Korban Dipaksa Sumbang Rp 500 Ribu

Modus Sok Kenal, Dalih Gelar Sunatan Masal

422
BUKTI: Kwitansi bukti pembayaran sumbangan dari salah satu korban. (IST)
BUKTI: Kwitansi bukti pembayaran sumbangan dari salah satu korban. (IST)

RADARSEMARANG.ID,  BATANG – Puluhan warga Batang dan Pekalongan dibuat geram dengan adanya penipuan sunatan masal yang dilakukan oleh LSM Barisan Rakyat Pantura (Barata). Para donatur kegitan tersebut pun merasa kecewa. Ada 24 orang yang telah mendaftar sunatan masal tersebut, hanya 12 orang yang hadir pada hari H di Gedung Korpri Batang Minggu (23/2).

Jawa Pos Radar Semarang mencoba mencari beberapa korban yang telah mendonaturi kegitan tersebut. Salah satu CV yang bergerak di bidang distribusi di Batang menjadi korbannya.
Salah satu pegawai kantor yang hanya ingin namanya diinisial EA menjelaskan, saat itu ada dua orang pria mendatangi kantorya. Kejadiannya pada 6 Desember 2019. Pada pegawai lain, mereka langsung mengonfirmasi telah ada janji dengan EA. Mereka bertingkah seolah mengenal dan telah akrab dengan korban.

“Mereka tahu nama saya, padahal saya tidak kenal mereka,” kata EA saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang Senin (24/2).
EA merasa bingung, dua orang tersebut bisa mengetahui namanya. Seolah telah merencanakan dengan matang. Tanpa basa-basi kedua orang itu pun menyodorkan undangan dan kwitansi. Menjelaskan bahwa akan diadakan sunatan masal dan pengajian pada Minggu (23/2). Menurutnya, keduanya berbicara secara halus, namun tidak memberikan celah untuk negosiasi.
“Tiba-tiba menyodorkan undangan dan satu undangan itu nilainya Rp 100 ribu. Kemudian dia bilang, ini pak EA diwajibkan untuk partisipasi sebesar Rp 500 ribu,” ucapnya.

Kedua orang tersebut langsung menuliskan nominal Rp 500 ribu di kwitansinya. Tanpa ada kompromi. Jelasnya, waktu meminta uang mereka hanya sekilas saja menjelaskan agenda yang dimaksud. Tidak detail. Pihaknya diberikan lima undangan untuk hadir di acara tersebut.”Mereka memaksanya secara halus tidak kasar. Seolah memaksa harus bayar Rp 500 ribu,” timpalnya.
Kejanggalan dirasakan saat mereka tidak meninggalkan nomor telepon, juga tidak ada konfirmasi kegitan tersebut lebih lanjut. Setelah mendapat uang, mereka mengucapkan terimakasih dan bilang akan lanjut ke tempat lain. EA menjelaskan kedua orang tersebut berperawakan tinggi. Usianya sekitar 37 sampai 45 tahun.

Sementara itu, Saputra, karyawan penyedia jasa penginapan kelas melati juga menjadi korban. Ia menjelaskan dua orang laki-laki mengaku dari LSM tiba-tiba datang ke kantornya pada Sabtu (8/2).

“Kami sempat memberikan sumbangan ke ormas itu, nominalnya tidak bisa kami sebutkan,” ujarnya.

Atas adanya kejadian tersebut, mereka menginginkan agar pemerintah atau dinas terkait mereview, perizinan ormas-ormas dan LSM. (yan/zal)

Tinggalkan Balasan