtar tinggal bersama Wandi sejak berpisah dengan istrinya enam bulan lalu. Muchtar juga membuat ruang khusus di bagian depan rumah Wandi untuk salat dan menyimpan barang pribadinya.  Ketika sedang di rumah, Muchtar selalu memutar ceramah radikalisme dari handphone dengan suara keras mulai pagi sampai malam. Muhaimi bahkan pernah melempar genting kamar Muchtar karena merasa terganggu dengan suara keras itu.  “Isi ceramahnya tentang jihad dan radikalisme. Saya sempat terganggu karena suaranya keras dan terus-terusan,” kata Muhaimi jengkel.

Selain itu, lanjut dia, saat istri Wandi mendapat giliran arisan, Wandi melarang ibu-ibu yang hadir menyanyikan lagu Indonesia Raya. Wandi mengatakan jika lagu itu haram. Siapa yang menyanyikan adalah kafir.

“Begitu arisan selesai, ibu-ibu langsung bubar tanpa menyentuh hidangan. Muchtar dan Wandi juga aktif mengajak tetangga untuk ikut jihad dengan janji imbalan masuk surga,” imbuhnya.

Tetangga lain, Edi Setiawan dan Nasrul menambahkan, Wandi dan Muchtar tidak pernah mau bergaul dengan tetangga. Saat ada kerja bakti maupun rapat RT tidak pernah hadir. “Wandi dan istrinya setahun yang lalu pulang dari Malaysia. Sejak saat itu sikap radikalnya semakin terlihat meskipun sebelumnya sikap tersebut sudah dirasakan warga sekitar,” timpal Edi.

Pihak tetangga mengaku tidak pernah melihat kegiatan di rumah Wandi maupun tamu yang datang. Hanya saja, tetangga sering melihat Muchtar dijemput pria berjenggot panjang dan bersurban. Tapi tidak ada yang tahu tujuannya.

Ketua RT 6 RW 2 Desa Subah, Alim, mengaku, tidak tahu banyak tentang Muchtar dan keluarga Wandi. Hanya saja, Muchtar dan Wandi tidak pernah salat Jumat di masjid desanya. Karena yang menjadi khatib maupun imam adalah PNS. “Bagi keduanya, salat diimami PNS dianggap tidak sah,” ujarnya.

Muhaimi yang sempat masuk kamar Muchtar melihat di dinding kamar banyak tertulis kalimat jihad dalam bahasa Arab. Ia juga melihat tiga rencana pengebomam, tapi tidak disebutkan waktu dan tempatnya.

Selain itu, di akun Facebook Muchtar juga berisi ajakan jihad Negara Islam. Sehingga banyak tetangga yang memblokir akun tersebut.

Maskur dari Kantor Kementerian Agama Kecamatan Subah mengaku kecolongan dengan kegiatan Muchtar. “Untuk ke depannya Kementerian Agama akan lebih meningkatkan pengawasan terkait acara kegiatan dengan menggandeng tokoh-tokoh agama dan mengajak masyarakat untuk menghadiri pengajian di musala lokal saja,” kata Maskur.

Ia menginginkan, jika ada pembicara pengajian yang berbau radikal atau tentang jihad, diharapkan masyarakat segera melapor.

Terkait pemakaman jenazah Muchtar, warga sekitar tidak menolak jika terduga teroris dikebumikan di makam desa setempat. Namun makam Muchtar akan ditempatkan di luar makam umum, menjadi satu dengan makam salah satu preman. “Meskipun telah mencemarkan nama baik desa, tetap boleh dimakamkan di sini, karena dia warga asli sini,” ujar warga setempat.

Kapolres Batang AKBP Abdul Waras mengatakan, penangkapan terduga teroris  dilakukan langsung Tim Densus 88 Antiteror. Ada empat orang yang diamankan, salah satunya ditembak mati. “Mereka diduga masuk jaringan teroris,” katanya.

Dari hasil penggeledahan di rumah Suwandi ditemukan bahan-bahan yang digunakan untuk merakit bom. Antara lain, cairan kimia satu dus berisi 57 botol ukuran kecil, tiga botol cairan kimia masing-masing berisi satu liter, satu jerigen cairan kimia berkapasitas 3 liter, sebilah parang, sebilah sangkur, sebilah golok, sebilah samurai, satu unit laptop, catatan dokumen, satu buah dompet, satu unit handphone Nokia, tas warna oranye, serta kabel warna merah, putih dan kuning masing-masing sepanjang sekitar satu meter. (yan/sga/aro)





Tinggalkan Balasan