Kualitas Mulai Menurun, Kakao Butuh Peremajaan

Petani sedang memetik kakao di perkebunan kakao area Kecamatan Kandeman. (Riyan Fadli/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Batang – Perkebunan kakao di Kabupaten Batang perlu melakukan peremajaan pohon besar-besaran.

General Manager UGM Cocoa Teaching Industry Nur Muhib menjelaskan, saat ini produktivitas pohon milik petani berkurang hampir 60 persen. Begitu juga dengan kualitasnya. Faktor yang mempengaruhi adalah umur pohon mayoritas di atas 20 tahun.

“Saya melihat hampir 70 persen pohon kakao di Kabupaten Batang usianya di atas 20 tahun. Perlu adanya peremajaan kembali terhadap tanaman-tanaman tersebut,” kata Muhib pada Jawa Pos Radar Semarang saat ditemui di kantornya Kamis (19/3/2020).

Kebanyakan petani di Kabupaten Batang adalah petani mandiri. Menurutnya, mereka lebih besar menggantungkan harapannya pada pemerintah agar mendapatkan bibit gratis. “Dilemanya seperti itu,” ujar Muhib.

Pihaknya juga telah meneliti sampel kakao dari petani. Permasalahan lain muncul, karena kualitas kakao di Kabupaten Batang terbilang buruk. Dibandingkan penghasil kakao lain di Jawa Tengah seperti Purworejo dan Purwokerto. Ia melihat faktor yang mempengaruhi antara lain, usia dan pemeliharaan tanaman. Salah satu lokasi perkebunan kakao di Kabupaten Batang adalah di Kecamatan Kandeman.

“Petani kakao perlu mulai menata kebunnya kembali, membentu klaster sendiri. Agar dapat dilihat oleh Kementerian Pertanian untuk mendapatkan bibit dan pelatihan yang lebih baik,” katanya.

Muhib juga menjelaskan bahwa petani coklat lebih beruntung dibandingkan dengan petani lain. Hal itu karena harga coklat terbilang stabil. Penurunan harga tidak anjlok terlalu dalam. Hanya di kisaran Rp 22 ribu hingga Rp 24 ribu per kilogram.

“Kami juga sudah mengadakan pelatihan terkait produktivitas kakao. Agar mereka paham tantang peremajaan kebun, pemangkasan dan penanganan pasca panen,” pungkasnya. (yan/zal/bas)

 

Tinggalkan Balasan