alexametrics

Awalnya Iseng, Kini Jadi Pundi-Pundi Rupiah

Christina Agustine, UMKM Tahu Bakso Udang Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Christina Agustine, 39, ibu rumah tangga ini memiliki inisiatif membuat camilan sehat untuk kedua anaknya. Menu kulinernya itu: tahu bakso udang. Siapa sangka, kini justru menjadi usaha rumahan yang menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Tiga tahun lalu, pada 2019, Christina Agustine ingin fokus mengurus anak. Salah satunya membuat makanan yang sehat dan bergizi untuk pertumbuhan buah hatinya. Setelah mencoba beberapa menu kuliner, akhirnya Christina membuat tahu bakso udang. Tak disangka, kedua anaknya, Luna dan Jordan, yang masih duduk di bangku SD sangat menyukai camilan tersebut. Dari situ, Christina berpikir untuk membuat lebih banyak tahu bakso udang, dan menyuruh keluarganya untuk mencicipi camilan tersebut. Ternyata pihak keluarga menyukainya, dan mendukung dirinya untuk dijadikan bisnis.

“Setelah mendapat dukungan berjualan dari pihak keluarga, akhirnya saya memutuskan untuk berjualan di area sekitar rumah. Jadi, targetnya itu tetangga saya, Mbak. Ternyata tetangga saya juga banyak yang suka. Jadi camilan ini tuh cocok untuk lidah semua kalangan, Mbak,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (10/8).

Ibu dua anak ini mengaku mulai merintis usaha tahu bakso udang sejak 2019. Christina mengaku camilan ini berbeda dari biasanya, sehingga ia melihat adanya peluang dari bisnis kecil-kecilannya tersebut.

Memasuki 2021, Erul Senduk, 36, suami Christina, terkena imbas pengurangan karyawan di perusahaannya akibat pandemi Covid-19. Dari situ, ia memutuskan untuk fokus berjualan tahu bakso udang bersama suaminya.

Baca juga:  Pemuda Asal Demak Ini Bertahan Hidup dengan Brand Tribal Cloth di Medsos

“Modal awal ketika memutuskan untuk berjualan dengan suami sekitar Rp 5 jutaan, Mbak. Itupun dari gaji terakhir suami saya yang masih harus saya bagi untuk modal belanja bahan baku dan kebutuhan sehari-hari,” kenangnya.

Christina menjelaskan, ketika memproduksi tahu bakso udang, harus memiliki dapur produksi. Kala itu, ia langsung membuat dapur produksi dengan pinjaman dana yang diberikan oleh pihak keluarga. Karena dirinya dan suami dinilai serius dalam menjalankan bisnis tersebut.

Bisnis ini hanya dikerjakan oleh Cristina dan Erul Senduk. Keduanya mengerjakan bisnis ini mulai dari belanja bahan baku, termasuk packing, terima orderan, dan pemasaran. Tapi sesekali mereka dibantu oleh keluarga ketika mendapat banyak pesanan.

Pada saat pandemi tahun lalu, Cristina menuturkan jika usahanya sangat ramai, karena semua orang tidak boleh keluar rumah, walaupun sekadar membeli makanan. Sehingga banyak orang yang memesan via online.

Dengan memanfaatkan akun sosial media (Instagram) untuk berbisnis, Christina mencoba mem-posting produk jualannya dengan menge-tag Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan menulis nomor WA (WhatsApp)-nya, kemudian di-repost di Lapak Ganjar. Selain itu, ia banyak mengikuti program pemerintah yang mempromosikan UMKM kecil. Dari situ, ia merasa usahanya berbuah manis. Mulai dari antusias netizen yang mencari produknya, sampai produksi yang terus meningkat.

Baca juga:  Puncak Telomoyo Disesaki Pemotor

“Mulai dari ikut program Pak Ganjar, yang bikin story tag beliau kemudian di-repost, hal itu menurut saya ngefek banget. Sehingga orderan semakin membludak dari wilayah Jawa Tengah, di antaranya dari Cilacap, Pati, Salatiga, Solo, Klaten, hingga orang-orang dinas jika ditanya bisa mengetahui tahu bakso udang ini dari mana, pasti dijawab dari promosi Instagram dan sering melihat stand saya di UMKM,” jelasnya.

Semakin terkenalnya bisnis tahu bakso udang ini, membuat orang-orang tertarik untuk menjadi reseller, khususnya warga Semarang, toko frozeen food yang meminta produknya untuk dijual di sana, dan kafe tempat nongkrong yang dijadikan sebagai salah satu menu camilan.

Tidak hanya itu, permintaan pun bertambah dari luar kota, seperti Jogjakarta, Bekasi, Bandung (Jabar), Jakarta, hingga Surabaya (Jatim). Christine mencontohkan, peningkatan usaha seperti adanya permintaan dari Solo dalam satu minggu mencapai sekitar 50 boks. Dari Cilacap juga bertambah. Semula hanya 10 boks per pekan, akhirnya menjadi 50-70 boks.

Sayangnya, tahu bakso udang ini tidak bisa dikirim terlalu jauh, karena dikhawatirkan tidak bisa bertahan lama. Produknya hanya bisa bertahan paling lama tiga hari. “Saya pernah mengirim paling jauh ke Kalimantan, dan itupun harus hand carry, Mbak,” katanya.

Baca juga:  Jateng Perketat Pengawasan Penumpang Bus

Tahu bakso udang yang diproduksi Christina terdapat berbagai macam varian. Di antaranya, ada tahu bakso udang kukus dan goreng dengan harga Rp 28 ribu- Rp 30 ribu. Selain itu, terdapat menu lain, seperti sempol ayam dengan harga Rp 20 ribu per sepuluh tusuk, dan udang keju dengan harga Rp 25 ribu isi lima.

Saat ini, ia belum memiliki toko offline dan masih fokus berjualan di media online. Alasannya, karena toko offline itu membutuhkan banyak modal, sehingga ia belum mampu untuk membuka lapak offline. Walaupun hanya berjualan via online, Christina dan suami mengaku mendapatkan omzet Rp 18 juta hingga Rp 25 juta per bulan, dan keuntungan bersih Rp 8 juta – Rp 9 juta.

“Keuntungan yang didapat dari berjualan tahu bakso udang, Puji Tuhan saya bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dan membayar pendidikan kedua anak saya. Sebelumnya sempat bingung karena saya kehilangan pekerjaan,” ucap suami Cristina sembari tersenyum.

Erul mengaku, jika ia dan sang istri ke depannya berniat menambah dapur produksi agar usahanya terus meningkat. Ia juga akan terus menambah varian menu baru, yaitu bandeng presto agar menu jualannya bisa dinikmati oleh semua kalangan, mulai anak-anak, remaja, sampai dewasa. (mg15/mg19)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya