alexametrics

Tradisi Nyadran Bentuk Rasa Syukur Nelayan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, BATANG – Sebagai bentuk syukur atas melimpahnya hasil laut masyarakat Klidanglor, Kabupaten Batang menggelar acara Pesta Nyadran. Selain melarung kepala kerbau di tengah laut sebagai simbol sesaji juga digelar hiburan musik dengan artis ibu kota.

“Tradisi nyadran merupakan kegiatan ritual tahunan sebagai wujud syukur atas nikmat Tuhan selama satu tahun. Larung kepala kerbau hanya sebagai simbolik, karena dalam bahasa Jawa itu kebo yang artinya kebodohan sehingga kita buang prilaku yang bodoh dari pemikiran masa lalu,” ucap Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Batang Teguh Tarmujo, saat ditemui di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) 1 Klidang Lor, Selasa (1/10).

Lebih lanjut jelas Teguh, berharap masyarakat nelayan Batang kedepan harus berprikiran maju untuk menghadapi tantangan kedepan. Sehingga masyarakat nelayan bisa melaut mencari ikan dengan aman, nyaman dan mendapatkan rizki yang berlimpah.

Baca juga:  Air dari Tukpitu Digunakan untuk Menyiram Bibit Durian

Diakui pula, tahun ini tangkapan ikan nelayan Batang sangat menurun drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Agar TPI juga tidak semakin turun perolehan ikannya, pihaknya selalu mendorong khususnya para pemilik kapal yang asli Batang itu untuk bisa melakukan bahkan melarang jangan sampai dilelang kan di luar kota atau di TPI lain selain Batang.

Kepala Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (Dislutkannak) Kabupaten Batang Batang, Sugiatmo, menambahkan memang sejak tahun 2019 ini banyak terdapat kendala yang menghambat pemenuhan realisasi PAD dari sektor perikanan, di antaranya karena faktor cuaca dan gelombang yang masih tinggi.

“Kami kesulitan memenuhi target retribusi TPI, dari target yang ditetapkan di 2019 sebesar Rp 5,1 miliar, hingga Juli kemarin baru terealisasinya Rp 1,8 miliar, sangat jauh dari harapan,” sesalnya.

Baca juga:  Belanja Diantar, Bayar Tunai di Rumah

Bupati Batang Wihaji mengatakan tradisi nyadran merupakan wujud syukur atas nikmat limpahan hasil laut kepada Allah, dan alam semesta dengan tetap menjaga budaya kearifan lokal.”Saya nyakin kalau kita selalu bersabahat dengan alam,” ujar Wihaji.

Terkait menurunya pendapatan daerah dari TPI, Bupati mengakui pula bahwa kendala cuaca menjadi maslah utama para nelayan. Walaupun selama ini, para nelayan Batang masih dimudahkan dnegan diperbolehkannya cantrang untuk berlayar. (han/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya