alexametrics

Keberadaan Anak Jalanan Makin Meresahkan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Belakangan ini anak jalanan (anjal) kembali marak di Kabupaten Batang. Mereka berperawakan sangar hingga penampilan santri dengan sarungnya. Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Semarang, selama satu bulan terakhir mereka lebih sering muncul saat weekend. Bergerombol hampir di tiap lampu lalu lintas di jalur Pantura.

Tidak hanya satu dua orang, mereka bergerombol hingga lebih dari 15 orang. Mencegat dan menumpang kendaraan besar seperti tronton. Kegiatan tersebut tentunya sangat membahayakan serta merugikan bagi pengemudi kendaraan besar. Juga pengendara kendaraan lainnya. Termasuk keselamatan anjal itu sendiri.

“Mereka jelas meresahkan masyarakat, membuat pemandangan di Kabupaten Batang juga terganggu. Pasti ada rasa takut dan sungkan kalau bertemu mereka,” kata Muhammad Masqon, Kepala Bidang Penegakan Peraturan Perundang-undangan Daerah Satpol PP Kabupaten Batang Senin (2/3/2020).

Baca juga:  Abirawa Jadi GOR Indoor Pertama di Batang

Ia juga menjelaskan jika fenomena tersebut muncul karena mereka mencari daerah yang dirasa aman. Berasal dari Kabupaten Batang dan luar daerah. Berdasarkan Perda Kabupaten Batang Nomor 2 tahun 2017 tentang Penanganan Pengemis Gelandang Orang Terlantar (PGOT), Satpol PP Batang bakal lebih tegas terhadap anjal.

Beberapa waktu lalu, tepatnya Jumat (28/2/2020) Satpol PP Batang telah menjaring 10 anak jalanan. Satpol PP Batang juga tengah merancang program pembuatan papan peringatan. Tujuannya saat anak jalanan meminta-minta, pengendara tidak mau lagi memberi mereka uang. Karena pemberi dan peminta-minta bakal dijerat pidana ringan.

“Pidana paling lama tiga bulan dan denda paling besar hingga Rp 50 juta. Sebelumnya kami juga pernah meciduk anak jalanan, ternyata dia masih mondok di Pekalongan, enam orang diantaranya cewek,” imbuhnya.

Baca juga:  Segera Bongkar, Akses Jembatan Peturen Ditutup

Ia juga menjelaskan bahwa Kabupaten Batang memiliki kendala tempat penampungan dari Dinas Sosial. Tempat penampungan tersebut tidak tersedia. Terpaksa anak-anak jalanan yang tertangkap dialihkan ke Dinas Sosial Semarang.

“Harapannya mereka dapat pembinaan mental, pendidikan keahlian, bisa bekerja dan bisa kembali ke masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, Dwi Nurklisman salah satu pengendara merasa was-was jika berjumpa anak jalanan tersebut. Saat mengendarai mobil maupun motor.

“Saat lampu merah, mereka grudug sana grudug sini mengejar truk tronton. Saya rasa itu kebanyakan dari luar daerah. Perlu ditertibkan itu, dari provinsi atau dari Batang,” ucapnya. (yan/zal/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya