Ngaturi Selamat setelah Loncat, Mugono Terseret 50 Meter

522
SAKSI MATA: Ngatuwi, kakak korban yang berhasil meloncat dan selamat menunjukkan lokasi adiknya tertabrak kereta api Joglosemarkerto saat hendak pergi memancing pada Selasa (3/12). (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
SAKSI MATA: Ngatuwi, kakak korban yang berhasil meloncat dan selamat menunjukkan lokasi adiknya tertabrak kereta api Joglosemarkerto saat hendak pergi memancing pada Selasa (3/12). (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, BATANG – Mugono, 65, tewas setelah tertabrak kereta api Joglosemarkerto jurusan Semarang Purwokerto pada Selasa  (3/12) sekitar pukul 09.10.  Lokasinya beerada di perlintasan tanpa pintu pengaman KM 47+9 Desa Bendosari, Kecamatan Gringsing.

Mugono bersama kakaknya, Ngatuwi, 70, sedianya akan memancing di Pantai Jodo mengendarai sepeda motor. Menurut pengakuan Ngatuwi sebenarnya Mugono sudah diperingatkan ada kereta dari arah timur. Tapi Mugono tetap menyeberang. “Saya sudah memperingatkan, tapi dia terus menerobos, saya sempat loncat,” ucap Ngatuwi.

Ngatuwi berhasil meloncat, karena dia dibonceng dan posisinya mudah untuk meloncat, sehingga selamat. Sementara Mugono tewas setelah motor Honda Grand dengan pelat nomor B-5738-TN terhantam dan terseret sekitar 50 meter. Warga RT 02 RW 07 Desa Sawangan, Kecamatan Gringsing ini,  tewas seketika dengan kepala hancur dan sepeda motor ringsek.

Kapolres Batang Edi S Sinulingga melalui Kapolsek Gringsing AKP Haryo Deko Dewo mengatakan, perlintasan tersebut memang rawan kecelakaan. “Perlintasan di Desa Sidorejo sangat rawan dan perlu pengamanan ekstra. Karena selain jalur kereta menikung dan terhalang bukit perlintasan itu juga akses menuju lokasi wisata Bale Kambang,” tegas Kapolsek.

Setelah kejadian, pihaknya langsung memerintahkan anggota Reskrim Bripka Hadi Purnomo untuk mengevaluasi korban dan membawanya ke RSI Weleri untuk divisum. Akibat kejadina tersebut almarhum Mugono meninggalkan seorang istri, 3 anak dan 4 cucu.

Kades Sidorejo Sumpeno menambahkan pada hari-hari tertentu, terutama saat liburan biasanya ada relawan dari warga sekitar yang menjaga dan menyeberangkan. Perlintasan di Desa Sidorejo selain tidak berpintu juga sulit dilewati karena rel agak tinggi dan banyak kerikil yang licin.

“Perlinatasan kereta di sini, selain tidak berpalang pintu juga licin. Karena banyak pasir. Makanya kami ingin pemerintah agar ada solusi, biar tidak ada kejadian seperti ini,” tandasnya. (han/zal)