Petani Masih Kesulitan Pupuk

402
PANEN: Bupati Batang Wihaji saat melakukan panen raya padi jenis Membramo, Kamis (26/12) di Desa Harjowinangun Barat.(LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PANEN: Bupati Batang Wihaji saat melakukan panen raya padi jenis Membramo, Kamis (26/12) di Desa Harjowinangun Barat.(LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, BATANG – Petani di Kecamatan Tersono Kabupaten Batang, ternyata masih kesulitan pupuk dan bermasalah dengan saluran irigasi. Hal tersebut terungkap saat petani melakukan dialog dengan Bupati Batang Wihaji dan Dinas Pertanian setempat.

“Dalam dialog tadi (kemarin, red) memang hampir petani di Kecamatan Tersono yang hadir mengatakan mangalami kesulitan pupuk, dan saluran irigasi yang sudah rusak,” jelas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Batang Megayani Tamrin, melakukan panen raya padi jenis Membramo, Kamis (26/12) di Desa Harjowinangun Barat.

Namun hal tersebut tetap membuat rata – rata panen di wilayah Kecamatan Tersono dalam 1 hektare mampu panen sebanyak 6 ton padi dengan luas mencapai 1742 hektare, kalau rata – rata di Kabupaten Batang 1 hektare berhasil 5 ton padi. “Sepanjang tahun di Kabupaten Batang mampu surplus padi sekitar 180 ribu ton padi dari lahan persawahan mencapai 22.480 hektar, lahan bakunya sekitar 17 ribu hektare,” jelasnya

Dijelaskan pula, walaupun saat ini banyak alih fungsi lahan di Batang dari pertanian ke rumah tinggal cukup banyak, namun tidak begitu pengaruh yang signifikan. Sebab dengan adanya teknologi yang dulu setahun tanam dua kali sekarang bisa mencapai 2,5 kali. “Alih fungsi lahan yang mengalihkan rakyat sendiri ada tapi kalau diaturan RTRW tidak ada, sehingga tidak ada pengaruh,” jelasnya lagi.

Sementara itu terkait pemasalahan para petani, Bupati Wihaji mengatakan untuk masalah irigasi akan di bangun sesuai skala prioritas karena keterbatasan anggaran. Masalah kelangkaan pupuk Bupati akan koordinasi dnegan produsen. “Untuk irigasi, akan kami sesuaikan dengan skala prioritas dulu mengingat anggaran. Terkait pupuk, kami akan meminta penggantian disributor jika seringnya kelangkaan pupuk dan menaikan harga pupuk tidak sesuai dengan produsenya,” jelasnya.

Sementara itu, dalam panen raya padi tersebut, dilakukan untuk mengetahui perbedaan hasil panen antara yang yang diperlakukan dengan perawatan fungisida, pada lahan 1 hektare, ternyata terdapat selisih hasil mencapai Rp 4,5 juta rupiah perpanen. “Bagi petani, sekarang tidak kepingin yang rumit dalam bercocok tanam, terpenting efektif, efisien dan panenya banyak,” kata Wihaji. (han/bas)